Oleh: Early Rahmawati
Keterlibatan dunia pendidikan dalam menciptakan masyarakat yang kreatif melalui berkumpulnya para siswa atau mahasiswa dalam sebuah komunitas adalah salah satu pilar utama dalam membangun iklim inovatif dan kreatif di sebuah kota. Salah satunya dari berbagai diskusi yang telah diselenggarakan oleh Dewan Kota Surabaya (sebuah forum bagi individu maupun lembaga, baik pemerintah dan non-pemerintah, atau komunitas yang peduli terhadap permasalahan Kota Surabaya) yang menyimpulkan bahwa unsur penciptaan iklim kreatif tidak hanya bertumpu pada 3T (talent, technology, and tolerance) tapi juga trust. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Daniel Rosyid (Dosen ITS Surabaya) yang merupakan salah satu pakar pendidikan di Jawa Timur. Kepercayaan ini sangat penting dan dapat ditumbuhkan melalui adanya pendidikan yang baik bagi anak-anak muda, dimana adanya saling percaya tersebut juga akan bemanfaat jika dalam perjalanan kreatifnya nanti perlu dilakukan kerjasama atau kolaborasi antar komunitas untuk kepentingan bersama.
Dari situlah timbul ide agar Kota Surabaya memiliki pojok-pojok kreatif di ruang publik. Karena sejauh ini, kaum muda di Surabaya baik yang tergabung dalam komunitas atau tidak, belum mempunyai sarana yang cukup memadai dalam upaya menyalurkan potensi dan kreativitas mereka. Ajang-ajang untuk menunjukkan kebolehan kaum muda masih terbatas, khususnya dari kelompok masyarakat kurang mampu. Memang selama ini sudah ada kegiatan Car Free Day di beberapa ruas jalan setiap hari Minggu selama beberapa jam dan juga mulai banyaknya taman-taman kota yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas (temasuk untuk mengakses internet gratis di Taman Bungkul Surabaya misalnya), tetapi tetap saja untuk ajang diskusi dan ngobrol antar komunitas masih agak sulit dilakukan mengingat ruang terbuka sangat sangat ramai.
Adanya pojok-pojok kreatif (creative corners–CC) di beberapa sudut kota Surabaya nantinya harus diadakan dengan memanfaatkan aset yang dimiliki oleh Pemkot Surabaya atau masyarakat yang merasa tergugah untuk mendukung terwujudnya ide ini. Salah satu tempat yang mungkin bisa dijadikan ajang uji coba adanya CC ini adalah beberapa aset Pemkot Surabaya yang selama ini sudah sering dipakai untuk kegiatan seni oleh masyarakat umum, seperti Balai Pemuda Surabaya dan Gedung Cak Durasim.
Di sisi lain, sangat menarik jika ide memperbanyak perpustakaan dapat diwujudkan yang diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk gemar membaca dengan penyediaan sarana perpustakaan di berbagai sudut Kota Surabaya. Usaha ini juga sebagai sarana untuk mengumpulkan kaum muda Surabaya dengan menyediakan fasilitas yang memadai, murah, dan mudah untuk diakses.
Ajang pameran kreativitas dan penyediaan ruang publik semacam ini hendaknya tidak berhenti hanya di pusat kota, tetapi juga diperbanyak di wilayah pinggiran, karena tujuan utama adalah penyediaan pengetahuan dan pendidikan alternatif yang juga harus dapat dinikmati oleh kaum muda di kantong kemiskinan dan di pelosok Surabaya seperti di Kenjeran, Rungkut, Manukan, Dupak, Kebraon, dan wilayah lainnya.

Pojok-pojok kreatif ini juga sekaligus dijadikan pendidikan alternatif bagi mereka yang mempunyai bakat seni, budaya, dan juga teknologi, mengingat semakin mahalnya biaya pendidikan di kota yang mempunyai puluhan perguruan tinggi ini. Pojok kreatif juga dapat dijadikan sarana penyebaran kampanye anti narkoba atau anti seks bebas, misalnya dengan bekerjasama dengan lembaga-lembaga internasional yang bergerak pada isu yang sama. Dengan demikian tujuan penyediaan sarana pengembangan potensi positif akan tergali dan potensi negatif dapat diminimalisir.
Tentu tidak mudah mewujudkan ide-ide tersebut. Perlu pemahaman dan komitmen dari banyak pihak khususnya Pemerintah Kota Surabaya untuk dapat menyediakan sarana yang dibutuhkan dan model pengelolaan yang memadai agar CC ini mampu menjadi ajang kreativitas dan penemuan sekaligus pengasahan atas potensi yang dimiliki oleh kaum muda Surabaya. Pemkot Surabaya tidak dapat bekerja sendiri, dibutuhkan peran dari berbagai pihak untuk mendukung terwujudnya ide ini.
Dampak yang luar biasa kelak akan dapat dinikmati atas penemuan bakat-bakat terpendam kaum muda Surabaya di bidang seni (musik, lukis, patung, vokal, tari, teater), bisnis (melalui pameran, pengelolaan café, penyewaan buku bacaan, penyediaan warung internet, dsb), mengasah intelektual (adanya perpustakaan, ajang diskusi, lomba karya ilmiah) atau juga penyelenggaraan workshop-workshop handicraft (seperti membatik, membuat keramik, atau membuat jenis handicraft lainnya) yang kalaupun ada biayanya akan diupayakan semurah mungkin.
