Teks: Yatni Setianingsih | Foto: Dokumentasi Pribadi
Kesulitan menemukan busana muslim untuk remaja pada tahun 2003 silam, tidak menyurutkan niat Nutty Nurhayati untuk menutup auratnya dengan mengenakan busana muslim dalam aktivitas kesehariannya. Hal itu malah memunculkan ide kreatif dari alumni Program Studi Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung ini, guna mendesain sendiri busana muslim dengan nuansa muda yang modis, tapi tetap sesuai dengan syariah Islam.
Ketika itu busana muslim khusus untuk remaja masih sulit ditemukan. Para perancang masih lebih banyak menghadirkan busana muslim untuk perempuan dewasa dengan banyak bermain di model gamis dan tunik. Sementara remaja, seringkali ingin berbusana muslim yang simpel tapi tetap sesuai aturan agama Islam.

Termasuk di kota Bandung, yang dikenal sebagai salah satu pusat mode di Tanah Air, ternyata tidak banyak desainer yang memfokuskan diri mengusung busana muslimah untuk kalangan anak muda. Industri fashion remaja di Bandung saat itu, tengah ramai oleh geliat kreativitas anak mudanya dalam membangun clothing dan distribution outlet (distro) yang mendesain, menghasilkan, serta memasarkan berbagai kaos karya anak muda Bandung dengan berbagai ciri khas tertentu, mulai dari selera musik, hobi, atau hanya berupa kata-kata unik.
Bermula dari kondisi tersebut, Nutty yang senang mendesain busana dan tertarik dengan fashion konsep distro, berinisiatif untuk mendesain busana muslim yang mengikuti ciri produk-produk clothing yang ada di distro, dengan semarak berbagai gambar. Busana yang didesain perempuan kelahiran 28 Juni 1982 ini, awalnya hanya digunakan untuk kebutuhan sendiri.
Tetapi, ketika Nutty mengenakannya ke kampus, teman-teman kuliahnya banyak yang tertarik dengan busana rancangan Nutty, akhirnya bersama adik laki-lakinya Rully Setiawan pada tahun 2004, ia mulai membangun bisnisnya dengan modal perdana Rp 800.000.
“Awalnya saya memang hobi untuk mendesain baju, tapi hasil desainnya belum pernah dibuat. Nah pas 2003-2004 kan lagi tren baju distro, dan saya baru mengenakan jilbab. Saya pengen pake baju bergaya distro tapi menutup aurat. Mulailah saya merintis usaha baju muslim dengan konsep desain distro,” kenang Nutty membuka perbincangan.
Distro di Kota Kembang saat itu belum ada yang fokus untuk menggarap fashion khusus untuk muslim. Berbeda dengan sekarang yang sudah cukup banyak clothing dan distro di sana yang mendesain busana muslim untuk berbagai kebutuhan dari perempuan muslim muda.
Karena ingin berbusana muslim dengan tidak lagi menggunakan berbagai bahan kain katun dan lain-lainnya yang biasanya dipilih desainer busana muslim, Nutty berani memilih bahan kaos dan keluar dari kebiasaan gaya dan model berbagai busana muslim yang terkesan dewasa. Untuk pola kaos dan warnanya, serta model busana ia mendesainnya sendiri, sedangkan untuk grafis diserahkan pada karyawan freelance yang mengerjakannya.
Desain busananya terinspirasi dari desain busana streetwear seperti busana casual yang terlihat sporty dan simpel, tetapi dengan sentuhan islami yang tetap menutup aurat namun tetap nyaman untuk digunakan. Gambar-gambar yang dipilih untuk mempercantik kaos-kaos tersebut, kebanyakan bertema tentang lingkungan seperti binatang dan tumbuhan.
Tidak Tahu Tentang Bisnis Fashion
Bisnis fashion yang ditekuninya bukannya tanpa kesulitan. Apalagi Nutty menapaki bisnis tersebut dengan proses belajar yang otodidak. Karena masih tahap merintis bisnis, ia tidak memiliki mesin jahit, mesin sablon, bahkan karyawan untuk mengerjakan dua hal tersebut. Oleh karena itu ia sempat kesulitan menemukan vendor untuk penjahit sampai dengan tukang sablon yang dapat dipercaya dalam menggarap desain rancangan busananya. Bahkan dirinya sama sekali tidak mengetahui harga bahan baku serta jenis sablon apa yang tahan lama dan bagus untuk baju. Apalagi masih jarang vendor jahit dan sablon yang berkualitas, tidak seperti sekarang yang banyak pilihan dan bagus kualitasnya.
Walaupun akhirnya mendapatkan vendor penjahit dan sablon yang berkualitas, perjuangan tidak selesai di sana. ketika produk telah jadi, meskipun banyak teman-teman di kampus yang menyukai dan membeli busana hasil desainnyanya, tetapi ketika dijual dengan sistem konsinyasi di distro-distro yang menjual fashion perempuan, busana muslim yang diberi label Polite tersebut tidak serta-merta dapat diterima oleh pasar secara umum. Ada yang menilai desain busana yang dirancang Nutty “kecentilan” berdasarkan dari segi warna dan grafis gambarnya.

