Banyak orang yang hobby bermain game, tetapi tidak banyak yang kemudian bercita-cita untuk membuat game sendiri dan bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita tersebut. Inilah yang membuat seorang Arief Widhiyasa istimewa. Ia bahkan rela meninggalkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung demi fokus membangun bisnis game developer yang ia bentuk bersama 17 orang temannya.
Di usianya yang belum genap 26 tahun, Arief kini menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) Agate Studio, game developer asal Kota Kembang pemenang berbagai penghargaan. Tim Indonesiakreatif menemui Arief di kantor Agate Studio di kawasan Setiabudi. Dengan senyum ramah ia menyambut kami dan kemudian mengantar berkeliling sambil menceritakan perjalanannya bersama Agate Studio dan kegilaannya terhadap game.
Gila Game Sejak Kecil
Arief mengenal game sejak duduk di bangku TK. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan dengan bermain berbagai game konsol. Tidak hanya menikmati permainan, Arief juga selalu terkagum dan berpikir bagaimana cara kerja game dan bagaimana sebuah benda kecil bisa menyimpan banyak sekali permainan seru. Ketertarikan itu berlanjut hingga ia bermimpi suatu saat dapat membuat game sendiri.
Sibuk bermain game tidak lantas membuat prestasinya menurun, ia justru menjadikan game sebagai motivasi untuk belajar. Saat orang tua menuntut prestasi akademik, awalnya Arief mengejar rangking kelas yang menurutnya melelahkan. Ia kemudian berubah pikiran, dan mulai mengikuti berbagai olimpiade sains.
“Ya udah deh rangking kelas gak usah, yang penting menang olimpiade dan tiap menang dibeliin game,” kenang pria kelahiran 4 April 1987 ini.
Arief menyadari banyak orang tua yang tidak mendukung anak mereka untuk medalami game karena mereka sendiri bukan generasi pemain game. Mereka hanya tahu game sebagai hiburan. Mereka khawatir anak-anaknya akan ketagihan main game, padahal kebanyakan gamers yang addict berangkat dari kekecewaan di kehidupan nyata.
“Bukan karena addict bermain game kemudian menjadi rusak, tetapi justru sebaliknya. Karena tidak menemukan solusi masalah dalam kehidupan nyata, mereka mencari masalah baru dalam game dan merasa senang saat dapat menyelesaikannya,” ujarnya.
Kegilaan Arief terhadap game terus berlanjut, hingga di bangku SMP ia mulai mengenal game di komputer. Pria yang hobi main basket ini tetap setia pada cita-citanya menjadi game developer.
“Saya cuma bercita-cita di dunia game. Kalau sekarang saya gak jadi game developer ya paling jadi gamer,” pungkasnya.
Jika diminta memilih antara game, sekolah, dan pacar, Arief dengan tegas menjawab sekolah yang tidak akan dipilih. Ia akan memilih game dan pacar yang juga suka main game. “Saya orangnya spontan, let it flow aja,” tambahnya.
Membentuk Agate Studio dengan Gaji Awal Rp 50.000
Di kampus Institut Teknologi Bandung, Arief menemukan teman-teman dengan passion yang sama. Ia bersama 17 orang rekannya sering berkumpul, berdiskusi, dan membuat game bersama. Mereka kemudian sepakat untuk membentuk Agate Studio dan mencoba memasarkan karyanya ke Eropa.
“Waktu itu susah banget jualnya, bikin 8 game paling cuma laku satu, itupun cuma 800 dollar. Hasilnya dibagi 18,” ujarnya.
Meski hasilnya belum memuaskan, Arief dan kawan-kawan tidak menyerah. Mereka terus berkarya dan bertahan walau dengan gaji Rp 50.000/bulan. Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil. Setelah dua tahun berjalan, Agate Studio dapat menyewa kantor yang luas dan menggaji 80 kru di atas UMR.
Menjadi pemimpin di usia muda menjadi tantangan tersendiri bagi Arief. Menurutnya, memimpin teman sendiri adalah hal yang seru karena tidak ada jarak dan bercandanya nyambung. Ada tantangan tersendiri saat harus merekrut karyawan yang berusia jauh lebih tua.
“Pasti ada gap di situ, gap komunikasi karena perbedaan usia. Tapi semua adalah proses pembelajaran,” tukas pria yang mengaku sering di-bully dan mudah membuat tertawa sehingga membuat suasana kerja menjadi fun.
Mencari talent di bidang game developer diakui Arief masih cukup sulit, kalaupun ada mereka belum berpikir ini sebagai bisnis terbaik di masa depan. Untuk itu, Arief bersama Agate membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin belajar dan sharing tentang pembuatan game.
“Inisiatif dari 2011 mau bikin workshop, ingin jadi wadah buat belajar. Kita juga ada forum untuk berdiskusi dan bertanya langsung,” jelasnya. Ia menambahkan, untuk bergabung di Agate yang dibutuhkan adalah integrity, attitude, performance, dan terakhir baru skill.
