Menyontek sering kali dipilih para siswa sebagai jalan pintas untuk mendapat nilai yang bagus tanpa harus bersusah payah belajar. Padahal kebiasaan menyontek akan menjadi cikal bakal kebiasaan perilaku tidak jujur pada diri sendiri maupun orang lain. Berbagai upaya telah dilakukan oleh semua pihak di sekolah untuk menghilangkan kebiasaan menyontek, mulai dari pengawasan yang sangat ketat dari guru pengawas sampai penggunaan Closed Circuit Television (CCTV) di ruang kelas. Namun tetap saja ketika ujian seringkali ditemukan siswa yang melakukan perbuatan curang tersebut, karena takut tidak lulus ujian. Apalagi beberapa waktu lalu pernah ramai diberitakan salah satu kasus di sekolah di Indonesia, yang mana ada salah satu oknum guru sengaja menyuruh siswa untuk menyontek supaya semuanya lulus ujian nasional.
Atas keprihatianan tersebut, Firli Herdiana merasa berkewajiban untuk mengajak siswa dan guru guna mengerjakan soal ujian dengan jujur. Langkah yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pasundan (Unpas) Bandung ini yakni dengan membuat game Nyontex. Meskipun namanya Nyontex, bukan berarti orang yang bermain game ini diajarkan berbagai trik menyontek tanpa diketahui oleh orang lain, melainkan dalam permainan yang dibuat pria kelahiran 22 Desember 1992 ini, siswa maupun guru akan merasa malu dengan perbuatan curang tersebut.
Game Edukasi
Firli menceritakan, game Nyontex tersebut dia ciptakan ketika akan mengikuti perlombaan Kreasi Games Flash Tingkat Nasional pada tahun 2011. Tema dari kompetisi pembuatan game tersebut yaitu bukan hanya bertujuan mengajak orang untuk bermain, tetapi juga mengedukasi orang yang memainkan game tersebut.
“Kebetulan ada lomba itu jadi ikutan, awalnya iseng-iseng untuk asah kemampuan,” tutur Firli yang pernah menyabet Juara Favorit Desain Grafis Kategori SMA/sederajat Tingkat Jawa Barat pada tahun 2010.
Akhirnya Firli menjatuhkan pilihan untuk menciptakan game Nyontek yang dia beri nama dengan mengganti huruf “k” pada kata nyontek menjadi “x”. Dia melihat fenomena menyontek di sekolah sudah sangat parah, mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA, dan tidak hanya dilakukan oleh siswa namun juga guru.
“Waktu yang lama untuk pembuatan game Nyontex ini di pemilihan konsep yang makan waktu sampai sebulan, karena dalam game ini ada tiga level yaitu SD, SMP, dan SMA. Sementara eksekusi menjadi sebuah game lebih singkat, cuma dua minggu,” sambungnya.
Dalam permainan game tersebut, game Nyontex menggambarkan orang yang bermain game tersebut sebagai pengawas ujian nasional dalam satu ruangan kelas yang diisi oleh 9 siswa. Jika ada gerakan mencurigakan dari para siswa tersebut, seperti tengok kanan-kiri, maka pengawas bisa menembak siswa itu dengan senjata berupa kertas. Jika tepat sasaran maka pengawas akan mendapatkan satu poin, sedangkan jika salah sasaran, maka akan dikurangi satu poin. Berkat hasil kreativitasnya tersebut, Firli mendapatkan penghargaan sebagai juara III Kreasi Games Flash Tingkat Nasional untuk kategori mahasiswa.
Setelah mengikuti perlombaan tersebut, Firli tidak berniat menyebarkan game tersebut dengan cara download. Dia lebih senang menggunakan game Nyontex tersebut untuk materi seminar, maupun berbagai pameran teknologi kreatif yang mengajak langsung audiens atau pengunjung agar tidak menyontek dalam hal apapun.
