Teks dan foto: Tonggo Simangunsong
Apa yang membuat komik tetap dicintai oleh penggemarnya? Pertanyaan ini mungkin menjadi sebuah ‘pekerjaan rumah’ besar bagi para penggiat komik di Indonesia, terutama yang berkreativitas di skala lokal. Paling tidak, dengan mencari tahu jawaban tersebut barulah nanti dapat dilakukan berbagai gebrakan yang pada akhirnya mampu menciptakan sebuah gelombang animo penggemar yang lebih mencintai karya lokal.
Rizal Abdullah Harahap tertawa kecil dan sejenak mengehela nafas saat Indonesiakreatif.net melontarkan pertanyaan: “Apa yang menyebabkan komik belum bisa menjadi sebuah industri yang menghidupi komikus lokal, seperti Medan?” Tawanya itu seolah mengindikasikan dua sisi yang saling berdekatan. Di satu sisi ialah sebuah obsesi yang kuat untuk mengangkat kembali pamor komik Medan. Sedang di sisi lain, adakah lagi ruang bagi komikus lokal di tengah gempuran komik-komik luar yang datang dari berbagai penjuru—toko buku dan internet.

Sebenarnya, pertanyaan tersebut, tanpa dijawab, sudah bisa direka dengan mudah apa jawabannya. Sebagai bukti awal, coba saja singgah ke toko buku Gramedia di Jalan Gajah Mada, Medan, dan amati apa yang terjadi di area deretan komik. Maka, yang terlihat ialah puluhan anak muda yang berdesak-desakan membaca komik/manga dari luar—kebanyakan dari Jepang. Adakah komik Indonesia atau lokal di sana? Nyaris tidak ada.
“Untuk saat ini kalau mau jadi komikus, lebih baik cari kerjaan yang sudah tetap dulu. Kalau ingin menjadikan komik sebagai profesi utama, belum saatnya,” ujar pendiri komunitas komik Dragon Fortres Community (DFC), yang sudah berdiri sejak tahun 2005.
Era Taguan Hardjo
Perjalanan komik di Medan bukanlah terbilang baru. Medan memiliki komikus lokal yang pernah merajai di kotanya sendiri. Ialah Taguan Hardjo yang pernah melahirkan beberapa karya komik yang sekaligus mengangkat pamor komik tanah air, khususnya Medan. Salah satu karya terbesarnya ialah Hikayat Musang Berjanggut yang pernah diterbitkan secara bersambung di Harian Waspada, Medan pada tahun 1960-an.

Tahun 1950-an adalah masa produktif Taguan Hardjo. Karya komiknya yang tidak kalah tenar di antaranya Keulana, Kapten Yani dan Perompak Lautan Hindia.
Ketika Taguan Hardjo meninggal pada 25 September 2002 di Jakarta, sastrawan Seno Gumira Adjidarma menulis otobiografi singkat mengenai eksistensi sang komikus di majalah Tempo. Di artikel berjudul “Taguan dan Keindonesiaan” itu, Seno menggambarkan sepak terjang Taguan dalam komik Indonesia baik dalam konsep ide cerita maupun dari sisi teknis pembuatan komik.

Seno menulis, ”Dengan teknik arsir yang canggih, Taguan Hardjo melahirkan wajah-wajah yang sangat Indonesia-suatu pencapaian yang bahkan tak pernah diraih para komikus kondang dari generasi kemudian, seperti Jan Mintaraga dan Teguh Santosa, yang sudah lebih dulu almarhum. Dengan komik bersambung seperti Mentjari Musang Berdjanggut (1958) yang sangat populer, Taguan Hardjo boleh dicatat ikut menegakkan media komik sebagai legitimasi eksistensi Indonesia.”
Taguan Hardjo sebenarnya bukan orang Medan asli meski dalam cerita komiknya ia sering mengetengahkan seting, dan plot cerita berlatar belakang Melayu Deli. Ayah komikus kelahiran Suriname tahun 1935, Salikin Mardi Hardjo, adalah Jawa dan ibunya berdarah Belanda. Dua tahun setelah ayah dan ibunya berpisah pada tahun 1953, Taguan hijrah ke Deli dengan pekerjaan awal sebagai “pelukis teknik” di perusahaan kereta api.
Rumput Liar
Setengah abad lebih setelah masa keemasan komik di Medan atas peran komikus Taguan Hardjo, kehidupan komik di Medan mengalami pasang surut. Dalam waktu yang cukup lama bahkan hingga kini, komik tergeser oleh popularitas karikatur yang “akrab” dengan surat kabar lokal. Sebut saja misalnya beberapa ikon karikatur yang populer di Medan, di antaranya “Pak Tuntung” yang terbit setiap hari di harian Analisa, ikon “Nasib Si Suar-Sair” di koran Sinar Indonesia Baru, hingga ikon “Pak Bas” sempat tenar di Harian Global (sekarang Jurnal Medan).

