Teks: Yogi RY
Foto: Syafi’udin
Selain dikenal sebagai tujuan wisata, Bali disebut-sebut sebagai pusat kreativitas. Faktanya, di daerah ini barang-barang bekas yang terlihat seperti sampah bisa disulap menjadi produk kreatif yang disukai wisatawan asing, misalnya produk furniture antik yang didaur-ulang dari bahan-bahan kayu, termasuk dari bangkai perahu.

Indonesia sangat kaya akan barang-barang antik. Setiap daerahnya memiliki ciri khas dan motif bernilai seni tinggi. Salah satu jenis barang antik yang kerap menjadi incaran pencinta seni adalah perabotan rumah atau furniture tradisional. Para pencinta seni menilai bahwa furniture tradisional Indonesia memiliki penampilan yang mewah dan tidak pasaran. Di Indonesia, barang-barang seperti ini sudah langka ditemui di perkotaan. Orang yang menyukai barang semacam ini akhirnya memilih berburu ke desa-desa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan harga yang sangat murah karena pemiliknya tidak membutuhkan lagi atau dianggap sudah kuno.
Bagi pencinta seni, furniture antik biasanya dipakai untuk menghias atau memperindah ruangan. Mereka menilai perabotan rumah antik terlihat lebih dekoratif. Sebenarnya ada banyak jenis, gaya, dan ukuran furniture tradisional khas Indonesia yang bisa memenuhi selera seni penggemarnya. Misalnya, kursi, meja, lemari, laci, bingkai jendela, pintu, ranjang, atau hanya hiasan rumah. Kebanyakan terbuat dari kayu berusia puluhan tahun, tidak hanya dalam bentuk utuh, tetapi bisa juga hanya potongan-potongan yang kemudian direka ulang (recycle).
Di Bali, bermacam furniture dan perabotan antik bisa ditemukan di beberapa tempat. Namun yang paling populer berada di kawasan Jalan Tangkuban Perahu, dan Kerobokan, yang lokasinya berdekatan, tak jauh dari Kuta dan Denpasar. Di sana banyak gerai mebel antik atau tradisional yang menjual dengan harga yang layak dan kerap diburu para pembeli dari beberapa belahan dunia, terutama dari negara-negara Eropa, selebihnya dari Jepang, Australia, dan Malaysia.

Menariknya, gerai-gerai yang menjual furniture antik di Jalan Tangkuban Perahu dan Kerobokan tersebut kebanyakan berasal dari barang atau furniture bekas, yang terlihat sudah tua dan dianggap “sampah” bagi pemiliknya. Namun dengan kreativitas dan ketekunan para pengrajin setempat, furniture bekas tersebut disulap menjadi furniture yang antik dan menarik. Bahkan, para pengrajin di gerai-gerai kawasan ini tidak hanya menjual, tetapi juga menerima pesanan sesuai model yang dinginkan pelanggan. Para pengrajin yang bisa mengkombinasikan kayu lama dengan kayu baru yang menghasilkan perabotan antik. Bahan baku kayu yang digunakan biasanya dari Jawa, seperti dari Probolinggo, Situbundo, Surabaya, Jepara, Yogyakarta, dan Solo. Ada juga bahan bakunya didapatkan dari potongan kayu perahu bekas yang usianya sudah mencapai puluhan tahun. Karena kebetulan Bali memiliki kawasan perairan, dan banyak bahan baku tersebut didapatkan dari para nelayan.
Sebuah gerai furniture dan perabotan antik di Jalan Tangkuban Perahu bernama Dhita Antique Furniture, banyak mendatangkan barang-barangnya dari Jawa. Gerai ini terlihat mirip gudang sederhana. Tapi di sana ada ratusan furniture dan perabotan yang dijual. Pemiliknya pasangan suami istri: Kacung Prayinto dan Sittia, asal Situbondo (Jawa Timur). Mereka dulunya hanyalah pemasok mebel antik di kampungnya. Namun, pada tahun 2001, Kacung dan Sittia memberanikan diri menjual langsung barang-barangnya dengan membeli lahan usaha di Jalan Tangkuban Perahu.
“Dulu kami mengirim barang-barang dari Situbundo ke Bali. Seminggu bisa tiga kali mengirim ke sini. Ada juga pembeli yang datang langsung ke Situbondo, seperti dari Italy, Australia, dan Malaysia. Karena banyak yang berminat, akhirnya kami memutuskan pindah ke Bali untuk berjualan secara langsung atas saran seorang sahabat yang kini sudah meninggal dunia,” jelas Sittia mengungkapkan alasannya berjualan mebel antik di kawasan Jalan Tangkuban Perahu.

