Game sekarang bukan hanya milik anak kecil lagi. Banyak orang dewasa yang hobi memainkan game. Bahkan game sekarang memiliki batasan usia, sehingga tak bisa sembarangan dimainkan bagi mereka yang belum cukup umur.
Akhir-akhir ini, dunia game Indonesia berkembang cukup pesat. Hal ini antara lain ditandai dengan munculnya studio atau perusahaan yang bergerak di bidang game developer. Salah satunya adalah Altermyth. Game developer yang bermarkas di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan ini sedang menjalani kerja sama dengan Square Enix dalam menghadirkan Final Fantasy dalam bahasa Indonesia, walaupun terbatas untuk smartphone tertentu yang berbasis Android.
Baru-baru ini juga, Altermyth bersama Agate Studio, game developer asal Indonesia lainnya, menghadiri Tokyo Game Show 2012 di bulan September lalu. Banyak pengalaman luar biasa yang mereka dapatkan di sana.
Siapa orang yang ada di balik Altermyth? Berikut kisahnya.
Gemar Game Sejak Kecil

Dari kecil, Dien Wong sudah mengenal game. Masa Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar-nya, Dien banyak bermain game Atari dan Nintendo. Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama, Dien mulai bermain dengan computer game. Dari awal dia mengenal game, Dien sudah merasa penasaran dengan cara kerja game. Seperti bagaimana cara game yang sangat komplek itu bisa masuk ke dalam kaset Nintendo yang sangat kecil itu. Sejak itu, Dien mulai ingin membuat game. Hal yang kemudian dipelajarinya saat lulus Sekolah Menengah Atas.
Untuk mendukung minatnya itu, Dien lantas mengambil jurusan ilmu komputer saat kuliah. Jurusan itu diambilnya agar bisa mempelajari programming yang memang diperlukan untuk pembuatan game.
“Awalnya saya berangkat dari teknis, karena jurusan yang saya ambil mendukung hal itu,” jelasnya.
Terlahir sebagai anak bungsu, Dien beruntung keluarganya termasuk fleksibel. Dia dibebaskan untuk mengeksplor apa yang diinginkannya tanpa disulitkan. Dirinya terjun ke dunia game dalam usia yang cukup muda, yaitu saat usianya 20 tahun pada 1999.
Ketertarikannya pada dunia game karena alasan yang simpel saja, karena dirinya senang bermain game sejak kecil. “Sama kayak yang suka baca komik ingin bisa menggambar komik, yang suka nonton film ingin jadi sutradara,” ujarnya.
Berkecimpung di dunia game selama 13 tahun tentunya memberikan banyak pengalaman yang berharga. Dirinya telah membuat game untuk Game Boy Advance dan PlayStation. “Jadi cita-cita awal saya sudah tercapai,” cetusnya sambil tersenyum.
Selain console games, Dien juga membuat game online. Yang membanggakan adalah game online tersebut bisa mendapatkan penghargaan. Saat ini Dien masih sibuk menjalankan Altermyth bersama 60 teman-temannya. Kesemuanya mengerjakan game. Kesibukannya itu merupakan hal yang luar biasa baginya, karena bisa mewujudkan cita-citanya sedari kecil.
Salah satu penghargaan yang didapat Dien selama berada di dunia game adalah saat dia membuat game bernama In Spirit Arena, game dengan genre Real Time Strategi (RTS). Game ini mendapatkan penghargaan Asia Pacific ICT. Selain itu, Dien menjadi finalis IYCE (Intenational Young Creative Entrepreneur) Award 2012 dari British Council Indonesia.
Tokyo Game Show 2012

Salah satu pengalaman yang tidak terlupakan bagi Dien adalah saat dirinya mewakili Altermyth pergi ke Tokyo untuk berpartisipasi di Tokyo Game Show 2012. Menurutnya, bisa bekerja sama dengan perusahaan yang selama ini game buatannya hanya bisa dimainkannya, bagaikan impian yang menjadi nyata.
Selama berada di Jepang, dirinya juga banyak bertemu dengan perusahaan game kelas atas, seperti SquareEnix. Hampir 80% perusahaan game di Jepang telah ditemuinya.
“Ngobrol face to face dengan mereka, berkunjung ke kantornya, apalagi bekerja sama dengan mereka. Rasanya luar biasa banget!” kisahnya bersemangat.
Tokyo Game Show September lalu meninggalkan banyak cerita yang berkesan. Pertama kalinya Altermyth diundang ke event sekelas Tokyo Game Show, terlebih bisa bersanding bersama perusahaan game besar seperti Sega, Sony, dan lain-lain.
“Yang lebih membanggakan, kita ke sana bersama Ibu Mari Elka Pangestu. Penyelenggara Tokyo Game Show senang sekali Ibu Menteri sebagai perwakilan pihak pemerintah Indonesia menyempatkan datang,” cerita Dien.
Kehadiran Ibu Mari Elka Pangestu selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah terhadap perkembangan industri game di Indonesia, terutama game yang dikembangkan oleh anak bangsa.
“Selain itu bisa menunjukkan pada pemerintah, seperti ini loh perkembangan game di dunia,” tambah Dien.
Banyak yang bisa dipelajari tim Altermyth di Tokyo Game Show 2012, seperti bagaimana mereka mempresentasikan game dan produknya, atau cara meng-organize event dan booth-nya. Antusiasme pengunjung juga sangat luar biasa.
“Bahkan banyak pengunjung yang telah mengantri di depan loket tiket sejak pukul lima pagi, padahal loket dibuka pukul sembilan pagi,” ceritanya.
Industri Game di Indonesia