“Saya lebih suka mengenalkan game Nyontex ini melalui berbagai acara, seperti seminar maupun pameran. Beberapa waktu lalu dengan game Nyontex, saya pernah menjadi pemateri di hadapan mahasiswa calon guru di UPI Bandung. Dengan cara begitu saya akan mendapatkan saran langsung dari mereka yang mencoba memainkan game ini, sehingga saya tahu mana yang harus direvisi untuk disempurnakan. Berbeda kalau disebarkan dengan cara download di internet, mereka hanya akan memainkan game-nya saja tanpa tahu maksud dari game tersebut,” terangnya.
Kesadaran untuk Jujur
Walaupun game Nyontex yang diciptakan oleh Firli terdiri dari level SD, SMP, dan SMA, namun game ini ditujukan untuk dimainkan oleh anak-anak yang masih duduk di tingkat SD. Selain permainannya yang sederhana, game ini bisa memupuk siswa-siswa yang masih polos untuk tidak berbuat curang dengan menyontek. Karena setelah melihat dan memainkan game tersebut, anak-anak maupun guru menjadi sadar bahwa ketika ujian mereka selalu diawasi oleh pengawas.
“Menyontek itu salah. Dengan main game ini, murid tahu bahwa guru mengawasi mereka ketika ujian, jadi murid segan buat menyontek, dan tidak akan ada lagi oknum guru yang membolehkan murid untuk menyontek,” paparnya.
Firli melihat kebanyakan game yang dikenal oleh masyarakat adalah game yang bertujuan untuk bersenang-senang, tanpa memberikan efek yang positif untuk perkembangan anak-anaknya, dan orang tua sering berpandangan negatif terhadap game yang dimainkan oleh anak-anaknya. Oleh karena itu dengan game yang diciptakannya, dia berharap dapat memberikan manfaat yang baik untuk anak-anak yang suka bermain game.
“Saya waktu kecil sampai sekarang juga senang bermain game, namun di samping bermain game saya selalu kepikiran bagaimana caranya saya bisa membuat game sendiri,” ucap Firli yang senang bereksplorasi dengan dunia desain grafis sejak SMP ini.
Perkembangan industri dan peminat game di Indonesia dalam pandangan Firli berkembang sangat pesat dan cepat, terutama didukung oleh perkembangan teknologi yang mempermudahkan orang untuk mendownload aplikasi game tersebut melalui gadget yang mereka miliki
“Sekarang tinggal bagaimana cara pengemasan game tersebut daripada pembuatannya sehingga diminati masyarakat,” tuturnya.
Biodata
Nama: Firli Herdiana
Alamat: Jl. Pelesiran No.6 Tamansari Bandung 40132
Tempat dan Tanggal Lahir: Bandung, 22 Desember 1992
Email: firliherdiana@yahoo.com
Blog Portfolio: http://firliherdiana.blogspot.com
Facebook: http://facebook.com/firli.herdiana
Twitter : @firliMotion
Pendidikan:
- SD Pertiwi 1 Bandung / 1998 – 2004
- SMPN 15 Bandung / 2004 – 2007
- SMAN 19 Bandung / 2007 – 2010
- Universitas Pasundan – Desain Komunikasi Visual / 2010 – Sedang Berlanjut
Prestasi:
1. Juara 3 Kreasi Game Flash – Kategori Mahasiswa – Tingkat Nasional
2. Juara Favorit Desain Grafis – Kategori SMA/Se-derajat – Tingkat Jawa Barat
3. Anugerah Karya Mahasiswa Kebaruan Terbaik – Kriyasana Mahasiswa Desain Grafis Indonesia 9 (KMDGI IX) – bersama DKV UNPAS
4. Pemateri Pelatihan Desain Grafis – Universitas Pendidikan Indonesia
5. Juri – Lomba Mading FKIP UNPAS
6. Peserta Pameran Poster Branding Brandung – Forum Desain Grafis Indonesia (FDGI) 2011
7. Peserta Pameran Poster 200 Tahun Bandung – Forum Desain Grafis Indonesia (FDGI) 2010
Organisasi yang diikuiti:
1. Ketua Umum Himpunan Desain Komunikasi Visual UNPAS (2011 – 2012)
2. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Seni dan Sastra UNPAS (2012 – 2013)
—–
Foto: Yatni Setianingsih dan dok. Firli Herdiana | Editor: Intan Larasati
















idenya kreatif parah