Teks dan Foto : Tri Damayantho
Cimahi – Gedung dengan arsitektur modern itu tampak sepi, banyaknya sepeda motor dan beberapa mobil yang terparkir di halaman kecil beraspal, terasa kontras dengan suasana di pintu masuk gedung lima lantai tersebut. Pintu masuknya pun seperti tersembunyi, tidak tampak satpam maupun resepsionis seperti layaknya gedung-gedung besar di Jakarta. Jika orang yang baru pertama kali datang kemari, niscaya akan membalikan badan dan pergi.

Gedung modern dan baru itu bernama Baros Information Technology Creative (BITC) yang diresmikan pada 27 Desember 2010 oleh Menkominfo Tifatul Sembiring. Lantai dasar hingga lantai 3 boleh jadi kosong, tetapi di lantai 4 ada sebuah komunitas yang bergeliat di Kota Tentara ini, bernama Cimahi Creative Association. Cimahi Creative Association (CCA) ini merupakan perkumpulan pelaku industri kreatif di Cimahi, yang pengurusnya dilantik oleh Walikota Cimahi Ir. H. M. Itoc Tochija, MM., pada Tanggal 28 Oktober 2009. Saat ini CCA diketuai oleh Rudy Suteja, yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur baros Creative Partner.
BITC adalah ikon dari kota Cimahi, yang menjadi konsep dari Pemkot Cimahi untuk menjadikan Baros sebagai pusat kegiatan kreativitas berskala nasional maupun international. Gedung yang rencananya akan difasilitasi dengan ruang layanan publik ini sudah mulai menyelenggarakan kegiatan sejak awal tahun 2011. Kegiatan yang diselenggarakan bekerjasama dengan beberapa instansi lain, baik dari pemerintah maupun swasta. Salah satunya kegiatan adalah “Technopreneur Camp” pada bulan Juli lalu dalam rangka peringatan HUT ke 10 kota Cimahi. Pada kegiatan ini CCA bekerja sama dengan BPPT menyelenggarakan kegiatan yang bertema “Menumbuh kembangkan wirausaha baru berbasis teknologi kreatif”. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menindaklanjuti hasil-hasil kreativitas berbasis teknologi kreatif dari para inovator, inventor maupun kreator di Kota Cimahi agar produknya bisa dikomersialkan.
Selama bulan puasa ini, CCA tidak berhenti berkegiatan, seperti yang disebutkan oleh Rudy Suteja sebagai ketua dari CCA ini, ada 3 program yang akan berjalan. Pada awal bulan puasa diselenggarakan workhsop batik, dimana para peserta yang notabene para pelajar SMK dan remaja diberikan pengetahuan mengenai batik baik dari teknik maupun sejarahnya.
“Walaupun potensi dari kota Cimahi ini adalah dibidang animasi dan telematika, tetapi kami tidak melupakan subsektor industri kreatif yang lain, seperti kerajinan, mengingat Indonesia akan menjadi tuan rumah batik dan batik sendiri sudah menjadi warisan budaya dunia, dan workshop ini adalah inisiatif dari CCA atas respon tersebut” jelas Rudy Suteja, saat ditemui di BITC, Cimahi.

Pada minggu ini sedang diselenggarakan pelatihan Augmented Reality yang merupakan kerjasama dengan Badan Penanaman Modal Kota Cimahi dan Cimahi Creative Association. Selain itu juga akan dieselnggarakan Pelatihan Internet Sehat bagi para pengusaha Warnet atau Pengelola Warnet. Kegiatan yang didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga ini adalah bebas biaya alias gratis, tetapi tempat sangat terbatas, mengingat terbatasnya fasilitas yang tersedia.
Selain berkegiatan, kemampuan anak-anak muda di CCA ini tidak bisa dipandang remeh. Dengan kemampuan teknis dan daya serap yang tinggi mereka sudah terlibat dengan proyek-proyek besar, antara lain sebagai animator. Sudah lebih dari 1000 pelaku industri kreatif yang diwadahi oleh CCA dan 400 diantaranya berpotensi tinggi, dengan kemampuan yang dapat bersaing secara global.
“Banyak jebolan dari CCA ini yang di”bajak” oleh perusahaan-perusahaan di luar Cimahi, hal ini tentunya akan menyulitkan CCA untuk berproduksi dan mengembangkan konsep film animasi secara mandiri” jelas Rudy.
Saat ditanya apa yang menyebabkan CCA dapat berkembang dengan cepat, Rudy Suteja menjelaskan bahwa dukungan dari pemerintah kota sangat penting. Mungkin baru Kota Cimahi yang menyediakan fasilitas gedung khusus untuk industri kreatif, yaitu BITC, dan gedung itu merupakan bukti nyata dimana fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dapat mendorong dan mempercepat pertumbuhan industri kreatif.
Sejak 2009, Pemerintah Kota Cimahi sudah menyadari hal tersebut. Cimahi, yang dikenal juga sebagai Kota Tentara (karena di kota ini banyak pusat pendidikan untuk tentara) pada awalnya adalah bagian dari kabupaten Bandung, yang kemudian pada tahun 1976 ditetapkan menjadi kota administratif, memiliki 3 kecamatan dan 15 kelurahan. Kemudian pada tahun 2001 Kota Cimahi dijadikan kota otonom, perubahan status ini merupakan modal utama dari kota yang berpenduduk lebih dari 400.000 jiwa ini untuk menggali potensi kota terutama sumber daya manusianya.[]