Seiring dengan bergulirnya ide tersebut yang hingga ini belum dapat diwujudkan sepenuhnya di Kota Surabaya, ternyata berbagai komunitas juga mempunyai peran yang sangat besar dalam menciptakan sebuah atmosfir kreatif dan inovatif. Celah dimana masih terbatasnya ruang publik untuk mengekpresikan potensi anak muda di Kota Pahlawan ini ditangkap oleh sebagian pelaku komunitas yaitu diantaranya mereka yang sering berkumpul di c2o Library (sebuah perpustakan yang terletak di pusat kota Surabaya, http://c2o-library.net) yang sering mengadakan berbagai kegiatan seperti Festival Komik (bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Perancis), acara DIY (Do It Yourself) design, bedah buku, pemutaran film dan berbagai kegiatan lain, yang membuat berbagai komunitas berkumpul dalam berbagai kegiatan tersebut. Dari berbagai acara kumpul-kumpul sejak sekitar 2009, kemudian digagas sebuah platform komunitas, Ayorek! (Rek dari kata arek yang khas Surabaya, artinya ayo teman-teman) pada bulan Maret 2011. Komunitas ini bertujuan untuk menghubungkan dan memberi ruang bagi berbagai komunitas (atau lembaga) dan individu untuk sharing berbagai informasi dan pengalaman masing-masing, memudahkan akses informasi, menumbuhkan iklim kreatif, memperluas jaringan local dan global, termasuk memfasilitasi produksi pengetahuan serta ide dan kapasitas mereka (lebih lengkapnya bisa membuka website: www.ayorek.org).

Salah satu kegiatan utama platform komunitas ini adalah Cangkruk (atau berkumpul untuk mengobrol), yang merupakan ajang untuk saling berbagi informasi tentang aktivitas masing-masing komunitas di Surabaya. Cangkruk #1 diselenggarakan pada 21 April lalu, bertempat di Orange House Studio di Jl. Kampung Malang Kulon I/3 Surabaya. Diantara kepadatan kampung itulah, diskusi seru berlangsung antar anak muda. Cangkruk #1 menghadirkan presentasi dari pengelola website www.surabayafood.com yang memberikan informasi berbagai kuliner di Surabaya, juga presentasi dari Gunawan Tanuwijaya (Dosen Jurusan Arsitektur UK Petra Surabaya) yang sering mengadakan riset tentang desain berkelanjutan, serta kota dan kampung yang berkelanjutan. Ada juga Kelompok Studi Kinetik yang merupakan penggiat aktivitas multimedia dan audio visual. Mereka mencoba mengangkat fenomena sosial. Kemudan Manic Street Walkers, klub yang mengajak masyarakat untuk mengenal dan menikmati Surabaya dengan berjalan kaki. Dan juga tidak ketinggalan tuan rumah, Orange House Studio, yang salah satu kegiatannya adalah menyelenggarakan kegiatan budaya dan desain di kampung-kampung, serta Taman Nada, merupakan sebuah kumpulan penikmat musik yang mencoba menciptakan karya-karya dari kehidupan sehari-hari.
Dari kegiatan semacam Cangkruk dan adanya pojok-pojok kreatif (mudah-mudahan segera terwujud), Surabaya pelan-pelan mulai membangun kehidupan yang beratmosfir kreatif bagi warganya. Dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah kota, apakah mereka kelak lebih peduli akan kebutuhan masyarakatnya untuk berinteraksi di ruang publik yang lebih layak? Karena memang tidak bisa dipungkiri sejauh ini tempat yang cukup representatif bagi para komunitas untuk berkumpul masih sangat terbatas, seperti c2o Library, Pusat Kebudayaan Perancis, dan juga beberapa tempat yang masih bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Padahal kalau kita melihat rasio jumlah penduduk Kota Surabaya sebanyak 3 juta jiwa, dibutuhkan ruang publik yang lebih banyak, dan tentu saja jangan lagi-lagi di mal atau pertokoan yang dijadikan pusat aktivitas warga.
Ke depan, tantangan menjadikan Surabaya sebagai kota kreatif tentu tidak hanya sebatas memberikan ruang publik yang nyaman dan representatif, tetapi juga adanya kebijakan yang jelas agar iklim kreatif lebih banyak tumbuh dengan melibatkan berbagai komunitas, termasuk di dalamnya pemanfaatkan bangunan cagar budaya agar lebih dapat dikenal secara luas oleh masyarakat. Nantinya, diharapkan agenda kota akan dapat lebih bervariasi dan menarik dengan berbagai kegiatan yang lebih beragam dari para komunitas tersebut, tidak hanya seperti yang selama ini disebarluaskan melalui: www.spraklingsurabaya.info saja, yang mana agenda tersebut diorganisir oleh Pemerintah Kota Surabaya. Sehingga kota yang sekarang mulai banyak dipenuhi taman kota ini juga akan membuat lebih banyak lagi turis lokal maupun mancanegara untuk datang dan menikmati Kota Surabaya.
Semoga !










