Oleh : Bastian Simarmata (staf Peneliti Ekonomi Kreatif)
Berdasarkan sejarahnya kota merupakan wadah menampung budaya dan peradaban serta sebagai tempat menghasilkan kesejahteraan (pendapatan) bagi warganya. Semakin berkembangnya sebuah kota akan terdapat pergeseran paradigma dalam pengelolaannya hingga mendorong sepenuhnya bakat dan kreativitas yang dimiliki suatu kota. Karakteristik umum yang terdapat pada kota yaitu masyarakat yang heterogen disertai derajat individualistis diantara masyarakatnya, daya saing tinggi serta cenderung materialistik, profesi beragam dengan bermunculan lapangan pekerjaan baru, serta masyarakat yang berpikiran terbuka terhadap hal-hal baru (open minded). Berdasarkan karakteristiknya, kota adalah tempat yang mendukung bagi keberlangsungan industri kreatif dan tumbuh kembangnya ekonomi kreatif, sehingga dikenal istilah kota kreatif.
Kota kreatif bukan hanya dimaknai sebagai tempat yang memiliki nilai seni saja tetapi bermakna lebih luas lagi. Sebuah kota kreatif akan melakukan identifikasi, pemeliharaan, penarikan serta menopang ide-ide dan bakat-bakat yang ada di kota tersebut kemudian memobilisasi ide dan bakat tersebut dengan komunitas kreatif hingga mampu menanamkan budaya serta memberikan inspirasi kreatif bagi masyarakatnya dalam bentuk industri kreatif. Kota kreatif harus terbuka (tolerance) terhadap pendatang baru yang menyesuaikan diri secara harmonis, serta memiliki fleksibilitas budaya. Bentuk kota kreatif bukanlah kota yang konservatif namun bentuk kota yang memiliki stabilitas sosial yang cukup sehingga tercipta keragaman yang membangkitkan kreativitas dalam berbagai bentuk.
Dalam menciptakan kota kreatif diperlukan infrastruktur yang mendukung, tidak hanya berupa hard infrastructure (bangunan, jalan atau terminal) tetapi juga dikombinasikan dengan soft infrastucture, yang berperan menghasilkan aliran ide/gagasan sehingga mendorong berbagai penemuan-penemuan. Lingkungan kreatif dapat berupa bangunan, jalan daerah, kota atau wilayah yang menghubungkan antara ruang-ruang kota yang tersedia dengan modal budaya sehingga mampu menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia.
Menurut pendekatan Florida, kota kreatif bergantung pada kreativitas orang-orangnya dalam menciptakan pekerjaan baru bukannya terpaku pada perusahaan dan industri utama yang telah ada. Sehingga, peraturan yang berlaku di suatu kota harus mendukung berbagai jenis bisnis kreatif yang mengalirkan ide dan pekerjaan baru. Pertumbuhan suatu kota diawali dengan menarik orang-orang kreatif, tidak saja sekedar menarik perusahaan asing masuk. Pembangunan ekonomi kedepan berkaitan dengan penciptaan keterbukaan terhadap perbedaan, keragaman, dan perubahan lainnya. Kota dibangun sebagai kombinasi antara sejarah dan struktur modern, transportasi publik yang baik, restoran, musik dan tempat hiburan. Kebutuhan ini pula mempengaruhi bagaimana desain arsitek bangunan yang merangsang kreativitas.
Beberapa pelajaran menarik yang dapat digunakan sebagai model pengembangan kota kreatif berdasarkan kota-kota kreatif lainnya diberbagai negara:
1. Disonansi Kreatif (creative dissonance)
Konflik (chaos) tentu tidak diharapkan masyarakat mana pun. Namun, sejarah dunia mencatat bahwa tidak ada masyarakat yang bebas konflik, dimana semua era besar selalu dipenuhi dengan konflik dan kekacauan. Kita sebaiknya tidaklah terlalu takut terhadap konflik (chaos) tersebut namun melihatnya sebagai potensi kekuatan kreatif. Dengan mempelajari bagaimana hidup bahagia dengan konflik akan mengubah disonansi menjadi sumber inspirasi kreatif.
2. Toleransi terhadap Keragaman sebagai seni
Lebih dari ratusan tahun lalu Athena termasuk kota paling kreatif, periode tersebut berlangsung selama 100 tahun ketika masyarakat Athena membuka kedatangan imigran asing yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bila kita bertujuan untuk mendorong pembangunan berkesinambungan terhadap ekonomi kreatif maka rencana strategis yang harus dirancang yaitu menarik bakat kreatif dari seluruh dunia untuk datang dan menghasilkan karya kreatif.
3. Jaringan Kreatif
Paris menarik seniman dari seluruh dunia karena memiliki pasar seni yang kuat. Namun, untuk menciptakan produk berkualitas tinggi yang menarik perhatian pasar membutuhkan waktu puluhan tahun. Inspirasi kreatif tidak hanya datang dari modal tetapi memerlukan dukungan jaringan kreatif. Indonesia mungkin tidak memiliki pasar seni sekuat Paris. Namun, pemerintah dapat mempromosikan jaringan kreatif yang mendukung para seniman sehingga mereka memiliki cukup dukungan emosional dan keuangan.
