Mengenal dan menikmati animasi sejak kecil, membuat saya terus terdorong untuk mempelajari dan mendalami animasi dengan segala jenis dan bentuknya hingga sekarang. Diawali dari kesukaan untuk menggambar sejak kecil pula, hobi yang saya tekuni mulai terwujud satu persatu dengan berbagai partisipasi dalam perlombaan. Hingga menelurkan karya komik independen sendiri untuk dibagikan dan dipamerkan kepada teman dan komunitas komik sewaktu menduduki bangku kuliah. Karya dari hobi ini pun perlahan membuahkan hasil ketika saya memasuki dunia kerja pertama kali di media cetak (MTV Trax/Trax Magazine) di tahun 2002.
Jika dulu sewaktu kecil gambar saya banyak dipengaruhi oleh serial Si Unyil dan Pak Raden-nya, maka di awal karir, saya diberi kesempatan besar menciptakan karakter dan menyusun cerita untuknya selama satu edisi tiap bulannya, hingga kurang lebih lima tahun sejak majalah tersebut berdiri. Maka lahirlah karya komik bulanan pertama saya di media cetak, yaitu komik Tee and The Traxhead yang diasuh sepenuhnya oleh saya. Dari sanalah pengetahuan saya diasah, terutama tentang bagaimana menyusun cerita dengan tenggat yang sangat cepat, khas media cetak. Tidak hanya sekedar bercerita, tetapi juga dituntut bercerita sekreatif mungkin dengan bumbu humor yang sesuai pada masanya. Namun sayangnya, saya sendiri mengesampingkan kualitas gambar dari saya pribadi. Mungkin karena pada masa itu saya sangat terpengaruh karya-karya absurd dari MTV yang lebih mengedepankan keliaran gambar dan cerita. Pada 2004/2005 mulailah saya mengenal animasi dan mempelajarinya, baik secara non formal atau pun otodidak.
Animasi pertama saya juga muncul secara liar, tidak terkonsep dan terencana. Hanya ada rencana meminjam peralatan kamera dan mencari solusi membuat karya animasi yang cepat dengan alur cerita yang tidak lambat. Maka dimulailah petualangan saya dalam berkembang mempelajari membuat karya animasi. Lahirlah Help!, karya pertama saya menggunakan kapur dan papan tulis dengan menggunakan teknik fotografi dan animasi stopmotion. Dari alat pinjaman dan cerita dadakan ini pula, datang beragam penghargaan atas karya singkat tersebut. Dan pada saat itu pula saya tersadarkan bahwa saya harus menghasilkan karya yang lebih baik lagi, lebih rapi lagi. Tidak sekedar liar berkarya, tetapi juga berpikir dalam berkarya.
Maka mulailah saya mendalami teknik animasi stopmotion sebagai cara termudah mempelajari animasi. The most basic thing first and maybe the cheapest di antara pilihan belajar animasi lain yang membutuhkan beragam software, hardware, dan waktu belajar yang lebih lama. Itu pikir saya pada saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata tidak semudah itu juga untuk berkarya. Juga tidak semurah itu menghasilkan karya. Karena ternyata mempelajari dan membuat karya stopmotion sangat mahal dalam hal waktu dan kesabaran.
Tapi saya tidak berhenti di situ, mulailah saya menularkan paham bahwa membuat animasi itu tidak harus bergantung ke software bajakan, tidak harus mahal-mahal dalam harga produksi, tidak harus sempurna dalam menggambar, dan tidak harus berjam-jam menghabiskan waktu di depan komputer. Pemahaman saya yang sederhana ini saya tularkan ke murid-murid saya di kelas animasi sebuah lembaga non formal, juga ke kawan-kawan terdekat. Lalu lahirlah keinginan menghasilkan karya stopmotion bersama teman-teman yang sepaham. Dan lahirlah komunitas belajar kecil kami, Lanting. Dengan Lanting, kami belajar berbagi ide, merumuskan bersama, membuat pemetaan cerita, brainstorming ide, hingga eksekusi akhir menghasilkan karya terbaik.