Tetapi hal itu tidak menyurutkan jiwa dan ide untuk merancang busana muslim atau mundur dari bisnis fashion tersebut, namun malah menjadi cambuk untuk terus mendesain busana yang dapat diterima pasar. Hal itu dilakukan melalui proses riset setiap kali merancang busana muslim dan melemparkannya ke pasaran. Dirinya terus melihat respon dari pasar supaya hasil rancangannya dapat diminati oleh remaja sebagai sasaran desain busananya.
“Untuk dapat konsep desain yang ngeklik, semuanya melalui proses riset dari waktu ke waktu. Kalau kita mengeluarkan produk baru lalu kita analisa, kenapa bisa laku, atau kenapa bisa slow moving, hingga akhirnya menemukan selera pasar itu seperti apa,” ceritanya.
Terus Belajar untuk Motivasi Diri
Selain menganalisa produk yang diinginkan pasar, Nutty banyak berguru dan belajar kepada orang yang sukses menjalankan bisnis sendiri. Sehingga dengan begitu dapat terus memotivasi dirinya untuk tetap berwirausaha dan menghasilkan produk yang nge-klik di pasaran.
Hingga akhirnya, setelah memiliki peralatan produksi sendiri dan desainnya diterima masyarakat, bersamaan dengan kuliahnya yang usai, maka pada 14 Mei 2005 atau sekitar satu tahun setelah merintis menjadi desainer busana muslim, produk yang dirancangnya tidak lagi dijual dengan sistem konsinyasi, tetapi dipasarkan sendiri dengan membuka toko di Jalan Purnawarman, Bandung. Dengan mengusung konsep distro muslimah, pengelolaan bisnisnya dijalankan oleh sang adik, sedangkan Nutty fokus pada desain produk yang akan dipasarkan.
Dari tidak mempunyai satu orang pegawai tetap, bisnisnya yang telah berjalan selama 8 tahun ini sekarang telah dapat menyerap 30 orang pegawai yang membantunya menghasilkan pakaian yang berkualitas. Desain fashion-nya sendiri tetap dikerjakan oleh Nutty, Tak hanya baju muslim remaja yang ditawarkan, ada pula jilbab dengan desain mengikuti selera anak muda yang terkesan funky lewat sablonan pada bahan jilbab tersebut, maupun permainan warna.

Metamorfosis Sesuai Selera Pasar
Pada konsep awalnya, distro muslimah yang dibuatnya mempunyai koleksi rancangan busana muslim untuk remaja. Tetapi dalam perjalanannya, banyak konsumen yang tertarik fashion yang dibesut Nutty dari kalangan wanita karier dan ibu-ibu muda dengan usia di atas 25 tahun. Karena itu, Nutty tidak hanya berkreasi dengan desain busana muslim yang tampilannya casual, namun ditambah dengan desain fashion yang sedikit lebih resmi sehingga dapat dipergunakan untuk menghadiri pesta, maupun busana yang semiformal sampai formal untuk mempercantik kaum muslimah ketika bekerja.
Penambahan desain busana yang diusung tersebut, dilakukan setelah empat tahun membuka toko sendiri dan berpindah lokasi gerainya ke Jalan Merdeka, Bandung yang jauh lebih luas dibandingkan dengan tempat sebelumnya. Selain itu busana kasual hasil rancangannya, lambat laun tidak lagi hanya monoton dengan grafis sablon yang ramai dengan gambar, namun disesuaikan dengan permintaan pasar yang lebih simpel.
Hal ini menyebabkan konsep distro yang diusungnya sedikit demi sedikit mengalami pergeseran menjadi semi butik, namun masih tetap tidak meninggalkan ciri utamanya yang merancang berbagai kaos untuk busana muslim. Yang pasti, lebih lengkap dan banyak pilihan busana baik untuk remaja sebagai sasaran utama dari buah karya Nutty maupun wanita karier yang menjadi konsumen pendatang.