Geliat komik Medan kembali terangkat pada tahun 2002. Beberapa mahasiswa jurusan seni rupa, Universitas Negeri Medan (Unimed) yang berhasrat membangkitkan komik lokal mendirikan komunitas komikus bernama “Rumput Liar”—RL.
“RL bisa dikatakan komunitas komikus pertama di Medan,” kata Fandi, salah satu penggagas RL bersama 20-an komikus Medan—termasuk dari luar Medan, seperti Binjai. Kelahiran RL terdorong oleh semakin rendahnya minat masyarakat kepada karya-karya komikus lokal. Orang-orang mulai beranggapan bahwa hanya komik luarlah yang terbaik, meskipun jauh sebelumnya telah ada komik lokal yang mengisi ruang baca baik di perpustakaan maupun kios peminjaman buku.
“Saya masih ingat tahun era 1980-an hingga 1990-an di mana komik lokal begitu akrab di mata kita. Komik berkarakter Petruk dan Gareng adalah salah satu komik populer waktu itu,” ujar Yudi. “Tapi kini karakter itu sudah hampir dilupakan orang,” sambungnya.

Kehadirian RL sempat dengan aktif mengisi kekosongan aktivitas komik di Medan. Proses edukasi kepada masyarakat berupa seminar, workshop dan demo, sedikit banyaknya turut membukakan mata orang kembali terhadap komik lokal—bahwa komik lokal tidak kalah berkualitas dari komik asing, yang kebanyakan dari Jepang.
Bahkan, RL sempat menerbitkan majalah internal khusus bagi para penikmat komik lokal. Majalah yang diterbitkan secara berkala ini memuat karya-karya komikus lokal yang kemudian melahirkan ide-ide baru dalam penciptaan karakter. Misalnya, karakter komik yang mengangkat budaya Indonesia. “Ada beberapa karakter baru ditandai dengan simbol-simbol visual berupa pemakaian sarung, peci dan bahasa khas Medan,” jelas Fandi.
Tak hanya menjadi ruang aktivitas, RL sekaligus menjadi “ruang informasi” tentang hal-hal baru seputar komik. “Mungkin kendala sebelumnya ialah minimnya informasi tentang komik lokal. Di RL kita sering mengadakan diskusi segala hal berkaitan dengan komik, terutama perjalanan komik lokal—Medan,” papar Fandi.

Sayangnya, RL tidak seliar nama yang mereka usung. Komunitas ini, meski telah berbuat tidak sedikit untuk perkembangan komik Medan, akhirnya harus berakhir pada tahun 2009. Alasannya macam-macam. Ada yang segera menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di perusahaan. “Karena kebanyakan anggotanya sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, akhirnya dengan berat hari RL diakhiri,” kata Fandi.
Gambaris Medan
Ditutupnya usia Rumput Liar bukan berarti menyurutkan obsesi para komikus. Meski keliarannya telah berakhir, tapi rumput ini berhasil meninggalkan jejak yang kemudian menumbuhkan ‘rumput liar’ baru.

Nama RL di kalangan komikus muda Medan sudah sempat melekat. Bahkan, diam-diam komunitas ini menarik minat sejumlah komikus untuk melahirkan komunitas komunitas-komunitas komikus baru di Medan.
Eksistensi komik Medan juga sempat tercium ke luar. Tahun 2009, Seri Kamila Kamila Parinduri dari Komunitas Indonesia Lima sempat membangkitakan kembali mimpi RL yang sudah sempat terkubur. Bersama komunitas komik The Malinger—terdiri empat mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara (USU)—sempat pula diterbitkan sebuah komik. Tak lama kemudian dibentuk pula Komunitas Animasi Sumut yang sempat melahirkan tim animasi bernama Red Slaves.
Upaya RL ternyata juga tidak sia-sia. Paling tidak, rentang tahun 2010–2011 ada empat komik yang diterbitkan dua komikus Medan. Susanto Kenta yang menerbitkan komik berjudul I Want to Live (2010) dan Florida Orange (2011); Andry Permana merilis komiknya yang berjudul Sketsa Purnama (2010) yang mengangkat karakter komik bergaya Indonesia.

