Bagi setiap seniman, integritas dalam berkarya merupakan sesuatu yang penting. Lewat integritas itu, seniman bisa memperlihatkan sikapnya dalam berkesenian. Integritas seperti itu juga yang ingin disampaikan band emo-rock asal Bandung, Alone At Last dalam karya album terbarunya, ‘Integriti’. Satu hal yang pasti, mereka akan tetap konsisten berada di jalur musik emo-rock dan tidak ingin mengikuti tren musik yang ada.
Album ‘Integriti’ sekaligus merupakan album sophomore mereka setelah pada tahun 2008 mereka merilis album debut, ‘Jiwa’. Sejak kemunculannya lewat mini album ‘Sendiri VS Dunia’ pada tahun 2004, band yang terdiri dari Yas Budaya (vokal), Indra Hikmawan Saefullah (gitar), Rizky Hasibuan (gitar), Trian Mulia Saputra (bass), dan Muhammad Muslim (drum) ini, telah membuktikan diri sebagai band yang konsisten berkarya di genre musik emo-rock setelah banyaknya band serupa yang bubar dan memilih aliran musik yang berbeda. Pembuktian itu coba mereka ekspresikan dalam sebelas lagu yang kental dengan distorsi dan teriakan ala musik emo-rock.
Salah satu perbedaan paling kentara dari proses pembuatan album ‘Integriti’ ini yaitu kini mereka merilis album secara mandiri, setelah kedua album sebelumnya dirilis oleh indie label asal Bandung, Absolut Records. “Album ini menjadi bukti kami akhirnya merasakan sendiri merilis album secara mandiri. Kedua album sebelumnya kan di bawah label Absolut Records. Nah, album ini menjadi pembuktian kami sebetulnya, dan itu menjadi tantangan tersendiri. Kami harus benar-benar fokus dalam detil dan produksi,” tutur Yas Budaya.
Pada album ‘Integriti’ ini juga mereka mencoba menyampaikan lirik lagu yang lebih positif dan motivasional. Mereka mencoba menghindari lirik-lirik yang kelam seperti di kedua album sebelumnya. Sebagaimana judul albumnya, pesan utama yang ingin disampaikan dalam album ini menekankan pentingnya integritas sosial, agar setiap dari diri kita dapat terus semangat, tetap bersama dan bersatu melawan proses alienasi yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
“Lirik-lirik kami didapat dari apa yang dilihat dan didengar saja, kami mencoba menyampaikan sesuatu secara positif dan emosionil. Karena sejujurnya Indonesia itu butuh sesuatu yang lugas,” terang Yas Budaya yang lebih banyak bertugas menulis lirik di Alone At Last. Mereka juga mengaku jika pada album ‘Integriti’ ini menjadi fase pendewasaan bagi mereka baik dari tema yang ditawarkan maupun pada saat proses pembuatan album.
Seperti pada lagu ‘Kita Bisa’ dan ‘Takkan Terhenti Di Sini’ yang sempat dirilis secara gratis di dunia maya, merupakan sebuah semangat untuk tetap terus berjuang, sesulit apapun persoalan yang terjadi. Kedua single itu pun sempat meraih lagu yang paling banyak didengar di situs PureVolume. Lagu ‘Saat Dunia Tak Menatap Ke Arahmu’ juga mencoba berbicara agar bangkit menjalani hidup. Dalam album ‘Integriti’ ini, mereka juga mencoba untuk sedikit menyentil kritik sosial lewat lagu ‘Classis War Is A Modern War’ yang bercerita tentang perang, kemerdekaan, dan kehancuran yang selalu terjadi sepanjang sejarah manusia.
Tema cinta pun tak luput dari perhatian. Lagu tentang cinta coba mereka sampaikan dalam perspektif yang berbeda. Menurut mereka, lagu ‘Cinta’ bukan lagu cinta yang cengeng, akan tetapi sebuah lagu yang menyoal cinta pada dunia dan mengajak untuk bangkit. “Kami percaya sebagai cinta dalam bentuk positif merupakan lawan dari kebencian,” ujar Muhammad Muslim atau akrab disapa Athink.
Pada saat proses pembuatan album ini, mereka banyak dibantu oleh Satrio (gitaris ALEXA). Secara kebetulan, Alone At Last yang pernah satu panggung bersama ALEXA saat tampil di Bandung, membuat Satrio jatuh hati terhadap musik mereka. Dia pun menawarkan studionya di Jakarta untuk dijadikan tempat rekaman Alone At Last. Berkat dukungan komunitas Stand Alone Crew (sebutan fans Alone At Last), album Integriti pun berhasil habis sebanyak 1000 kopi hanya dalam rentang waktu satu bulan rilis.
Integritas sebagai Modal Berkarya
Para personil Alone At Last percaya jika album ‘Integriti’ menjadi bukti kejujuran mereka akan sesuatu yang mereka percayai yaitu musik. Hal itu tentu bukan sesuatu yang mudah. Berjalan pada sesuatu yang mereka sukai tentu bukan perkara membalikkan telapak tangan. Tak ayal, selama perjalanan satu dekade ini banyak aral menghadang dalam perjalanan karir band yang berdiri sejak 2002 ini.
“Banyak yang mencibir jika band emo nggak bakal lama, karena trennya sudah hilang. Namun kami ingin membuktikan lewat album ‘Integriti’ ini jika kami masih ada di jalan dan komunitas yang sama,” ujar Athink.
Mereka percaya jika integritas adalah bentuk kejujuran dalam berkarya. Apalagi di zaman komodifikasi budaya populer seperti sekarang ini, tentu memiliki idealisme dan integritas terhadap suatu karya menjadi sesuatu yang langka. Banyak musisi atau seniman lebih menjadi komoditas dan membuat karya-karya yang berorientasi pada tren dan pasar semata.
Seiring perjalanan dalam proses berkarya, menjaga sikap dan integritas tentu bukan suatu hal yang mudah. Untuk tetap terus berjalan sendiri di jalur musik tentu dibutuhkan pengorbanan. Trian dan Rizky misalnya harus mengorbankan keluar dari pekerjaannya agar bisa konsisten terus berada di jalur musik yang mereka sukai.
“Konsistensi penting dalam berkarya,” ujar Trian atau akrab disapa Ubey.
Menurut Athink, ketulusan seperti itu yang terjadi dalam diri masing-masing personil Alone At Last. Dan sikap itu yang menjadi modal dalam Alone At Last agar terus berkarya.
“Kepercayaan terhadap band yang harus tumbuh. Apakah band bisa menafkahi atau tidak menjadi persoalan lain. Yang pasti semua personil harus tumbuh rasa saling percayanya,” ujar Athink. “Seperti pada lagu ‘Takkan Terhenti Di Sini’, yah memang fase hidup itu harus tetap dijalani”.
—–
Foto: Didin Bahe | Editor: Intan Larasati

















