Teks: Oka Kuswandi | Foto: dok. pribadi, Ria Pitaloka | Editor: Intan Larasati

Kompetisi Komik Indonesia 2012 yang baru selesai digelar, menyisakan talent-talent baru di bidang komik. Salah satunya adalah Rabendra Yudistira, sebagai juara pertama kompetisi yang diadakan oleh Indonesia Kreatif bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dosen Ilustrasi di Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini berhasil memukau dewan juri yang terdiri dari tokoh komik Indonesia dengan karyanya yang berjudul Abdi Dalem. Apa yang menginspirasinya untuk menciptakan komik itu? Bagaimana harapannya terhadap komik Indonesia? Mari kita simak dalam wawancara berikut.
Bagaimana pendapat Mas Rabendra dengan adanya Workshop dan Kompetisi Komik Indonesia ini?
Wah, jelas positif ya. Rangkaian kegiatan ini tentu menjadi stimulus yang segar bagi dunia komik di Indonesia, bukan hanya pembuat namun juga penikmat komik. Namun bagi saya pribadi, ajang ini jelas membuka wawasan saya mengenai kedahsyatan para pelaku komik di tanah air, yang jujur saja sebelumnya hanya saya ketahui dari toko buku. Tak disangka di belakang itu semua begitu banyak jagoan-jagoan komik yang kualitasnya sangat baik, bahkan lebih baik daripada sebagian komik impor yang beredar.
Semoga ajang ini dapat diadakan rutin setiap tahunnya dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah khususnya yang berkepentingan dengan industri kreatif.
Sewaktu malam penghargaan Kompetisi Komik Indonesia di PPKI 2012, Mas Rabendra Yudistira sebagai dosen Ilustrasi di ITS, menyampaikan bahwa kompetisi ini harus diikuti oleh seluruh mahasiswa. Bagaimana proses keikutsertaan mahasiswa dan Mas Rabendra sendiri dalam kompetisi ini?
Ceritanya begini. Saya tergabung dengan tim dosen pengampu mata kuliah ilustrasi. Komik menjadi menu wajib setiap tahunnya. Hanya kebetulan karena bertepatan dengan even KKI, maka kami sepakat bahwa mahasiswa diwajibkan ikut serta, dan karya yang mereka kirim akan dinilai sebagai tugas. Kebetulan saja waktunya cocok, yaitu sekitar satu bulan pengerjaan. Nah, ketika itu kami sebagai pengajar, tidak mau hanya jadi ‘penonton dan mandor’ yang bisanya cuma nyuruh dan komentar, jadi kami juga ikutan. Pada akhirnya, Alhamdulillah lebih dari separuh kelas sukses mengirim karyanya sesuai tenggat waktu yang diberikan.
Namun yang terpenting dari semua itu, kita jadi tahu bahwa kompetisi seperti ini ternyata bisa membawa pengaruh yang sangat positif dalam dunia akademik. Ketika mahasiswa kami melihat siapa-siapa yang berhasil menembus 16 besar, mereka bisa merefleksikan di mana posisi mereka dan apa saja yang musti mereka benahi. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga melebihi teori apapun yang bisa kami berikan di depan kelas. Kelak jika kompetisi ini terus diadakan, Insya Allah kami akan mendorong para mahasiswa untuk kembali berpartisipasi.
Ceritakan awal mula konsep komik ‘Abdi Dalem’ dari mulai cerita hingga sketsa ilustrasinya? Apa saja referensi dalam pembuatan komik ‘Abdi Dalem’?
Jujur saja semua serba spontan. Saya hanya ingin membuat komik dengan konten yang sangat Indonesia. Jadi bukan hanya komik bagus dan bisa bersaing di pasar global, namun komik Indonesia yang bagus dan memiliki identitas yang kuat. Bicara soal visual, jelas bertaburan komikus yang kualitas gambarnya sudah ‘level dewa’. Namun pada kenyataannya, Indonesia butuh karya-karya yang mampu merepresentasikan ke-Indonesia-annya. Di luar, seperti Belgia, Perancis, Belanda, dan Jepang, komik yang berpotensi menjadi legenda rata-rata adalah karya yang tidak kehilangan identitasnya. Di sini juga begitu.
Sebut saja misalnya karya-karya Beng Rahadian, Benny & Mice, atau Sawung Kampret-nya Dwi Koen. Masing-masing punya gaya dan style yang berbeda, namun bagi saya persamaannya adalah semua punya konsep dan karakter yang kuat. Sama seperti komik Asterix, Tintin, atau Smurf. Ketika formulasi sudah didapat, maka membuat cerita itu sangat mudah. Saya mungkin lebih ke arah situ.

