Teks & foto: Langlang Randhawa
BANTEN – Sebagaimana tercatat dalam buku sejarah Indonesia, Banten pernah menjadi kerajaan Islam dalam bentuk pemerintahan kesultanan yang kejayaannya terkenal hingga ke seluruh nusantara. Pasalnya Banten yang identik dengan kawasan pesisir memiliki kawasan pelabuhan kelas internasional bernama Pelabuhan Karangantu yang menjadi roda perputaran mata uang kala itu, karena hampir seluruh pedagang dari seluruh dunia singgah di sini. Selain tentang masa kesultanan tersebut, ternyata ada satu lagi yang membuat Banten menjadi terkenal di mata internasional, yakni tradisi menulis yang digaungkan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani lewat karya-karyanya yang abadi hingga hari ini karena masih banyak dikaji oleh lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia ini.
Kini, boleh jadi kejayaan kesultanan dan Syekh Nawawi Al-Bantani sudah berakhir, akan tetapi spirit dan tradisi menulis di Banten haruslah tetap berkibar. Itulah yang melatarbelakangi sekumpulan remaja-remaja Banten yang berkumpul menimba ilmu tentang hal ihwal dan seluk-beluk kepenulisan di Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan ke-19 pada Minggu (12/6). Kegiatan yang rutin digelar setiap hari Minggu pukul 14.00 s/d 17.00 WIB di komplek Hegar Alam Kampung Ciloang ini, biasanya diisi para remaja dari beberapa daerah di Banten, seperti Serang, Tangerang, Pandeglang, Cilegon, dan Lebak. Akan tetapi biasanya, menurut Ahmad Wayang selaku penanggung jawab kelas menulis yang didirikan Gol A Gong ini, tak hanya diikuti oleh remaja Banten saja. Pasalnya banyak juga yang dari Jakarta, bahkan tak hanya remaja, lansia pun pernah ada yang mengikuti kelas ini. “Pernah dulu ada yang dari Palembang. Dia cuti kuliah dan memilih belajar di sini dan tinggal di kosan,” ujar Wayang yang juga salah satu penulis jebolan KMRD. “Kini dia sudah pulang ke Palembang dan karya-karyanya berupa cerpen dan novel sudah diterbitkan. Kami ikut senang,” imbuh remaja gondrong yang mengaku lebih menyukai menulis puisi ini.

Ragam kemahiran menulis di KMRD ini diajarkan secara gratis. Awal masuk, biasanya peserta hanya akan diminta mengisi formulir, menyerahkan pas foto 3×4 dua lembar, menyumbangkan buku layak baca, dan menyerahkan karya berupa tulisan berbentuk news, cerpen, dan puisi sebisa yang mereka buat untuk dijadikan tolak ukur sejauh mana kemampuan dasar menulisnya. Pasalnya di KMRD ini, selama enam bulan peserta akan belajar teori dan praktek tentang kepenulisan. Kurikulumnya sendiri adalah menjadikan penulisan jurnalistik sebagai dasar menulis dan melatih sikap kritis dan berpikir sistematis bagi calon penulis, yang kemudian akan dilanjutkan ke kelas fiksi tentang bagaimana caranya menulis cerpen dan novel.
Adalah Fajar, salah satu anggota KMRD yang juga mahasiswa semester empat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ini, mengaku senang dengan konsep belajar yang ada di KMRD. Pasalnya meski kelas digelar pada jam-jam saat kebanyakan orang tertidur siang, suasana yang ada di KMRD sangatlah membuat peserta tetap bersemangat. “Di sini tidak jenuh, karena selain gaya belajar yang santai, lokasi belajarnya di ruang terbuka di bawah pohon yang rindang,” ujar remaja asal Tangerang ini. “Selain itu, kadang kita diajak ke alam terbuka, semisal alun-alun kota atau bahkan pantai di kawasan Anyer dan Carita. Biasanya untuk praktek wawancara dan mencari ide cerita,” imbuh Fajar.
Hal senada juga diungkapkan oleh Hana, salah satu mahasiswi di Insititut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten asal Kabupaten Lebak, yang mengaku sangat senang mengikuti KMRD, meski jarak dari tempat tinggalnya memakan waktu tempuh tiga sampai empat jam perjalanan. “Saya senang bisa berkumpul dengan orang-orang kreatif di sini. Meski jauh, bawaannya senang terus. Apalagi di sini kan belajarnya gratis,” ujarnya sambil tersenyum. “Alhamdulillah, sekarang saya sudah magang di koran lokal berkat belajar di sini,” tutur Hana yang memang sangat menyukai dunia jurnalistik.
Sejak didirikan pada tahun 2000 lalu, KMRD telah menjadi semacam pabrik kata-kata dan menjadi gudangnya penulis yang berasal dari Banten. Mulai dari angkatan pertama, jebolan KMRD sudah terserap di media-media lokal baik cetak dan elektronik, bahkan sudah ada juga yang mampu menembus harian nasional di Jakarta. Sementara mereka yang menyukai dunia sastra dalam hal ini adalah cerpen dan novel, sudah banyak karya para penulis KMRD yang dipajang dan berjejer di rak-rak toko buku profesional di seluruh Indonesia, dan bersaing dengan penulis-penulis lainya dari seluruh Indonesia. (*)