4. Keseimbangan dari konflik
“Konflik” tidak dapat disangkal merupakan sumber kreativitas. Namun, konflik yang baik harus didasarkan pada kenyataan, terlalu banyak konflik yang tidak didasarkan pada realitas dapat menyebabkan akhir yang sama seperti yang terjadi di kota Berlin ketika rezim kediktatoran mendominasi masyarakat. Menariknya, kota-kota kreativitas paling dikagumi yaitu Athena dan Florence (1400-1500) mampu untuk menyeimbangkan semua konflik kekerasan, setidaknya selama periode utama mereka.
Atribut yang harus tersedia di kota kreatif yaitu fasilitas seperti perbankan, pertokoan, restoran beserta tempat-tempat hiburan, fasilitas pendidikan (berupa sekolah, kampus dan tempat kursus), ruang publik yang bisa diakses dan sistem transportasi yang baik. Faktor penting lainnya yaitu mengembangkan kota dengan kombinasi nilai sejarah kota dan struktur modernnya. Selain itu visi dari pemimpin kota untuk menumbuhkan kreativitas, operasi bisnis dan tempat tinggal serta mempromosikan kebudayaan lokal sebagai sumber inspirasi dan kreativitas. tidak hanya melibatkan satu kelompok kreatif untuk menciptakan kota kreatif melainkan upaya bersama antara pemilik ruang, masyarakat, pemilik usaha di dalam dan luar daerah.
Lembaga dunia yaitu Unesco menetapkan kriteria bagi kota yang memenuhi syarat sebagai Jaringan Kota Kreatif. Sebuah kota harus memasukkan kegiatan yang mendorong kreativitas melalui bioskop (Film), Musik, Kerajinan dan Kesenian Rakyat, Desain, Media Seni, Sastra, dan Keahlian Memasak. Setiap kota kreatif harus memiliki pengetahuan dan karakteristik yang unik, latar belakang sejarah yang mencerminkan akar budaya dan penyelengaraan yang menciptakan interaksi berkelanjutan antara kota dan warganya. Berbagai kota di belahan dunia dipilih Unesco sebagai kota kreatif yang memiliki karakteristik dan keunikan yang luar biasa, seperti:
• kota musik: Glasgow (Skotlandia), Sevilla (Spanyol), Ghent (Belgia) dan Bologna (Italia)
• kota media seni: Lyon (Perancis)
• kota perfilman : Bradford (Inggris) dan Sydney (Australia)
• kota kuliner: Chengdu (China), Östersund (Swedia) dan Popayan (Kolombia)
• kota sastra: Dublin (Irlandia), Edinburg (Skotlandia), Iowa City (USA) dan Melbourne (Australia)
• kota desain: Berlin (Jerman), Buenos Aires (Argentina), Kobe dan Nagoya (Jepang), Montreal (Kanada), Saint-Etienne (Perancis), Seoul (Korea), Shanghai dan Shenzhen (China)
• kota kerajinan dan seni rakyat: Aswan (Mesir), Incheon (Korea Selatan), Kanazawa (Jepang) dan Santa Fe (USA)
Disamping itu terdapat ukuran terhadap Indeks Kreativitas suatu kota (Florida), yang berupa campuran dari empat faktor tertimbang yaitu; jumlah kelas kreatif dari total angkatan kerja, industri berteknologi tinggi, inovasi dari hak paten per kapita, dan keragaman suatu daerah diukur dengan Indeks Gay dan Bohemian sebagai proxy untuk keterbukaan daerah. Charles Landry dan Jonathan Hyams mengembangkan Creative City Index untuk mengukur seberapa imajinatif suatu kota dengan menggunakan sepuluh indikator kreativitas, yaitu:
1. Politik & Organisasi Publik
2. Kekhasan, Keragaman, Vitalitas dan Ekspresi
3. Keterbukaan, Kepercayaan, Toleransi & Aksesibilitas
4. Kewirausahaan, Eksplorasi & Inovasi
5. Kepemimpinan, Kelincahan, & Visi
6. Bakat & Fasilitas untuk Belajar
7. Komunikasi, Konektivitas dan Jaringan
8. Kewilayahan dan Pembangunan
9. Kesejahteraan
10. Profesionalisme & Efektivitas
Perkembangan kota kreatif pada akhirnya akan dijalankan oleh warga kotanya yang berperan utama dalam mengembangkan identitas kota mereka. Peran warga kota tersebut akan menentukan identitas yang membedakan dengan kota lainnya. Kreatifitas warga kota dalam membangun kota mereka harus didukung oleh kondisi yang mendukung tumbuh kembangnya kreatifitas. Kesuksesan sebuah kota itu sendiri bergantung dari penentuan identitas dan karakter sebuah kota yang menghasilkan beragam karya kreatif.