Pesan apa yang ingin disampaikan dalam komik ‘Abdi Dalem’ untuk para pembaca komik di Indonesia, jika komik tersebut tersebar luas di industri komik?
Tentunya segala hal yang berhubungan dengan Indonesia. Tokoh dan setting dalam komik ini adalah fiksi, tapi bukan tanpa referensi. Komik ini bagi saya adalah ‘etalase’ yang dirancang untuk merepresentasikan sebanyak-banyaknya unsur Indonesia. Harapannya tidak muluk-muluk; pembaca sekedar diajak ‘bertamasya visual’ terlebih dahulu. Dari situ saya berharap, akan timbul keingintahuan mendalam terhadap referensi yang saya pakai.
Visualisasi yang sederhana dan mudah ditiru sengaja saya pakai agar siapa tau kelak ada pihak yang ingin meneruskan atau mengembangkan kisah ini.
Apa yang sebenarnya menjadi ciri khas komik Indonesia yang bisa diangkat dan disukai masyarakat secara luas menurut pendapat Mas Rabendra?
Menurut saya, orang Indonesia itu suka sekali hal-hal yang berhubungan erat dengan mereka. Pendekatannya bisa dari gaya hidup, budaya, psikologis, geografis, isu kontemporer, dan banyak lagi. Kadang-kadang komik yang dianggap punya plot dan gambar yang ‘sangat keren’ justru kurang diminati dan hanya dinikmati kalangan tertentu. Bukan berarti yang seperti itu jelek loh ya. Tapi alangkah baiknya jika ada karya-karya ‘membumi’ yang tidak hanya menarik bagi ‘pecinta komik’ tapi bisa mengundang minat kalangan yang ‘ndak suka komik’. Kalau kita mau menyebut masyarakat Indonesia secara luas.
Bagaimana pendapat orang tua dan orang-orang terdekat setelah memenangi Kompetisi Komik Indonesia ini?
Jelas senang dan bangga ya. Apalagi ini pertama kalinya buat saya. Saya beruntung punya keluarga yang selalu mendukung apa yang saya tekuni. Doa dan dukungan mereka adalah segalanya. Saat ini saya sedang menanti kelahiran anak pertama, dan itu menjadi motivasi tersendiri.
Apa rencana ke depan selain meneruskan komik ‘Abdi Dalem’ ini? Apakah ada rencana lain dalam bidang ilustrasi selain mengerjakan komik?
Sebagai pengajar, tentunya keinginan saya adalah memajukan institusi dan menginspirasi mahasiswa dalam lingkungan saya bekerja. Perwujudannya tentu saja situasional, misalnya mendirikan komunitas atau studio, mengadakan workshop, mendorong mahasiswa untuk mengikuti festival dan kompetisi, dan sebagainya. Prestasi yang baru saya raih ini semoga bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk mendukung semua itu.
Untuk saya pribadi, saya ingin mewujudkan cita-cita saya untuk membuat buku cerita anak yang secara implisit merepresentasikan impian-impian saya.

Pesan apa yang ingin disampaikan Mas Rabendra untuk para pelaku kreatif yang di bidang komik, khususnya yang baru memulai?
Wah, saya sendiri termasuk yang baru mulai, jadi belum merasa kompeten. Tapi setidaknya saya berharap semakin banyak pelaku kreatif yang terjun dalam bidang ini. Bagi yang baru mulai janganlah merasa minder dan rendah diri, sebaliknya bagi yang sudah ‘bisa berlari’ hendaknya jangan angkuh dan tinggi hati. Berwawasan terbuka dalam berkarya dan berapresiasi, bukan hanya dalam konteks berkompetisi, namun juga membangun sinergi. Bersama-sama kita membangun komik Indonesia ke arah yang lebih baik.
Mari kita jadikan kompetisi semacam ini sebagai wadah untuk berpresentasi, berintrospeksi, berapresiasi, dan bermediasi. Janganlah kita hanya sekedar melihat siapa para jawaranya dan apa yang membuat juri menempatkan mereka di sana, tapi lebih pada momentum untuk melakukan ‘aksi’. Hilangkan segala pikiran negatif dan pesimis. Salurkan energi untuk membuat karya yang terbaik dan menginspirasi lingkungan secara positif. Tentu bukan hanya menunggu event semacam ini, tapi setiap saat, kapan saja, dan di mana saja. Sesungguhnya membuat komik hanyalah merupakan satu bagian dari proses kreatif. Mari kita berkontribusi dan bersinergi untuk menunjukkan apa yang bisa kita sumbangkan untuk dunia kreatif di Indonesia. Saya pikir itu jauh lebih mulia daripada hanya melihat siapa yang berdiri di atas podium.










