Teks: Tonggo Simangunsong | Foto: Dok. Pangadjian Pane | Editor: Intan Larasati

Dalam literatur mengenai Batak, seni merajah tubuh atau lebih populer dikenal dengan “tato” bukanlah seni yang lazim. Seni grafis Batak lebih dominan dituangkan pada media arsitektur rumah adat Batak dan kain tenun Ulos, bukan pada tubuh seperti yang sudah dilakukan suku Mentawai dan Borneo. Inilah yang mendasari gagasan Pangadjian Pane dengan lahirnya “Djadjak: The Birth of Batak Tribal Body Art”, proyek merekonstruksi desain visual Batak untuk seni merajah tubuh.
Proyek Djadjak telah dimulai sejak dua tahun belakangan oleh Pangadjian Pane bersama seorang seniman Medan yang ia kenal melalui jejaring sosial internet, Gery Palandika Tobing. Visinya ialah melakukan penjajakan seni visual dalam Batak untuk direkontruksi kembali ke dalam seni merajah tubuh dan menjadikannya sebagai seni baru yang modern tanpa meninggalkan originalitas etnik yang sudah ada sebelumnya. Itulah pula mengapa proyek ini diberi nama “Djadjak” yang diambil dari kata “jojak” (Bahasa Batak-ed) yang berarti jejak.
Proyek Djadjak seperti sebuah tanda kelahiran kembali. Sekian lama bermain di seni tato tradisional dan ‘body modification’ dengan berbagai variasi desain tato, ia kembali ke asal usulnya sebagai Batak dan melakukan pencarian kembali lewat memori dan referensi literatur.
“Memori saya tentang Batak tidak mungkin hilang. Ornamen Gorga di gedung balairung Balige, di mana konsepnya diadaptasi dari rumah adat Batak,” ujar seniman asal Balige, kota kecil di tepi Danau Toba, ibukota Kabupaten Toba Samosir. “Selain itu saya juga mencari referensi tentang Batak yang ternyata juga banyak dipublikasikan di Eropa, paling besar di di Belanda,” katanya.

Jauh sebelum proyek “Djadjak” digagas, Pangadjian telah memulai proses berkesenian tato sejak 1989 dengan menggunakan alat perajah tato listrik. Pertama kali ia merajah tubuhnya, lalu teman-temannya. Ia pernah menetap dan berkesenian tato selama 16 tahun di The Olde City, Philadelphia, AS. Di sana ia mendalami ‘body art’; mempelajari simbol-simbol visual, seperti “psychedelic” dan “tribal” untuk desain tato.
Tahun 2009, ia menciptakan “Paranormal Tattoo”, sebuah proyek eksperimental di mana ia mulai menggunakan seni tato yang bersifat tradisi dan manual. Dia mulai melakukan proses pembuatan tato dan menemukan metode baru di mana ia tidak lagi harus selalu bekerja dengan bantuan “strechers”—biasanya ia dibantu dua orang “strechers” yang membantu meregangkan bagian tubuh yang akan ditato.
Itu bukan akhir pencapaiannya, Pangadjian seperti dipanggil melalui sejumlah alam bawah sadar; seperti pesan dalam mimpi, perenungan kosmik (alam semesta) dan tatanan hidup manusia, ia pun menyadari bahwa Batak adalah ‘tribe’ yang unik namun universal. “Ini seperti sebuah panggilan dari arwah para nenek moyang kita (Batak) untuk mengekspresikan seni visual Batak dalam konsep modern,” katanya. Ia pun kembali ke Indonesia dan melakukan penjajakan tentang simbol-simbol Batak; baik dalam arsitektur rumah adat Batak maupun dalam Ulos.
Menurut Pangadjian, simbol-simbol dan desain visual Batak begitu unik tapi juga bersifat universal. Dikatakan unik karena Batak memiliki simbol-simbol seni visual yang hanya dimiliki oleh mereka saja. Namun, ada juga simbol yang ternyata juga digunakan oleh beberapa suku yang ada di dunia. Ia menunjukkan salah satu sketsa desainnya yang menggambarkan seekor binatang melata menyerupai cicak yang di Batak disebut Boraspati.

“Simbol ini digunakan oleh salah satu suku asli Puerto Rico, Spanyol,” katanya. Simbol “lizard” (binatang reptil) telah digunakan beberapa tribe di dunia sejak ratusan tahun silam. “Aborigin, Indian, Afrika, Mentawai, dan beberapa tribe di dunia menggunakan simbol ‘lizard’. Batak juga begitu, yaitu cicak,” katanya.
Bagi Pangadjian, Djadjak lebih dari bentuk seni yang menandakan identitas Batak. “Saya membuat proyek Djadjak dengan harapan nantinya bisa dikembangkan oleh seniman tato lainnya, terutama seniman Batak agar nantinya seni Batak bisa diapresiasi secara global dan sekaligus menjadi bagian lifestyle. Secara pribadi, saya mendedikasikan proyek ini untuk anak saya, Paluan Simbora Siagian,” kata Pangadjian yang juga sedang mempersiapkan bukunya tentang arsitektur Batak (Batak Architect).














