
Mungkin Remy Sylado merupakan salah satu sumber daya manusia yang paling dibutuhkan dalam dunia seni Indonesia. Terlahir dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong atau Japi Tambajong di Malino, Makassar, 12 Juli 1945, Remy kecil menghabiskan masa kecilnya di Semarang dan Solo. Nama Remy Sylado biasa juga ditulis dengan angka 23761. Angka itu diambilnya dari chord pertama lirik lagu All My Loving karya The Beatles. Semua bidang seni sudah ia jajal, dari menulis puisi, novel, esai, hingga naskah drama. Ia juga berkecimpung dalam seni musik, seni rupa, dan terutama seni teater.
Opa berumur 64 tahun ini memiliki kegemaran yang cukup nyentrik. Warna putih mendominasi penampilannya, dari baju, celana, topi, hingga mobil. Memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), dan menjabat sebagai ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.
Dalam beberapa karyanya, kata-kata Indonesia lama yang sudah mulai dilupakan orang, ia angkat sebagai bentuk pelestarian akan bahasa Indonesia. Apalagi di dalam karyanya “9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing“, kita makin dibuat mengerti dari mana asal bahasa Indonesia yang sesungguhnya.
Kualitas tulisan Remy Sylado tidak dapat diragukan lagi. Seluruh karyanya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Dari membongkar arsip tua di Perpustakaan Nasional hingga menelusuri pasar buku tua di dalam dan luar negeri menjadi santapannya setiap ia ingin membuat sebuah karya tulis. Yang khas dari tulisannya selain fakta-fakta yang valid, ia juga membagi ilmu sejarah terhadap pembacanya. Sejarah Belanda, Perancis, Cina, yang semuanya terintegrasi dengan sejarah Indonesia. Uniknya, sejumlah novel karya Remy, sebelum diterbitkan dalam sebuah buku terlebih dahulu dimuat di surat kabar lokal yang menjadi tempat sejarah tersebut lahir dan berkembang. Ca Bau Kan sebelumnya menjadi cerita bersambung di Harian Republika, Parijs van Java berseri di Koran Tempo, dan Kembang Jepun juga sempat menjadi cerita bersambung di Harian Surya Surabaya, ataupun Sam Po Kong yang dimuat di Suara Merdeka Semarang.
Seniman yang kerap menulis dengan mesin ketiknya ini selain berkecimpung di dunia seni, juga memiliki ketertarikan tersendiri terhadap ilmu agama. Di luar kegiatannya sebagai penulis, ia sering diundang untuk berceramah teologi. Dalam dunia sastra, Remy Sylado dengan berani menghadapi pandangan umum terhadap sastra. Ia juga salah satu pelopor penulisan puisi mbeling, atau puisi yang tidak terpaku pada kaidah-kaidah sastra yang kaku. Ia menjelaskan bahwa tidak ada batasan dalam sastra, semua orang dapat menulis sastra. Lewat gerakan puisi semacam itu dunia perpuisian Indonesia ketika itu menjadi geger, karena ia menentang penulisan puisi lirik ala majalah sastra Horison.
Besar dan bermukim di Bandung membuat Remy tumbuh sebagai insan kreatif. Di sanalah kekreatifannya diasah sejak tahun 1970an sebelum merantau ke Jakarta. Ia berharap Bandung menjadi kota budaya yang banyak melahirkan seniman tidak hanya dalam bidang musik saja tetapi juga dalam bidang-bidang lainnya yang lebih menggemparkan dari tahun-tahun sebelumnya. Selain pernah menjadi Ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung tahun 1977, ia juga memiliki beberapa penghargaan atas karya-karyanya. Sebut saja novel Kerudung Merah Kirmizi yang memenangkan Khatulistiwa Literary Award (KLA) tahun 2001-2002, ataupun Anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Negara karena kepeloporannya di bidang kesenian kontemporer.
Dunia film juga dirambah pria yang memiliki istri bernama Emmy Louise Maria, yaitu dengan mengizinkan Nia Dinata mengangkat salah satu novelnya yang berjudul Ca Bau Kan. Banyak masyarakat yang bertanya-tanya ataupun menyesalkan keputusan Remy Sylado dalam mengizinkan karyanya diangkat ke film, karena bisa saja itu “merusak” isi cerita. Namun Remy dengan gamblang menjelaskan dalam salah satu seminarnya di Universitas Indonesia, “Jika saya sudah memutuskan untuk mengizinkan seorang sutradara mengutak-atik karya saya, itu berarti hak sang sutradara untuk menginterpretasi novel tersebut. Karena kita ke bioskop untuk menonton film, bukan untuk menonton novel”.
Biografi Singkat Pendidikan : Akademi Kesenian Surakarta, Akademi Teater Nasional Indonesia (Solo), Akademi Bahasa Asing (Jakarta).
Karya Novel : Cau-Bau Kan, Kerygma, Kembang Jepun, Paris Van Java, Kerudung Merah Kirmizi,’Menunggu Matahari Melbourne, Sam Po Kong, Puisi Mbeling, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, Boulevard De Clichy.
Karya Seni Akting : Catatan-catatan Dasar Seni kreatif Seorang Aktor (studi /kajian, 2000), Siau Ling (drama 2001), Kerudung Merah Kirmizi (2002) .
Filmografi : Pelarian (1973), Dua Kribo (1977), Mawar Cinta Berduri Duka (1981), Tinggal Sesaat Lagi (1986), Akibat Kanker Payudara (1987), Dua Dari Tiga Laki-Laki (1989), Blok M (1990), Taksi (1990), Gadis Metropolis (1992),
Sinetron : Siti Nurbaya (1994), Mahkota Majapahit (1994), Bunga Sutra (1997).
Kredit Foto: Tempo & Lidah Ibu