Menurut Dien Wong, industri game di Indonesia sudah jauh lebih maju daripada saat dia memulai sekitar 10 tahun yang lalu. Saat ini banyak studio-studio kecil bermunculan, dan anak-anak muda sudah berani membuat game sendiri. Walaupun perkembangannya agak lambat, tapi menuju arah yang positif. Studio game yang banyak bermunculan saat ini kebanyakan karena cepatnya perkembangan teknologi digital dan internet. Hal yang tentunya sangat mendukung bagi pertumbuhan industri game di Indonesia.
Sisi positif dari makin majunya industri game di Indonesia, salah satunya adalah banyak perusahaan game dari luar negeri yang mulai melirik Indonesia. Hal ini tentunya merupakan pertanda Indonesia sudah diperhitungkan di kancah game internasional.
Altermyth sendiri selalu berusaha menghasilkan produk yang terbaik. Hal itu selalu ditekankan tiap kali studio game ini membuat produk untuk klien.
“Kita selalu menanyakan ke diri sendiri, kira-kira apa yang bisa membuat produk ini menjadi masterpiece. Jadi kita memang menjanjikan kualitas terbaik bagi klien, baik dari produk maupun service yang diberikan,” begitu komitmen Dien.
Selain itu, Altermyth ingin menciptakan produk yang luar biasa yang asli Indonesia. Bukan hanya produknya, tapi juga sumber daya manusianya.
“Kita ingin Altermyth menjadi salah satu studio game tertua di Indonesia dan menjadi legenda sendiri di kalangan penggemar game di Indonesia,” ucap Dien.
Bagi mereka yang ingin memulai terjun ke industri game, Dien menyarankan agar jangan mudah menyerah. Memulai bisnis tidak pernah mudah, terlebih bisnis game yang masih tergolong baru di Indonesia. Tidak pernah ada jaminan sukses bagi bisnis ini.

Saat berdiri pada 1 Juni 2003, Altermyth dijalankan oleh empat orang, namun sempat menjadi satu orang, yaitu Dien Wong sendiri. Pada awalnya, Altermyth membuat online game, namun karena tidak berjalan baik, maka dibuatlah konsep yang baru, yaitu membuat game untuk orang lain (klien). Dari situlah Altermyth mulai berkembang. Orang yang bergabung pada beberapa tahun awal hanya sejumlah 30 orang. Tapi sekarang telah mencapai 60 orang yang bergabung.
“Yang penting jangan pernah menyerah. Altermyth juga pernah mengalami masa-masa sulit. Kebayang kan kalau waktu itu kita menyerah, saat ini tidak akan ada Altermyth,” saran Dien.
Jika mengalami kesulitan, Dien menyarankan untuk banyak bertanya kepada rekan-rekan komunitas. “Berkolaborasi juga bisa membantu bagi kelangsungan bisnis kita,” tambahnya.
Terakhir, Dien Wong menyampaikan komentarnya terhadap indonesiakreatif.net. “Indonesiakreatif.net harus bisa memposisikan diri sebagai tujuan informasi bagi anak muda kreatif. Yang diangkat di portal itu merupakan wakil dari kreativitas Indonesia, karena itu harus diseleksi agar lebih representatif.”
BIODATA
Nama Lengkap : Wong Lok Dien
Tempat/Tgl. Lahir 25 – Februari – 1979
Status : menikah
Email : dienw@altermyth.com
Twitter : @dienw
Facebook : www.facebook.com/dienw
Pendidikan dan Pelatihan : Univ. Bina Nusantara, angkatan 1996
Daftar Prestasi : Asia-Pacific ICT Awards 2006, R&D Category, for Inspirit Arena.
Faculty Excellence Award, Odd Semester 2006/2007, Bina Nusantara University, International Program.
Faculty Excellence Award, Odd Semester 2011/2012, Bina Nusantara University, International Program.
British Council International Young Creative Enterpreneur Award, Indonesian finalist 2012, Screen & Interactive Category.
Keahlian dan Spesialisasi :
Game Development, Game Design, Game Programing, Product Development, Strategic Planing
Pengalaman Kerja Bidang Game : 1999 – 2002 Senior Programmer at Matahari Studio, 2003 – Now, CEO at Altermyth