Sittia mengakui, sejak memulai usahanya, beberapa pencinta barang antik sudah menjadi langganan, baik membeli untuk dibisniskan lagi, maupun sekedar untuk koleksi pribadi. Menurut Sittia, usaha penjualan meubel dan perabotan antik sejauh ini masih stabil, termasuk pasca bom Bali 2007. Kejadian tersebut seolah tak berpengaruh pada transaksi penjualannya.
“Mencari barangnya susah-susah gampang sih. Kami mencarinya sampai ke desa-desa. Perabotannya sudah tua sekitar puluhan tahun. Saya pun sempat kaget, ada yang berminat beli rumah tradisional bekas. Saya jual 65 juta rupiah. Silahkan lihat, rangkaian dan potongan rumahnya masih saya simpan, nanti mau diambil oleh pembelinya,” ujar Sittia sambil memperlihatkan rangkaian dan potongan rumah yang teronggok begitu saja di luar gerainya.
Beberapa mebel tua seperti kursi, meja lemari, ranjang, dinding rumah, bingkai jendela, dan pintu, serta rak buku merupakan item barang paling banyak dan paling umum dijual di gerai-gerai Jalan Tangkuban Perahu. Namun, koleksi di gerai milik Sittia ini lebih lengkap. Dia berani menjual barang-barang tua lainnya, seperti mesin jahit, petromak (semacam lampu minyak pompa tradisional), joglo (atap rumah khas Jawa), dan Penebeng (tempat tidur mirip bangsal berukiran Jawa), sampai kaleng kerupuk berbentuk kubus.

“Selain berbahan kayu jati, kami juga menjual kursi-kursi besi yang biasa dipakai untuk pesta. Kami modifikasi sebagus mungkin dipadukan dengan bahan baku kayu. Kebanyakan pembelinya dari Jepang,” imbuh Sittia.
Gerai milik Sittia hanyalah salah satu gerai furniture dan perabotan antik di kawasan Jalan Tangkuban Perahu. Namun seperti yang diakui Sittia, barang-barang yang dijualnya tidak semuanya siap pakai. Terkadang ada sedikit cacat sehingga para perajin harus memperbaikinya, kemudian diwarnai ulang. Seperti halnya sebagian furniture yang dijual di Geo Bali Collection, Kerobokan. Kebanyakan bahan bakunya kayunya dari potongan perahu bekas. Pemiliknya Kadek Robin Sumerta yang mengendus potensi bagus bahwa kayu bekas perahu bisa diolah kembali menjadi barang seni layak jual. Meskipun baru setahun membuka gerainya, Sumerta optimis usahanya ini terus berkembang pesat.
Tampak di gerainya ada kursi, meja, lemari, dan rak buku terpajang secara tidak beraturan. Namun, coraknya terlihat antik, warna catnya dibiarkan apa adanya sehingga menimbulkan kesan kuno.

Menurut Hatim (karyawan Geo Bali Collection), rata-rata furniture yang dijualnya merupakan olahan potongan kayu perahu yang sangat tua. Dipilihnya kayu bekas perahu karena kualitasnya awet dan tidak mudah dimakan rayap.
“Bahan baku kayu perahu itu awet karena sering terkena garam air laut. Justru itulah bahan pengawet yang bagus buat kayu, bukan dari bahan kimia, tetapi air laut. Semakin sering terkena air laut, kayu akan semakin kuat. Namun sekarang ini di Bali kami susah mencari perahu kayu bekas karena kebanyakan nelayan sekarang memakai kayu berbahan fiberglass. Kami sekarang kebanyakan mendapatkannya dari Jawa,” jelas Hatim.
Lelaki asal Lombok ini mengungkapkan, perahu kayu bekas berukuran besar bisa menghasilkan tiga truk potongan kayu. Kemudian para pengrajin merancangnya jadi bermacam jenis furniture. Agar terlihat lebih antik, bongkahan kayu bekas tersebut dipadukan dengan kayu jati berusia muda. Namun terkadang furniture bernilai seni kalau dibelinya orang yang tidak tepat, biasanya mudah rusak. Padahal menurut Hatim, pembeli yang senang pada furniture antik harus tahu juga bagaimana merawatnya.

