Salah satu karya yang cukup menguras otak dilakukan adalah membuat cerpen; cerita pendek. Meski pendek, kadang ini menjadi masalah tersendiri. Pasalnya tidak mudah membuat cerita dengan ruang yang terbatas. Apalagi jika seseorang sudah terbisa menulis dengan narasi panjang semisal novel. Cerpen oleh sebagian orang disebut sebuah karya yang padat, namun harus dikemas secara memikat dengan bumbu sesuai takaran. Salah meracik, maka rasanya menjadi hambar, alias tidak enak, dan sang pengarang akan segera kehilangan pembacanya. Tak berlebihan jika dibilang cerpen yang bagus adalah cerpen yang pembukanya menggigit dan penutupnya menendang. Berpikir keras dan tak lelah merevisi cerpen inilah hari-hari yang biasa dilakukan oleh cerpenis muda berbakat asal Banten, Niduparas Erlang.
Mantan Buruh Pabrik
Remaja kelahiran Tangerang ini mengawali karir dalam dunia kepenulisan pada tahun 2005 silam. Selepas lulus STM, ia pun menjadi buruh di kawasan industri di Tangerang. Awalnya, yang banyak ia tulis bukanlah cerpen, akan tetapi sajak. Sambil bekerja, Nidu, begitu ia akrab disapa, menyempatkan diri menulis dan mengirimkan cerpennya. Namun demi kesempatan publikasi karya, Nidu juga mengirimkan sajak-sajaknya ke media lokal dan juga nasional. Hingga kemudian karyanya mulai bermunculan, dan namanya mulia diperhitungkan sebagai salah satu penyair muda asal Banten. Nidu pun kerap kali diundang menjadi pembicara untuk membahas puisi-puisinya, hingga kemudian ia memutuskan untuk berhenti menjadi buruh pabrik dan nekat masuk ke perguruan tinggi. Hingga kini Nidu menjadi salah satu mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dan kembali banyak menulis cerpen.
Nidu yang lahir dari kondisi keluarga sederhana, harus mengotak-atik isi kepala agar ia bisa tetap duduk di bangku kuliahnya. Maka ia memeras otak dan terus melakukan kerja-kerja kreatif, dalam hal ini adalah menulis. Nidu pun tak hanya menggeluti puisi, namun ia menjajal kemampuan permainan diksi dan juga imajinasi liarnya yang sudah dijejali ragam bacaan, dengan cara menceburkan diri menjadi seorang cerpenis. Tak hanya menulis cerpen untuk popularitas atau juga iseng saja, namun Nidu menggelutinya dengan serius. Tujuannya, selain tak ingin karyanya biasa-biasa saja, ia juga membutuhkan uang agar bisa tetap kuliah. Tak ada cara lain, selain berjuang keras menghasilkan karya yang bagus dan bagus lagi. Nidu mengakui, ia menulis cerpen untuk menyambung hidup dan membiayai pendidikannya.
Niduparas Erlang yang lahir di Serang 11 Oktober 1986 ini, sekarang masih aktif sebagai mahasiswa tingkat akhir di kampusnya. Hari-hari Nidu dihabiskan dengan menulis dan menulis cerpen untuk dikirim ke media lokal serta nasional. Sesekali ia harus mempertarungkan karyanya habis-habiskan pada ajang lomba menulis cerpen dan bersaing dengan penulis lainnya. Gagal sekali dua kali tak membuatnya surut. Ia harus menulis dengan bagus kalau ingin mendapatkan hadiah berupa uang. Begitulah motivasi itu kuat menjadikannya ulet dan tekun menulis cerpen agar semakin membaik. Nidu mengaku, bahwa menulis cerpen saat ini adalah ritual wajib di hidupnya sekarang.
Terbang ke Bali
Saat disambangi indonesiakreatif.net, Nidu seperti biasa sedang berkumpul dengan teman-teman di markas Kubah Budaya, Komplek Bumi Mutiara Serang Blok O no 16. Nidu yakin kalau kemampuannya masih terbatas dan ia terus berusaha menyerap ilmu sastra di komunitas ini. Selain itu di Kubah Budaya juga, ia kerap kali diminta menjadi komentator untuk karya adik-adik tingkatnya di kampus.
Nidu yang pernah menjabat ketua Belistra (Bengkel Menulis Sastra) pada tahun 2009 lalu ini pada akhirnya pelan-pelan mulai menuai kerja keras dan aliran deras keringat kesungguhannya. Ini terbukti saat ia diundang karena karyanya lolos seleksi pada ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) pada Oktober 2012 lalu. Sebagaimana diketahui, ajang ini cukup bergengsi dan berkelas bagi para penulis di Indonesia. Hal dikarenakan tidak mudah untuk lolos seleksi para kurator yang terdiri dari penulis dan budayawan kelas kakap Indonesia. Nidu menjadi salah satu dari 15 penulis muda berbakat Indonesia dengan jumlah total pengirim mencapai 279 penulis yang mengirimkan karyanya berupa novel, cerpen, puisi, dan esai. Dia mengirimkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul ‘La Rangku’. Nama-nama dewan kurator yang terdiri dari Saut Poltak Tambunan, Acep Zamzam Noor, dan Cok Sawitri, yang notabene nama besar di dunia sastra, sempat membuat nyali Nidu menciut, tapi dirinya yakin ini adalah kesempatan, karena belum tentu tahun depan ia bisa ikut lagi.
Acara UWRF yang sudah berlangsung sejak 2004 dan melibatkan lebih dari 35 negara peserta ini, bagi Nidu adalah sebuah prestasi yang membanggakan dirinya. Tidak pernah terbayangkan bahwa dari kerja kerasnya menulis cerpen, ia bisa berangkat ke Bali dan bertemu dengan penulis-penulis besar lainnya. Tak hanya bertemu, Nidu pun mendapatkan kesempatan menjadi pembicara yang memaparkan cerpen karyanya tersebut.
Nidu beruntung, karena ia pernah mengikuti lomba menulis di Surabaya. Buku ‘La Rangku’ adalah kumpulan cerpen yang menang Juara I pada Lomba Manuskrip kategori Cerita Pendek, di Ajang Festival Seni Surabaya tahun 2011. Setelah menang, kemudian dicetak oleh penerbit Selaras Publishing dan Yayasan Seni Surabaya. Karena syarat untuk mengikuti UWRF adalah harus mengirimkan karya sastra dalam bentuk apa saja, maka buku ‘La Rangku’ pun segera dikirim. Hasilnya, Nidu pun lolos seleksi. Ia pun semakin memantapkan diri menulis cerpen adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari hidupnya. Selamat!
—–
Foto: Istimewa | Editor: Intan Larasati | Translator: Beta D. Adiwidjaja
