Tepat tanggal 10 Oktober 2010, tibalah kemudian waktunya orang-orang yang menggeluti dunia komik Medan menyatukan visi kembali dengan dibentuknya komunitas Gambaris Medan (GM). Ide pembentukan komunitas ini muncul dari para penggiat komik Medan sendiri, dimotori oleh Celvany, Salnath, Erline, Richard, Cheria dan beberapa penggiat komik Medan lainnya. Visi GM tidak jauh berbeda dengan RL. Hanya saja, GM lebih luas cakupan kreatifitasnya. Tak hanya komik tapi juga meliputi sketsa, desain visual, graffiti art, tifografi maupun digital art.
Seperti dijelaskan Rizal, GM dibentuk oleh para penggiat komik yang sempat kehilangan wadah komunitas. Visinya tetap ingin mengangkat komik lokal agar lebih dihargai dibanding komik luar. Sepanjang kehadirannya sebagai media jejaring offline komikus Medan, GM melanjutkan upaya-upaya pendekatan kepada masyarakat, khususnya pelajar, tentang komik lokal.
Cuma sejauh ini, kata Rizal, aktivitas GM masih terkendala masih minimnya pihak-pihak yang mau mendukung kegiatan mereka. Banyak yang belum melihat komik sebuah sebuah peluang industri. “Saya pernah terkejut ketika dalam sebuah acara pemerintahan ada yang pejabat yang bertanya tentang apa itu komik,” katanya.

Fandi menambahkan, orang masih cenderung melihatnya masih pada batasan ‘bacaan visual untuk waktu senggang’. “Awalnya, komik merupakan kebutuhan otak, lalu menjadi kebutuhan perut. Nah, (yang kedua) ini yang belum banyak disadari orang. Akhirnya, komik jadi sering dianggap sampingan saja,” jelas Fandi.
Impian Tak Berakhir
Apa pun ceritanya, komik telah menjadi bagian dari seni kreatifitas yang telah masuk ke dalam ruang gerak masyarakat masa kini—bahkan sejak berabad-abad silam ketika ia pertama kali ditemukan bangsa Mesir dengan menggunakan media kertas papirus. Komik adalah industri, sebab jika tidak demikian, tidak mungkin gempuran komik Jepang terjadi di toko-toko buku di kota-kota di Indonesia, termasuk Medan.
Menurut Fandi, persoalan mengapa komik belum bisa menjadi industri yang menghidupi kota dan penggiatnya, bukan saja hanya pada animo masyarakatnya yang lebih berpihak pada produk luar. Tapi juga dikarenakan sarana pendukung. Misalnya, media yang jarang sekali mengangkat isu seputar komik dan menjadikan komik sebagai bagian dari bacaan visual sehari-hari dan masih minimnya upaya edukasi dan pendekatan kepada masyarakat tentang komik itu sendiri.
“Kami tidak mau menyalahkan masyarakat yang belum menghargai karya lokal. Mungkin kamilah yang belum mampu menciptakan komik yang bisa menarik animo mereka,” ujar Yudi yang tetap bermimpi komik lokal bisa kembali mengisi ruang-ruang baca anak muda.

“Saya yakin komik lokal bisa terangkat lagi kalau masyarakat tetap mencintai budayanya sendiri,” ujar Fandi bermaksud agar komik lokal juga mampu menciptakan karakter-karakter komik baru yang mengangkat sisi dan identitas budaya Indonesia. “Selama ini mungkin orang lebih suka komik luar karena memang budaya luar itu lebih menarik,” sambungnya.
Pasang surut perkembangan komik di Medan bisa jadi sebuah gambaran kecil perkembangan komik di Indonesia. Akan selalu ada impian yang tidak terbatas dari orang-orang yang menekuninya dengan hati. Tak peduli, apakah komik bisa menjadi profesi utama atau tidak.
“Sampai kini kami menekuni komik karena kami senang melakukannya meski kami tahu belum bisa survive di sini,” kata Fandi. Mengutip kata seorang teman sesama komikus, ia berkata, ”Menjadi komikus saat ini mungkin masih sebatas untuk mencukupi dua kebutuhan: ‘aspirinisasi’ (obat pening) dan inspirasi.” Akan lain ceritanya bila nanti komik sudah menjadi industri, seperti yang mereka impikan saat ini.











