Teks : Yatni Setianingsih | Editor: Intan Larasati | Foto : Yatni Setianingsih

Keinginan untuk mengenalkan kelebihan beras Garut kepada masyarakat luas, menginspirasi Andris Wijaya untuk membuat inovasi makanan dengan bahan dasar beras Garut, yakni Nasi Liwet Instan yang dapat dimasak setiap saat dan praktis. Pria kelahiran tahun 1979 ini menilai, selama ini beras Garut yang memiliki berbagai kelebihan, tidak dikenal oleh masyarakat baik di Indonesia maupun luar negeri.
Beras yang ditanam di lahan sawah yang berada di Garut, diakui lulusan Teknik Mesin Politeknik ITB tahun 2001 ini, berbeda dengan beras yang berasal dari daerah lain. Bahkan dibandingkan dengan beras Cianjur, beras Garut jauh lebih bagus. Beras dari Kota Dodol ini memiliki warna putih alami, rasa lebih manis. Berbeda dengan beras lainnya yang akan berubah rasa dan warnanya saat disimpan satu hingga dua hari, beras Garut lebih tahan lama.
“Saya ingin mengangkat kelebihan itu, beras bisa menjadi oleh-oleh dari Garut, yang unik dan menarik sehingga saya membuat Nasi Liwet Instan. Kalau beras Garut tanpa diolah tidak akan ada daya tarik untuk para wisatawan membelinya,” terang Andris kepada Indonesia Kreatif, beberapa waktu lalu.
Inovasi Lahir dalam Keterpurukan
Andris menceritakan, bisnis beras sebenarnya telah digeluti oleh ayahnya sejak tahun 1974, tetapi hanya terbatas pada penggilingan dan distribusi beras Garut dengan merek seribu satu (1001). Beras Garut tersebut telah masuk ke pasar beras di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jakarta. Beras Garut yang didistribusikan ayahnya, sempat mengalami masa keemasan sekitar tahun 1984. Dalam satu hari, ayah Andris mampu mengirimkan 57 ton beras. Sayangnya, sesampainya di pasar, beras tersebut diganti labelnya menjadi beras Cianjur oleh para spekulan karena banyak peminatnya, untuk kemudian dijual dengan harga jauh lebih tinggi. Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1996, bisnis beras keluarga Andris terhenti.
Baru pada tahun 2003, Andris dan kakaknya mulai mengelola kembali bisnis keluarga ini. Namun bukan untung yang didapat, malahan rugi dengan menyisakan hutang lumayan besar, karena Andris dan kakaknya buta sama sekali dengan bisnis yang cukup lama digeluti oleh sang Ayah.
Imbasnya, perusahaan penggilingan beras milik keluarga tersebut harus dijual, untuk menutup semua kerugian. Akhirnya bisnis itu pun terpaksa terhenti pada tahun 2005. Namun di tengah keterpurukan, Andris dan kakaknya memiliki ide untuk membuat mesin penggilingan beras sendiri, dengan kelebihan selain menggiling gabah sekaligus mencuci beras yang sudah digiling.

