Teks: Early Rahmawati
Banyak faktor yang membuat sebuah kota dapat dikatakan sebagai kota yang kreatif. Beberapa faktor yang dapat kita pertimbangkan untuk mengukur sebuah kota termasuk kategori kota kreatif menurut Charles Landry dan Jonathan Hyams, selain adanya spot kreatif di berbagai sudut kota, kalangan terdidik yang sadar untuk mengekspresikan ide dan kreativitasnya, serta pemimpin dan kebijakan yang memberi ruang bagi terbukanya kemudahan mengembangkan berbagai industri kreatif, adalah adanya pengaturan kewilayahan serta adanya toleransi dan aksesibilitas termasuk bagaimana agar para penghuni kota dapat melakukan perjalanan secara mudah dan murah serta nyaman.
Ya, menjadikan sebuah kota menjadi kota yang kreatif berarti tidak hanya menciptakan berbagai kondisi agar iklim kreativitas dan inovasi muncul, tetapi juga menyangkut penyediaan infrastruktur yang layak sehingga membuat para penduduk kota menjadi nyaman untuk berinteraksi, beraktivitas, dan bergerak kemana saja. Beberapa kota di Indonesia telah ‘dianggap’ sebagai kota kreatif, misalnya Jogja, Bandung, atau Solo. Penilaian tersebut didasarkan pada banyaknya eventt yang diselenggarakan di sana, baik menyangkut pertunjukan budaya dan adanya iklim kreatif berupa spot-spot di mana berbagai unsur masyarakat dapat berbaur dan saling berinteraksi serta berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dilakukan. Tetapi, selain adanya berbagai kondisi tersebut, pernahkah kita sedikit merasakan adanya ketidaknyamanan ketika berbagai eventt itu berlangsung, seperti kemacetan yang disebabkan oleh banyaknya mobil yang cuma berisi satu dua orang di jalan raya, sampah yang bertebaran di mana-mana dan juga adanya polusi yang luar biasa?
Kalau kita bandingkan dengan kondisi kota-kota kreatif di luar Indonesia seperti Berlin, Budapest, London, Amsterdam atau Kopenhagen dengan jumlah penduduk yang mungkin tidak jauh beda dengan Bandung atau Jogja misalnya, rasanya kita masih kalah jauh dalam hal kenyamanan, khususnya dalam hal bagaimana proses mobilitas penghuninya untuk bekerja, bersekolah, atau ketika terjadi event yang sangat besar sekalipun. Tampak sekali kota-kota besar di luar Indonesia itu memang telah menyiapkan wilayah kotanya sedemikian rupa sehingga ketika kota tersebut menjadi ramai dan dijadikan tuan rumah sebuah event besar mereka siap menyediakan infrastruktur yang memadai, yang membuat para penghuninya atau para pendatangnya tidak merasa sumpek atau mengeluh karena sulitnya mengakses tempat event berlangsung, misalnya. Adanya kereta bawah tanah, pedestrian yang nyaman atau jalur pengendara sepeda yang dapat dijangkau, adalah contoh-contoh yang dapat ditiru, meskipun ada beberapa kondisi di mana wilayah Indonesia dengan curah hujan yang tinggi dan suhu udara yang tinggi agak menyulitkan untuk selalu beraktivitas di ruang yang terbuka.
Ini adalah pekerjaan rumah yang sangat besar di Indonesia, khususnya bagi para pejabat publik yang telah dipercaya sebagian masyarakat untuk mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Ya, memang harus ada political will yang kuat agar pengaturan kewilayahan dan pembuatan sistem transportasi massal menjadi agenda utama, ditambah lagi dengan tingginya pertumbuhan penduduk di Indonesia. Selain itu tentu juga harus mulai dipikirkan bagaimana agar penghematan energi di kota-kota juga harus dipikirkan, agar semakin tidak banyak lagi listrik digunakan. Jika sangat boros, tentunya ini akan merugikan banyak pihak. Bayangkan jika mal-mal di kota-kota besar di Indonesia itu ternyata menyedot penggunaan listrik yang luar biasa, padahal bisa jadi jumlahnya hampir sama pengeluarannya jika listrik tersebut dipakai untuk penerangan kota-kota kecil atau kampung-kampung kecil yang belum teraliri listrik. Selain itu isu hemat energi minyak juga harus mulai digaungkan di banyak kota di Indonesia, selain untuk menghindari macet (karena murahnya BBM sehingga orang menengah ke atas di Indonesia cenderung menggunakan motor dan mobil dibanding naik kendaraan umum) kita perlu juga mengkampanyekan pola hidup sehat di semua kalangan dengan menyediakan jalur khusus sepeda yang dapat menjadi alternatif berkendara di tengah ruwetnya kondisi transportasi di kota-kota besar di Indonesia.
Meskipun memang membutuhkan upaya yang sangat luar biasa besar agar kenyamanan dapat dinikmati banyak pihak dari berbagai lapisan masyarakat, adanya transportasi massal dan nyaman di kota-kota di Indonesia harus diciptakan. Karena tidak ada gunanya sebuah kota menjadi yang kreatif dengan orang-orang kreatif dan inovatif di dalamnya jika proses berbagi antar mereka yang kreatif tersebut tidak difasilitasi dengan baik oleh kota dan juga pemerintahnya, dengan menyediakan infrastruktur yang memadai. Kita tidak mau bukan, jika misalnya ada banyak event di Bandung (yang biasanya diselenggarakan saat akhir minggu) kemudian karena buruknya pengaturan wilayah dan jalur transportasi, akhirnya terjadi macet di mana-mana akibat banyaknya pendatang yang liburan di Bandung dan bahkan penghuni aslinya sendiri jadi malas berinteraksi keluar rumah? Dan jika kondisi tidak nyaman tersebut terjadi hampir setiap weekend, di mana harusnya orang bisa menikmati akhir minggu dan juga waktu untuk mengekpresikan hobi dan kesukaannya yang sebenarnya berpotensi mengasah kreativitas, masih layakkah Bandung disebut sebagai kota kreatif ? Well, hanya mereka yang sering merasakannya yang dapat menjawab pertanyaan ini. Tentu saja pertanyaan yang sama juga dapat dilontarkan kepada kota Jogja, Solo atau bahkan Jakarta sekalipun, yang sebenarnya sangat berpotensi menjadi metropolitan kreatif di masa mendatang.
Akhirnya, kota kreatif memang sangat membutuhkan sebuah kondisi di mana kepedulian terhadap nasib orang banyak harus lebih diperhatikan dibanding segelintir orang. Dan tentu saja kita harapkan pemerintah kota-kota di Indonesia lebih memperhatikan hal ini karena bagaimanapun kreativitas tidak hanya menyangkut masalah ide dan pengembangannya, tetapi juga iklim yang diciptakan agar aksesibilitas yang memungkinan ide kreatif itu muncul, juga mudah untuk dijangkau dan ditemukan melalui proses interaksi secara nyaman, termasuk dalam hal bagaimana mobilitas itu dapat difasilitasi secara layak. Dan hal ini bukan mustahil tercapai jika ada kemauan untuk menciptakannya.
Salam kreatif!