Ada beberapa cara sederhana agar furniture antik tetap terawat, misalnya dengan menggunakan lilin pasta. Pengawet ini mudah diperoleh di toko-toko perabotan. Kalau pasta ini dioleskan secara teratur, furniture akan tetap terjaga kelembapan dan warnanya. Memakai taplak pun cara yang tepat agar furniture awet karena bisa mengurangi kontak langsung dengan benda yang sangat panas atau sangat dingin. Hati-hati juga dengan cairan seperti aerosol, alkohol, dan cairan kimia keras lainnya yang terkadang tumpah di mebel atau perabotan antik. Segeralah bersihkan dengan lap bersih kalau terjadi demikian.
Furniture dan perabotan antik memang harus dirawat teratur oleh pemiliknya supaya bertahan lama. Seperti juga perawatan yang dilakukan para penjualnya. Jessie, pemilik gerai Bali Island Furniture selalu merawat meubel antiknya secara berkala meskipun dibuatnya di Jawa. Jesy menjual furniture berbahan kayu jati, ulin, dan mahoni di kawasan Kerobokan. Tidak seperti Sittia (pemilik Dhita Antique Furniture), yang banyak menjual furniture dan perabotan antik berusia tua, Jesy justru membuat bahan baku kayu menjadi sesuatu yang terlihat tua dan antik. Pembuatannya para pengrajin kayu asal Jawa yang berpengalaman.
“Barang-barang yang saya jual adalah kayu recyle yang dirancang oleh para pengrajin dari Jawa. Banyak yang meniru model-model produk saya, tapi ya itulah namanya bisnis meskipun menurut saya bisnis seperti ini hanya tren, mungkin masa mendatang akan tidak tren lagi,” kata Jesy, yang menjalankan usaha Bali Island Furniture baru 4 tahun.

Jesy menambahkan, sekarang bermunculan beberapa pendatang baru yang ikut-ikutan memanfaatkan bangkai perahu menjadi furniture istimewa dan bernilai seni sebagai ladang bisnis baru. Meski begitu, Jesy menerima keadaan ini secara lapang dada karena menurutnya bisnis furniture dari bahan baku perahu suatu saat akan bisa menurun lagi, tergantung pasar.
“Enam bulan terakhir ini terjadi krisis ekonomi di Eropa dan itu berpengaruh pada penjualan barang-barang saya ini. Pasar sedang lesu. Tapi Australia yang sekarang jadi big market-nya, selebihnya dari Asia, seperti Jepang, Singapore, dan Malaysia,” kata Jesy yang enggan menjual produknya via internet. Lantas, berapa harga jual meubel dan perabotan unik yang dijual Jesy, juga Hatim dan Sittia?
Para penjual mebel dan perabotan antik memasang harga bervariasi untuk setiap item-nya. Kisarannya antara ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Misalnya, kursi dijual sekitar Rp. 150.000-350.000/unit, meja antara Rp. 450.000- 2.000.000/unit, lemari Rp. 500.000-3.500.000/unit. Itu baru sebagian item. Masih ada jenis mebel antik lainnya yang harga termurah Rp. 50.000, dan termahal Rp. 30.000.000. Bahkan, Sittia mengaku pernah menjual joglo tua seharga Rp. 200.000.000. Sungguh fantastis bukan?

“Harga tergantung pada sulit atau mudahnya pembuatan dan juga nilai seni dan keantikannya. Kalau pelanggan memang suka barangnya, harga mahal pun tidak masalah,” kata Hatim.
Tapi senada dengan Jesy, Hatim merasakan juga dampak krisis ekonomi Eropa terhadap bisnisnya ini. Hatim berharap krisis ekonomi Eropa segera pulih karena kebanyakan peminat barang antik berasal dari negara-negara Eropa.
Di tengah menjamurnya produk furniture modern, meubel antik memiliki pangsa pasar tersendiri. Biasanya pembelinya punya dua alasan. Pertama, sebagai ladang bisnis, yang artinya, dia menjual lagi barang-barang tersebut ke orang lain. Kedua, sang pembeli ingin membelinya untuk koleksi pribadi atas dasar nilai seni yang dikandungnya. Bagi pembeli yang menyukai seni, furniture dan perabot antik yang mengisi tempat tinggalnya dapat meningkatkan nilai interior yang berbeda dengan interior rumah orang pada umumnya.

“Saya termasuk penyuka mebel antik. Saya sekarang sedang mencari lemari pakaian tradisional Jawa yang akan disimpan di villa saya. Saya ingin berbahan jati asli dan usianya sudah puluhan tahun. Tapi saya belum menemukan lemari yang cocok,” ujar Tetsuji Nakagawa, warga negara Jepang yang memiliki sebuah Villa di kawasan Canggu.
Nakagawa hanyalah salah satu dari sekian banyak warga dunia yang menyukai mebel dan perabotan antik tradisional dari Indonesia. Ini artinya, ada suatu sinergi yang bagus antara pencinta seni dengan penjual mebel dan perabotan antik. Di satu pihak kepuasan batin pencinta seni terpenuhi. Di satu pihak lagi, barang-barang yang sebenarnya dianggap sampah bagi sebagian orang, justru bagi orang yang bernaluri bisnis, barang semacam ini bernilai jual tinggi.












