“Ini bukan masalah tren, tapi kita sadar bahwa kalau perusahaan furnitur tidak berusaha ramah lingkungan, dalam 10 tahun Indonesia bisa kehabisan kayu”
(Satya Brahmantya)

Konsep ramah lingkungan Satya Brahmantya dibawa saat pertama kali ia bergabung dengan PT. Lunar Cipta Kreasi pada tahun 2007. Kala itu Lunar yang bergerak di bidang furnitur dan aksesoris rumah dalam keadaan yang sulit. Namun bagi Bram (panggilan akrab Satya), konsep ini bukan sekedar sebagai upaya untuk membangkitkan Lunar kembali. Lebih dari itu, konsep ini memang tidak bisa ditawar lagi harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan furnitur demi keberlangsungan lingkungan di masa yang akan datang, bukan soal gaya-gayaan atau mengikuti tren. “Ini bukan masalah tren, tapi kita sadar bahwa kalau perusahaan furnitur tidak berusaha ramah lingkungan, dalam 10 tahun Indonesia bisa kehabisan kayu,” tegas kelahiran 7 Juli 1975 ini.
The Sustainability Concept
Kata unik rasanya tidak cukup untuk menjelaskan produk-produk Lunar karena produk-produk mereka bukan hanya berbeda dari yang lain tapi juga menawarkan satu hal: kepedulian. Menurut Bram, konsep Lunar adalah kepedulian terhadap keberlangsungan planet bumi yang berarti menjaga keseimbangan antara lingkungan, sosial, dan ekonomi. Inilah yang lazim disebut dengan konsep Sustainability. “Sustainability ini sebenarnya berbeda dengan konsep Green Product tapi orang masih salah kaprah kadang-kadang,” ujar Bram.
Konsep green product pada dasarnya adalah produk yang sangat ramah lingkungan dan tanpa kompromi tidak boleh merusak lingkungan sedikit pun. Sementara konsep Sustainability memperbolehkan untuk mengkonsumsi dari alam tapi harus diikuti dengan konservasi yang seimbang. Lebih dari itu ada sisi sosial dan ekonomi yang harus dipenuhi pada konsep Sustainability. “Produk sangat green, tapi harga mahal, enggak ada orang yang beli, berarti ga sustainable, produk murah, banyak yang beli, tapi merusak lingkungan, enggak sustainable, dan perusahaan kaya tapi orang sekitar ga bisa makan artinya enggak sustainable juga,” Bram lebih lanjut menjelaskan.
Bram memiliki tanggung jawab penuh dalam merencanakan tahap demi tahap pembuatan setiap produk di Lunar dan dalam melakukan ini ia benar-benar menerapkan konsep Sustainability secara detil mulai dari desain, pemilihan bahan baku, sampai pemanfaatan energi dalam produksi. Dalam pemilihan bahan baku Lunar menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan manufaktur untuk mendapatkan berbagai sisa-sisa bahan yang tidak terpakai seperti tunggul jati, kayu jati yang sudah mati, sisa-sisa kaca, kulit labu dari industri makanan, residu kulit, kayu sonokeling atau kayu non industri yang lain, sampai kain batik yang dipakai ulang. Secara keseluruhan, produk-produk lunar umumnya menggunakan lebih dari 50% bahan daur ulang sementara sisanya adalah bahan-bahan dengan jumlah berlimpah dan selalu tersedia di alam.
Produksinya dilakukan dengan menghemat energi sebanyak mungkin. Karena Lunar tidak melakukan produksi masal, energi yang dipakai bisa ditekan dan bisa menggunakan peralatan murah yang tidak mengkonsumsi terlalu banyak energi. Konsep Sustainability juga selalu diterapkan dalam hal transportasi. “Beli kayu di Bojonegoro mungkin lebih murah tapi karena membutuhkan bensin lebih banyak untuk mengirim ke sini, kita memilih beli kayu di Yogyakarta meski pun lebih mahal, istilahnya kita ingin mengurangi carboon footprint,” tutur Bram.
Pasar produk-produk Lunar sebagian besar berada di luar negeri seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia. Ini merupakan suatu pencapaian tersendiri karena negara-negara di luar pada umumnya sudah mempunyai perhatian yang kuat terhadap isu pelestarian lingkungan. Di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia pada umumnya memiliki regulasi yang ketat dalam mengimpor barang furnitur terutama untuk bahan dasar kayu dan mengharuskan pengirim memiliki sertifikat ramah lingkungan.
“Buyer luar biasanya nanyain sertifikat FSC (Forest Stewardship Council) karena memang sudah menjadi regulasi di negaranya, dan untuk mengurus FSC ini di Indonesia sangat mahal, karena enggak ada perwakilan langsung di Indonesia, dan belum adanya kesadaran dari pemerintah untuk membantu dalam hal sertifikasi ini,” jelas Bram. Sementara itu Jepang memiliki peraturan tersendiri yang lebih sulit dipenuhi sehingga tak banyak yang bisa melakukan ekspor ke sana. “Untuk Jepang biasanya kita harus ngirim sampel dulu untuk diteliti oleh mereka, 6 bulan baru keluar hasilnya, setelah itu 6 bulan berikutnya baru mereka order, dan ini berlaku untuk setiap produk,” jelas Bram lagi.