Banyak pengalaman berharga yang Arief lewati bersama teman-temannya di Agate. Dua turning point terbaik dalam hidupnya adalah saat memulai Agate dan setelah dua tahun menjalankan Agate, saat ia dan teman-teman masih mungkin untuk mewujudkan mimpi bersama-sama. Arief kemudian menuturkan, banyak orang yang berpikiran ketika ingin bekerja dengan penghasilan besar pasti passion-nya tidak tersalurkan, dan sebaliknya bekerja menyalurkan passion tidak menghasilkan banyak uang. Menurutnya jika sejak awal hal itu yang kita pikirkan, pasti itulah yang akan kita dapat. “Kita ingin di Agate passion tersalurkan sekaligus mendapatkan uang,” terangnya.
Baginya tidak ada kata bosan saat menjalankan sesuatu mengikuti passion. Selama dua tahun terakhir Ia belajar banyak tentang berfikir positif dan melihat dunia. “Sesuatu yang baru itu asalnya dari kita, bukan dari dunia. Dunia ini selalu baru, kalau kita berpikir dunia ini membosankan ya dunia akan membosankan,” ujarnya.
Kini Agate telah menghasilkan ratusan game yang laris di pasaran serta meraih banyak penghargaan, tapi bukan itu yang Arief anggap sebagai achievement terbesar. Achievement terbesar baginya adalah dapat melakukan apa yang ia senangi. Itulah yang ia anggap sebagai kebahagiaan, dan ia ingin membuat orang lain juga bahagia lewat game yang ia buat.
“Target visi Agate simple, ingin membuat dunia bahagia dengan games. Bagaimana kita membuat orang yang naik mobil menyenangkan, atau naik sepeda menyenangkan. Mungkin sepedanya kita kasi device nanti saat melewati rute-rute tertentu mereka dapat poin,” jelasnya.
Drop Out Kuliah demi Fokus Berbisnis Game
Memulai kuliah di tahun 2005, Arief menargetkan diri untuk menyelesaikan dalam waktu 3,5 tahun. Namun, kesibukannya di Agate membuatnya tidak dapat menyelesaikan tugas akhir sesuai target hingga memutuskan untuk drop out.
Selain karena waktu, Arief juga menyebutkan alasannya berhenti kuliah dari segi bisnis “Saat itu kita lagi butuh media supaya Agate bisa lumayan terangkat dan menurut kita ini adalah berita bagus yang bisa diangkat,” ujarnya.
Kedua orangtuanya tentu tidak langsung menerima begitu saja keputusan tersebut, butuh negosiasi panjang. Bersyukur, karena latar belakang orangtuanya adalah pengusaha mereka kemudian dapat menerima keputusan tersebut dan memberi dukungan sepenuhnya untuk membangun Agate Studio.
Dukungan keluarga sangat dirasakan oleh Arief, hingga suatu hari sang Ayah yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan internet meminta laptop-nya dan membeli sebuah modem. “Tiba-tiba beliau telpon dan tanya tentang Football Saga. Saya kaget, kok bisa tau,” ungkap sulung dari dua bersaudara ini.
Bisnis Game Indonesia di Mata Arief
Arief menceritakan pengalamannya saat diundang menghadiri Tokyo Game Show 2012. Saat itu Agate diundang bersama satu developer Indonesia lain untuk membuka stand pameran, dan Agate mewakili untuk berbicara sebagai panelis.
Banyak perbedaan yang Arief rasakan antara dunia game di Jepang dan Indonesia, salah satunya adalah maturity industry. Menurutnya, masyarakat Indonesia belum melihat game sebagai industri. Industri game di Indonesia tertinggal 25 tahun dari Jepang. Ketertinggalan ini tidak ia rasakan sebagai halangan, justru menjadi kesempatan baginya dan Agate untuk mengembangkan bisnis di Indonesia agar dapat mengejar dalam waktu yang lebih singkat, yaitu 15 tahun.
Arief menambahkan, pasar game di Indonesia sudah mulai terbentuk, tinggal mengembangkan. Banyak orang yang sudah senang bermain game sejak kecil dan kemudian ingin membuat game sendiri. Menurutnya untuk mengembangkan game di Indonesia semua semua butuh proses, tak ubahnya seperti perkembangan musik atau film Indie. Kehadiran developer game lokal lain menurut Arief bukanlah suatu ancaman. “mereka tidak saya anggap saingan, karena saingan kita adalah diri kita sendiri” ujarnya.
Profil Singkat
Nama Lengkap: Arief Widhiyasa
Tanggal Lahir: 4 April 1987
Pendidikan: Tehnik Informatika ITB angkatan 2005 (drop out)
Twitter: @clawford















