Teks/Editor: Intan Larasati | Foto: dokumentasi Astri Apriyani

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan Nulisbuku.com dan Plot Point mengadakan kompetisi Tulis Nusantara. Kompetisi ini diadakan untuk mencari bakat-bakat baru di dunia menulis, baik fiksi maupun non-fiksi. Tidak berhenti di situ saja, kompetisi ini juga membantu para pemenangnya untuk menerbitkan karya mereka secara major.
Dengan mengusung tema “Menangkap Ragam Cerita Hidup di Indonesia” dan diadakan tanggal 17 November – 15 Desember 2012, kompetisi ini berhasil mengumpulkan total 3.418 karya dari tiga kategori, yaitu cerpen (fiksi), puisi, dan non-fiksi. Pada hari Sabtu, 22 Desember 2012, di Balai Kartini, Jakarta, diumumkan pemenang dari semua kategori sekaligus dilakukan penyerahan hadiah.
Untuk kategori Puisi, muncul nama Astri Apriyani sebagai peringkat pertama dengan karyanya yang berjudul “Ibu Nusantara, Ayah Semesta”. Ingin tahu lebih lanjut tentang gadis yang hobi traveling ini? Simak wawancara singkat berikut.
Bagaimana pendapat Astri tentang kompetisi Tulis Nusantara ini?
Tulis Nusantara membuka pagar kesempatan bagi para penulis untuk unjuk gigi. Jujur, saya awalnya tidak pernah tergerak untuk mengirimkan karya-karya saya di kompetisi manapun. Entah ada angin apa, ketika Tulis Nusantara digelar (saya tahu melaluli linimasa Plot Point dan Nulisbuku yang kebetulan saya ikuti), saya seperti terinspirasi untuk membuktikan kemampuan menulis saya dengan mengirimkan karya – yaitu puisi.
Mungkin tidak cuma saya yang merasa seperti ini, merasa tergerak untuk tampil ke permukaan, baik lewat ranah fiksi maupun non-fiksi. Mungkin ribuan orang yang turut mengirimkan karya mereka ke Tulis Nusantara juga berpikiran seperti saya. Jadi rasanya, kompetisi Tulis Nusantara sangat sukses menjadi wadah bagi para penulis yang mencoba berkarya di dunia penulisan.
Proses menarik apa yang terjadi sewaktu menulis puisi hingga saat submission karya?
Bukan menarik sih, tapi lebih tepatnya haru. Sebab, puisi ini sebetulnya cerita tentang dua orang penting dalam hidup saya – yaitu ibu dan ayah – yang akhirnya menjadi tokoh utama dalam puisi yang dianalogikan dengan Indonesia.
Puisi ini sebetulnya tentang satu pertanyaan yang seringkali saya ajukan pada ibu saya, yaitu, “Ayah di mana?”. Kebetulan mereka sudah berpisah sejak saya masih kecil. Akhirnya saya tumbuh menjadi seorang traveler, pergi traveling ke mana-mana. Saat itu saya paham, bahwa ketika melihat Indonesia lebih luas lagi, sudah tidak penting ayah ada di mana. Karena dalam setiap perjalanan, saya menemukan banyak sosok “ayah” yang menasehati tapi tidak menggurui, yang mengajarkan tapi tidak menekan. Ayah saya ada di mana-mana. Sementara ibu tetap di rumah, dan menjadi alasan utama untuk pulang.
Saya nyaris gagal mengirimkan karya ini, karena saya pikir, “Kok curhat banget?”. Tapi akhirnya setelah dimatangkan dengan memakai analogi dan diksi, akhirnya saya kirim juga, beberapa hari sebelum tutup.

Pesan apa yang ingin disampaikan dalam puisi tersebut?
Setiap orang pasti mengalami yang namanya kehilangan. Entah karena perpisahan, kematian, atau apapun. Tapi jangan merasa diri Anda yang paling malang, karena kehilangan yang Anda rasakan. Sebab, bisa jadi masih banyak yang jauh lebih malang dibanding Anda di luar sana. Menurut saya, rela saja lah. Nikmati saja segala duka yang mampir di ruang tamu. Nangis sebanyak-banyaknya hanya dalam semalam, lalu rela-lah. Toh kebahagiaan ada di mana-mana. Ke luar lihat dunia, traveling, bertemu saudara-saudara se-nusantara. Healing dengan mereguk banyak-banyak keindahan Indonesia. Bukankah terang itu baru akan terasa setelah gelap?
Apa daya tarik puisi “Ibu Nusantara, Ayah Semesta” dibanding peserta lainnya, sehingga bisa keluar sebagai juara pertama?
Wah, saya nggak bisa jawab yang ini. Sebaiknya ditanya langsung ke Mbak Helvy Tiana Rosa sebagai juri kategori Puisi.
Pendapat keluarga dan orang-orang terdekat setelah menjadi juara Tulis Nusantara 2012?
Alhamdulillah, mereka bangga. Dan itu sangat berarti buat saya.
Apa rencana setelah mengikuti kompetisi ini?
Jelas, menulis lagi, menulis, menulis, dan menulis. Untuk kemudian mematangkannya jadi sebuah buku. Semoga Plot Point atau Nulisbuku bisa mendukung penuh. Hahaha. Amiiin…

Ada pesan yang ingin disampaikan pada pelaku industri kreatif Indonesia, khususnya mereka yang ingin berkecimpung di bidang penulisan?
Pernah ada orang yang bilang pada saya, “Nggak selamanya kita menulis apa yang kita suka. Kadang-kadang kita harus menulis apa yang tidak kita suka.” Saya jadi berpikir, kasihan betul orang itu. Saya tidak mau menjadi seperti dia. Maka itu, menulislah apa saja yang Anda suka, yang Anda cinta, yang Anda pahami betul. Jangan menulis jika tidak suka. Jangan memaksakan diri untuk suka. Menulis saja dengan hati.
Profil Singkat
Nama Lengkap: Astri Apriyani
Tanggal Lahir: 4 Agustus 1986
Email: atretujuh@gmail.com
Twitter: @atre7
Facebook: Astri Apriyani
Blog: renjanatuju.wordpress.com
Pendidikan/pelatihan: Kelas Narasi Yayasan Pantau
Hobi: Traveling, Fotografi, Baca
Keahlian: Menulis, Fotografi, Proof-reading
Pekerjaan saat ini: Jurnalis