Sejak mengetahui ada konsumen baru dari hasil produksinya, Nutty tidak hanya bermain dengan bahan kaos, tetapi mulai mengkombinasikan antara bahan kaos dengan kain katun, hingga denim yang biasa digunakan untuk membuat celana jeans. Bahan denim yang kaku, dapat disiasati Nutty menjadi sebuah fashion yang cantik dan lebih terlihat feminim dalam model rok, blouse, gaun, jilbab bahkan sampai dengan ciput (anakan jilbab).
Pemilihan perpaduan berbagai bahan termasuk denim yang biasanya dihindari, karena kebanyakan hanya dibuat menjadi model celana atau jaket yang ketat, mengisyaratkan bahwa pemakai busana muslim bisa bebas memilih bahan apapun untuk digunakan. Tentunya, yang menjadi batasan tersebut yaitu model dan desain yang dipilih tidak boleh terbuka dan ketat. Jadi tambah Nutty, bergaya dengan bahan apapun sebenarnya bisa dilakukan, tinggal bagaimana membuat desainnya yang sesuai dengan kaidah berbusana dalam Islam.
Uniknya, gaun yang biasa dipilih perempuan untuk mempercantik penampilan ketika mereka menghadiri pesta, pada hasil rancangan Nutty sama sekali tidak berdesain mewah dihiasi dengan berbagai batu hias atau manik-manik. Melainkan lebih sederhana, namun tetap tampak elegan lewat sentuhan permainan warna maupun grafis yang pas sehingga menghasilkan gaun yang cantik untuk menghadiri pesta dan tetap terlihat muda bagi perempuan yang mengenakannya.
Lahirnya rancangan dalam model gaun tersebut, bukan berarti fashion yang diproduksinya langsung meninggalkan ciri khas sebagai busana muslimah dengan konsep distro, tetapi semuanya mengikuti keinginan pasar yang terus dinamis. Walaupun begitu, produk yang diusung oleh Nutty lewat labelnya yang kini bernama Polite Wardrobe, tidak lantas menjadi “pasaran”. Pasalnya, setiap bulan selalu ada produk dengan desain baru dengan produksi terbatas, yakni setiap satu desain yang diluncurkan hanya dibuat 30-100 pcs.
Kendati jumlah produksinya dibatasi, tetapi untuk pemasarannya tidak hanya dijual di satu tempat, namun telah meluas ke berbagai daerah yang ada di Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura. Pembatasan produksi fashion tersebut, semata-mata untuk menjaga kualitas produk yang tidak pasaran. Walaupun banyak konsumen yang berminat dengan desain tertentu, pihaknya tetap tidak akan menambah produk yang sama. Dengan begitu, konsumen tidak akan takut busana maupun jilbab yang dipakainya akan sama dengan orang lain.
Walaupun kini hasil rancangannya tidak hanya dipakai untuk muslimah dalam negeri, Nutty tidak lantas berpuas diri untuk terus belajar. Dirinya tidak segan untuk saling bertukar informasi dengan desainer muda yang berkecimpung dalam fashion muslim dan mengikuti berbagai pameran, seperti Indonesia Hijab Fest 2012 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung yang baru-baru ini digelar.
“Dalam memulai bisnis, kita harus mempunyai visi dan misi yang jelas. Mulailah dari “merangkak” jangan langsung ingin mengambil tahap “berjalan”. Walaupun kita punya modal yang besar, kalau kita belum punya pengalaman bisnis, lebih baik belajar pelan-pelan. Selami dan pelajari tahap demi tahap, serta detail per detail dari usaha yang kita lakukan,” pesannya.
Untuk bisa bertahan dan mendapatkan ide untuk mendesain, Nutty menyarankan untuk terus-menerus belajar, berinovasi, dan tidak boleh cepat merasa puas dengan yang dicapai. Serta yang terpenting, selalu bersyukur dan dekat dengan Tuhan YME, sehingga tidak mudah menyerah dan frustasi ketika berada di bawah dan terlena saat di atas.

Perluas Pasar Lewat Media Online
Untuk memperluas pemasaran fashion hasil kreasinya, penjualan produknya tidak hanya terbatas pada tokonya, reseller di berbagai kota maupun negara, dan berbagai pameran. Tetapi produk-produknya yang limited edition tersebut telah merambah media online dengan membuat website yakni www.polite-wardrobe.com maupun jejaring sosial Facebook. Hal itu dilakukan untuk mempermudah perempuan muslim dalam berbelanja, tanpa harus menghabiskan waktu memilih busana untuk kebutuhannya. Karena dalam websitenya tersebut, terdapat penjelasan secara lengkap mulai dari ukuran, bahan yang digunakan sampai harga busana tersebut.
“Selain penjualan secara reseller yang tersebar sampai di luar negeri, saya pun menjualnya melalui website dan jejaring sosial Facebook. Karena banyak muslimah yang sibuk dan tidak ada waktu untuk datang ke toko atau reseller yang ada di kota mereka,” tutur ibu dua orang anak ini.
Peduli Lingkungan
Di samping banyak gambar yang bernuansa alam untuk busana rancangannya, seperti berbagai gambar binatang maupun tumbuhan, Nutty melalui Polite Wardrobe juga turut berpartisipasi dan mengajak konsumen yang membeli produknya untuk ikut mengkampanyekan “Gerakan Anti Kantong Plastik”.
Perubahan penggantian kantong plastik dengan kantong kain tersebut dilakukan sejak Juni 2009. Pihaknya memilih terlibat untuk mengikuti kampanye tersebut, karena bumi tempat hidup ini telah banyak dicemari oleh berbagai polutan, termasuk berasal dari kantong plastik yang sangat berbahaya untuk bumi. Ini karena sampah yang berasal dari plastik memiliki waktu yang cukup lama untuk bisa terurai dibandingkan dengan sampah lain semisal kertas ataupun bahan organik lainnya.
Jika Anda membeli produknya, jangan heran jika tidak diberikan kantong plastik untuk membungkus barangnya, melainkan akan diganti dengan kantong kain yang dapat dipergunakan kembali untuk berbelanja tanpa perlu dibuang seperti kebanyakan kantong plastik. (*)












