Teks/Editor: Intan Larasati | Foto: Coin A Chance

Banyak yang menyepelekan koin, menyia-nyiakannya, atau dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa dipergunakan. Padahal koin, sama seperti uang kertas, memiliki nilai juga. Tapi di tangan Hanny Kusumawati dan Nia Sadjarwo, koin menjadi sesuatu yang besar artinya. Berkat koin, mereka bisa membantu menyekolahkan anak yang tidak mampu.
Dua sahabat ini awalnya memiliki hobi yang sama, yaitu mengumpulkan koin yang biasanya diperoleh dari kembalian berbelanja. Selain itu, mereka juga punya cita-cita dan concern yang sama, yaitu melakukan sesuatu bagi pendidikan anak usia sekolah di Indonesia. Karena belum mampu untuk mendirikan sekolah, akhirnya mereka memutuskan untuk membantu seorang anak yang mereka kenal dan hampir putus sekolah. Lantas, dari mana dana untuk menyekolahkan anak itu didapat? Dari koin yang mereka kumpulkan selama ini.
Awalnya mereka melakukan ini untuk memenuhi passion pribadi semata. Sama sekali tidak ada niat untuk menjadikannya sebesar seperti saat ini. Tapi karena aktifnya mereka berdua di dunia digital dan media sosial, maka diputuskan untuk menggunakan blog dan media sosial, seperti Twitter dan Facebook, untuk mengkampanyekan gerakan ini. “Apalagi Hanny sudah dikenal sebagai blogger aktif,” ujar Nia.
Gerakan yang dinamakan Coin A Chance (CAC) ini dibentuk pada tanggal 18 Desember 2008, melalui peluncuran sebuah blog. Lewat media sosial, gerakan ini mulai menyebar. Survey kecil-kecilan yang dilakukan lewat blog ditanggapi positif oleh teman-teman blogger. Ide untuk mengumpulkan koin demi kelangsungan sekolah anak-anak yang tidak mampu ternyata mendapat dukungan dari banyak pihak. Banyak teman yang mengulas serta mempromosikan gerakan tersebut di blog masing-masing. Mereka juga ikut mengumpulkan koin untuk membantu dana.
“Tantangan yang kami hadapi adalah waktu. Kami semua bekerja full time, jadi cukup sulit mengatur jadwal untuk mengurus CAC,” jelas Nia.
Bintang Gempur Anarki
Anak pertama yang mereka bantu adalah Bintang Gempur Anarki, yang biasa dipanggil Gempur. Saat ini Gempur telah duduk di kelas 1 SMK. Bagi Nia, kisah dengan Gempur adalah yang paling berkesan. Seperti yang ditulis di blog coinachance.com, Gempur adalah anak polos dengan semangat bersekolah dan cita-cita yang tinggi. Kesederhanaan keluarganya menjadikan mereka mantap untuk membantu Gempur dengan biaya sekolahnya.
Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, saat ini ada 14 orang anak anak yang dibantu oleh CAC. Hubungan baik yang telah tercipta dengan anak-anak itu tetap terjaga, walaupun mereka sudah lulus sekolah.
“Anak kedua yang kami bantu, sekarang telah bekerja sebagai customer service,” ujar Nia memberi contoh. “Selain itu, mereka juga sering kami libatkan dalam kegiatan bersama adik-adik yang masih bersekolah,” tambahnya.
Mengapa hanya 14 anak? Untuk itu, Nia punya alasan sendiri. “Kami menitikberatkan pada kualitas, bukan kuantitas. Koin yang kami kumpulkan jumlahnya terbatas, karena itu kami ingin memastikan anak yang dibantu bisa sekolah dengan lancar hingga tamat SMU atau sederajat,” jelas Nia.
Coin Collecting Day

Untuk pengumpulan dana, setiap satu atau dua bulan sekali CAC mengadakan Coin Collecting Day (CCD). Tempatnya berpindah-pindah, biasanya kafe/restoran. Waktunya juga tidak sama setiap bulannya. Informasi mengenai tanggal dan tempat disampaikan lewat Twitter dan Facebook. Coiners dan droppers (istilah untuk teman-teman penyumbang koin) dipersilakan ikut menghitung koin bersama, atau sekadar menyetorkan koin yang sudah dikumpulkannya. Hasil pengumpulan koin itu lantas diumumkan melalui Twitter, Facebook, dan blog. Uang tersebut lantas ditabungkan ke rekening CAC di bank.
“Seluruh biaya dan keperluan sekolah kami bayarkan langsung ke sekolah, bukan dititipkan melalui anak atau orang tuanya,” ucap Nia.
Saat ini, CAC telah menjadi gerakan yang menyebar di sembilan kota lain, seperti Yogyakarta, Padang, Makassar, Palu, dan Semarang. Masing-masing bertanggung jawab atas anak yang dibantu di wilayahnya. Tidak hanya di Indonesia, gerakan ini bahkan memiliki cabang di Berlin, yang mengatasnamakan Coin A Chance Uni Eropa. Khusus untuk Berlin, koin yang mereka kumpulkan akan disalurkan ke Jakarta. Tiap kota yang membawa bendera Coin A Chance harus mengikuti panduan yang dirangkum dalam CAC Bible, sehingga memiliki prosedur dan standar yang sama dengan Jakarta.
Kemampuan Sosial Juga Penting

Lewat Coin A Chance, Nia menyampaikan harapannya pada pendidikan di Indonesia. Ia ingin anak-anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang layak hingga lulus SMU. Tapi baginya, pendidikan formal tidak lengkap jika tidak ditunjang dengan kemampuan sosial yang cukup. Kemampuan sosial itu idealnya dimiliki setiap orang, seperti public speaking atau jaringan pertemanan yang luas. Hal seperti itulah yang bisa membuka kesempatan ke masa depan yang lebih baik.
Bagi Nia, bantuan tidak harus berupa sesuatu yang besar. Karena sekecil apapun bentuk bantuan yang diberikan, memiliki arti yang sangat besar bagi mereka yang membutuhkan. Coin A Chance telah membuktikannya. Dari koin yang dipandang rendah, mereka bisa membantu sekolah anak yang kurang mampu. Jadi, jangan ragu untuk membantu. Salurkanlah bantuan itu ke organisasi atau gerakan yang bisa dipercaya.
Sebagai penutup, Nia berpesan, “Jika teman-teman memiliki ide kreatif, apapun bentuknya, jangan pernah ragu untuk mewujudkannya. Resepnya adalah passion, komitmen, dan yakin, maka semuanya pasti bisa dicapai. Jangan lupa untuk have fun while doing it!”
Blog: coinachance.com
Twitter: @coinachance
Facebook: coinachance