Karya pertama Lanting, Invasion of The Penguins, berawal dari ide kecil tentang penguin dan kulkas. Setelah melalui proses brainstorming, maka bergeraklah kami membuat karya animasi stopmotion dengan clay pertama kami. Jauh dari sempurna, tapi kami dipuaskan dengan proses belajarnya yang sangat berharga buat kami di depan. Lalu lahirlah karya-karya berikutnya, yang tidak hanya menggunakan teknik animasi stopmotion, tetapi juga dengan teknik yang kami bisa, 2D digital dan traditional animation. Seperti contohnya dalam karya animasi untuk video musik The Titans yang berjumlah kurang lebih tujuh klip. Semua dikerjakan dengan teknik 2D digital animation dengan kru produksi hanya berempat, di luar saya sebagai produser dan director. Proses kreatifnya berawal dari lirik lagu mereka yang kemudian kami breakdown menjadi runutan cerita dan akhirnya akan saling silang pada klip-klip tertentu.
Lain lagi dengan karya kami berjudul Little Tree Little Me. Dalam cerita pendek berteknik animasi 2D ini kami luangkan waktu merumuskan cerita secara group discussion dengan tim kecil. Dari cerita sederhana tentang sebuah pohon, maka dikembangkan cerita yang juga sederhana tentang cinta, keluarga, dan alam dalam balutan satu cerita utuh dan saling dukung dengan elemen lain dalam filmnya, seperti suara, ambience, dan musik. Untuk karya stopmotion pun begitu. Proses kreatifnya pun meningkat dari karya-karya sebelumnya. Itu terjadi pula untuk karya berikut di film Balloons yang saya hasilkan di Osaka, Jepang. Awalnya, bukan cerita tentang balon yang ingin saya kerjakan di sana, melainkan sebuah karya tentang pertemanan seorang anak dengan pohon yang berlari di samping kereta yang ditumpanginya. Saya pikir ide tersebut sesuai dengan kultur di Jepang yang dekat dengan kereta. Idenya pun sudah diterjemahkan dalam bentuk komik panel dan siap dibuat. Tapi ternyata semua terkendala biaya dan waktu, sehingga ide tersebut tidak akan cukup dipenuhi dalam waktu singkat yang saya punya sewaktu melakukan riset di Jepang. Maka lahirlah cerita anak kecil dengan balonnya dalam sekejap. Tidak secepat itu juga sebetulnya, ide-ide itu sebetulnya sudah terekam dalam buku sketsa kecil saya yang selalu saya bawa ke mana-mana. Di buku itulah, saya terbiasa mencatat dan merekam gambar untuk ide-ide di masa datang.
Mulai dari sketsa yang bercerita ataupun yang tidak. Atau mungkin hanya barisan kalimat atau ide yang muncul di perjalanan. Dari catatan kecil itu, biasanya saya kembangkan dengan pemetaan di saat dibutuhkan. Maka lahirlah cerita dalam Balloons. Dalam teknik stopmotion, banyak yang perlu dipersiapkan pada proses pra-produksinya. Di luar cerita, karakter, dan storyboard, kita diharuskan mempersiapkan dunianya sendiri. Lalu proses belajar itu dimulai kembali, membuat armature (tulang dan sendi untuk boneka karakternya), menjahit pakaian, membangun set, dan mempersiapkan tata cahaya untuk pengambilan gambarnya. Lalu lahirlah karya kecil berikutnya, Balloons, yang membawa pulang penghargaan khusus dewan juri dalam Piala Citra 2011 lalu. Proses belajar ini masih terus berlanjut hingga sekarang, dan selalu diaplikasikan dalam berbagai karya berikutnya. Baik karya sendiri ataupun karya pesanan klien.
Proses belajar yang sudah ditekuni bertahun-tahun ini terus diulang dan dikembangkan untuk mencapai hasil terbaik untuk karya terbaik berikutnya. Dan tidak lupa, kami pun masih bersemangat membagi pengetahuan kami kepada masyarakat umum di berbagai kalangan usia di Indonesia. Tentang apa itu animasi, bagaimana membuatnya, dan apapun yang bisa memenuhi kehausan kami akan pengetahuan animasi dengan berbagai workshop yang kami adakan. Semata-mata untuk membangun apresiasi masyarakat akan karya anak bangsa, dan memperkenalkan sumber keahlian mandiri yang juga menghasilkan dari dunia animasi dengan teknik stopmotion ini.
Firman Widyasmara / Lanting Studio E: firmanwidyasmara@gmail.com firmanwidyasmara.com vimeo.com/firmanwidyasmara youtube.com/firmanwidyasmara @firmanwijasmara—
Translator: Beta Divotya



