Andrid berkaca dari pengalaman bisnis beras keluarganya yang bukannya dapat mengangkat citra beras Garut, tapi justru berujung dengan kerugian. Karena itu, setelah memiliki mesin penggilingan hasil inovasi sendiri, selain membuka penggilingan dan distribusi beras, Andris mengembangkan inovasi baru olahan makanan tradisional Nasi Liwet Instan.
“Saya memilih nasi liwet karena keluarga di rumah hampir setiap ada acara membuat hidangan nasi liwet. Lagipula nasi liwet itu makanan khas Sunda yang banyak peminatnya, jadi wisatawan bisa membawa pulang untuk dimasak sendiri atau sebagai oleh-oleh, dan menceritakan kepada orang-orang kalau ini adalah beras Garut,” tuturnya.
Dimulai pada awal bulan Januari 2011, Andris bereksperimen mencari resep dan rasa nasi liwet yang paling enak di berbagai restoran di Jawa Barat yang menyediakan olahan nasi liwet sebagai masakan unggulannya. Andris lalu melakukan uji coba memasak resep yang dia dapatkan dari berbagai restoran tersebut dan meminta keluarga serta temannya untuk merasakan hasil masakannya, tak lupa dia mencatat dan menimbang bahan-bahan yang dia masak.
Setelah menemukan resep yang dirasa paling pas, Andris memberanikan diri untuk berinovasi membuat nasi liwet instan. Bahan bakunya berasal dari beras Garut hasil penggilingan mesin inovasinya yang menghasilkan beras yang sudah bersih melalui tiga kali pencucian. Sedangkan untuk bumbu-bumbu campuran membuat nasi liwet instan seperti daun salam, bawang merah, bawang putih, dan rempah-rempah lainnya, diawetkan secara alami dengan cara dijemur di bawah matahari atau dimasukkan ke oven.
“Ketika saya akan membuat nasi liwet instan ini, saya sempat berkonsultasi dengan dosen saya di kampus. Tapi saat dosen saya berkata kalau beras tidak usah dibikin nasi liwet instan, saya sempat merasa drop,” cerita pemenang kategori individu untuk bidang pangan Anugerah Inovasi Jawa Barat 2012.
Setelah melewati proses uji coba selama enam bulan, akhirnya pada bulan Juli 2011, Andris memasarkan hasil inovasinya di toko oleh-oleh yang berada di Garut dan mengikuti berbagai pameran yang ada di Jawa Barat. Saat itu Andris hanya dibantu tiga orang karyawan yang menghasilkan 50 pak nasi liwet dengan dua ukuran yaitu 250 gram dan 500 gram. Sekarang ini, dalam sehari Andris dapat memproduksi dua ribu pak per hari untuk dua ukuran tersebut dengan melibatkan 60 karyawan.
Produk CV 1000, nama perusahaan nasi liwet instan ini, selain dijual di toko oleh-oleh, tersedia pula lewat banyak distributor serta reseller di berbagai daerah di Tanah Air. Lokasi perusahannya itu sendiri terletak di Jalan Raya Kamojang KM 1, Garut.
Instan dengan Rasa Khas

Sebagai masakan tradisional, cita rasa khas dari makanan tersebut biasanya menjadi pilihan utama konsumen. Begitu juga dengan Nasi Liwet Instan 1001, walaupun dimasak dengan cara instan yang lebih cepat dibandingkan dengan membuat nasi liwet biasa, namun konsumen tetap menikmati rasa nasi liwet yang asli.
Andris menghadirkan enam rasa nasi liwet instan yaitu jambal, teri, cumi, jengkol, pete, dan original. Kesemuanya dapat dimasak di rice cooker dalam waktu 20 menit. Sementara nasi liwet biasa, umumnya memerlukan proses pemasakan sampai satu jam.
“Saya berupaya menghadirkan cita rasa dari nasi liwet tersebut, apalagi dengan bahan baku beras Garut yang memiliki rasa manis berbeda dengan beras biasa. Semua produk nasi liwet instan ini tanpa bahan pengawet, tetapi produk ini mampu bertahan tujuh bulan,” ungkapnya.
Pemasaran nasi liwet instan ini tidak hanya di Indonesia, namun sudah mencapai Amerika Serikat, Australia, dan Dubai. Rencanya pada tahun ini produk Nasi Liwet Instan 1001 akan mengikuti pameran di Turki dan Brunei Darussalam.
Kini setelah Andris sukses dengan inovasi nasi liwet instannya, banyak produk sejenis yang beredar di pasaran. Namun menurut Andris, nasi liwet buatannya berbeda dalam penggunaannya berasnya, yaitu menggunakan beras Garut asli dengan tiga kali pencucian ketika digiling sedangkan yang lainnya menggunakan beras berbeda tanpa dicuci tiga kali.
“Saya merasa senang jika banyak yang mengikuti langkah saya membuat nasi liwet instan, jadi mereka termotivasi untuk memproduksinya. Tapi produk yang saya buat menggunakan beras Garut yang telah melewati tiga kali pencucian, sehingga ketika akan dimasak, cukup masukkan beras dan bumbu ke dalam rice cooker yang telah ditambah air,” terangnya menutup perbincangan.












