Teks & foto: Adrian Martinus
Pernah dengar drama TV bertajuk Rumah Masa Depan di TVRI tahun 80′an? Salah seorang pemerannya adalah Septian Dwi Cahyo. Pantomimer dan juga Product Designer di salah satu perusahaan periklanan ini, mengawali karirnya di dunia layar lebar saat ia membintangi film Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi (1980) dan serial remaja ACI (Aku Cinta Indonesia). Pada serial Rumah Masa Depan (1984-1985) ia berperan sebagai Bayu.
Peraih nominasi pada FSI 1994 dalam sinetron Ali Oncom ini selalu giat memajukan seni pantomim tanah air. Pantomim adalah suatu bentuk drama tanpa dialog dengan seorang aktor, yang disebut dengan pantomimer, memegang semua peran dengan cara menukar kostum dan tata rias. Cerita ditampilkan dalam bentuk gerakan isyarat tanpa kata, namun dialog tetap berjalan dalam bahasa ekspresi wajah dan gerak tubuh.
Seperti apa sepak terjang pantomimer alumnus teater Tanah Air untuk memajukan dunia pantomim Indonesia ini? Mari kita simak bersama.
Apa kesibukannya akhir-akhir ini?
Sedang mempromosikan terus seni pantomim ke masyarakat umum, terutama anak anak.
Kenapa targetnya anak anak?
Belajar pantomim itu dapat menambah daya imajinasi dan sportivitas anak.
Bagaimana cara mempromosikannya?
Hingga saat ini saya selalu mendapat undangan untuk mengadakan workshop, yang selalu saya tambahkan dengan unsur imajinasi dan sportivitas anak. Saya juga masih sering show untuk memperkenalkan seni pantomim lewat media TV, dan performing off-air.
Apa perbedaan pantomim yang dulu dengan yang sekarang?
Seni pertunjukan sekarang sudah banyak berubah, karena keinginan masyarakat pun sudah berubah. Tidak lagi hanya mengandalkan gerak dan mimik saja, tapi sudah ingin sesuatu yang baru. Entah dicampur dengan magic, dance, multimedia, dan segala macam lainnya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengkombinasikan pantomim dengan unsur-unsur yang disukai masyarakat.
Apakah dengan mengkombinasikan dengan seni lain tidak akan merusak seni aslinya?
Di situlah unsur dinamis dari sebuah seni muncul. Bahwa seni yang klasik pun tetap ada, namun perkembangannya pun kita harus ikuti, karena itu sebenarnya adalah cara untuk tumbuh.
Apakah hal tersebut terjadi di Indonesia saja, atau di seluruh dunia juga?
Di seluruh dunia. Dan kita termasuk yang terlambat, karena di seluruh dunia sudah berkembang jauh dan sudah duluan. Tapi saya yakin kita bisa mengejar jika kita punya kemauan.
Apakah Anda seorang yang memperjuangkan hal ini?
Saya tidak berjuang sendiri. Saya bersama teman-teman dari komunitas pantomim. Kami share di facebook, twitter, dan mendirikan komunitas-komunitas. Memang tidak sebanyak komunitas dance atau sulap, karena ada kesulitan sendiri untuk menjadi seorang pantomimer. Perlu latihan, konsentrasi, dan imajinasi.
Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap seni ini sementara semakin banyak seni seni modern menjadi tren di antara masyarakat?
Masyarakat dari dulu sampai sekarang menghendaki yang unik, lucu, dan menghibur. Itu adalah patokan entertainmen dari dulu hingga sekarang. Berdasarkan tiga unsur itu, meskipun yang disajikan adalah pantomim klasik, tapi tetap akan digemari masyarakat.
Bagaimana untuk memulai belajar pantomim?
Awalnya tetap selalu dari pantomim yang klasik. Dari situ pengembangannya tergantung kreativitas mereka. Mungkin lima sampai 10 tahun ke depan perkembangannya akan berbeda lagi. Tapi dengan basic yang kuat, seseorang akan bisa berkembang. Kalau sudah kenal, mereka akan menjadi fanatik, akan bermain pantomim terus seumur hidupnya.
Lebih banyak dicari orang atau Anda yang mengajak orang belajar pantomim?
Saya hanya melakukan performance saja, dan otomatis orang akan datang karena keunikannya. Dari umur lima tahun sudah ada yang ingin belajar.
Apakah pantomim ini ada kejuaraan internasionalnya?
Ada. Dan Indonesia selalu diundang untuk tampil. Dari Institut Kesenian Jakarta setiap tahun ada lawatan ke luar. Tapi konsep saya sekarang masih di dalam negeri saja. Karena kalau pantomim sudah bergairah di dalam negeri, kita baru bisa tampil keluar.
Harapan untuk mendapat dukungan dari pemerintah?
Balikkan saja pertanyaannya, apa yang bisa kita berikan untuk negara? Selama ini kita berbuat untuk negara saja dulu. Lebih baik kita melakukan sesuatu yang positif, daripada melakukan hal yang negatif.
BIODATA
Nama :
Septian Dwicahyo
Lahir :
Jakarta, 4 September 1968
Pendidikan :
SMA,
Kursus Bahas Perancis
Filmografi :
Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi (1980),
Juara Cilik (1980),
Lima Sahabat (1981),
Biarkan Kami Bercinta (1984),
Gejolak Kawula Muda (1985),
Kidung Cinta (1985),
Semua Karena Ginah (1985),
Cemburu Nih Yee… (1986),
Lupus I (1987),
Lupus II (1987),
Nenek Lampir (1987),
Lintar, Ketika Musim Duren Tiba (1988),
Pengantin Remaja (1991)
Sinetron :
ACI (Aku Cinta Indonesia),
Rumah Masa Depan
(1984-1985 & 1990),
Ali Oncom (1994),
Spontan (1996-1997)











