
Jika ada anak muda yang kerap kali mewakili bangsanya dalam menyajikan jazz dalam berbagai event nasional dan Internasional, selintas terbesit pikiran kita pada Barry Likumahua dan BLP (Barry Likumahua Project). Mengaku bahwa dirinya memainkan “jazz yang benar”, dia berharap bahwa masyarakat tidak menyalahartikan musik jazz dengan musik yang “mengaku jazz” yang cukup diminati masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Tapi sebelum melangkah kesitu, mari kita simak darimana datangnya jazz marvel yang satu ini.
Jazz is in the blood
Barry Likumahua, memulai kecintaannya pada musik karena ia besar dalam keluarga musik. Orang tuanya, Benny dan Ria Likumahua adalah pasangan musisi yang sangat mencintai seni. Bayangkan, 2 minggu sebelum Barry lahir, sang ibu masih tampil dalam sebuah event untuk bernyanyi. Tak heran sejak umur 4 tahun, Barry sudah memutuskan untuk menjadi musisi. Tidak ada cita-cita lainya yang bisa ia tekuni dengan serius, termasuk menjadi astronot atau superhero. Pada akhirnya, ia komit dengan pilihannya sebagai musisi.
Pada umur 11 tahun, Barry mendengar lagu Cerita Cinta. Dengan rasa penasaran, ia mengambil gitar ayahnya dan mencoba memainkan bass lagu yang dibawakan Kahitna itu. Darah musisi dalam dirinya ternyata membuat pria kelahiran 14 Juni 1983 ini mampu memunculkan nada-nada yang tepat dari lagu itu. Kemudian ia mencoba di bass gitar, dan seketika ia jatuh cinta pada instrumen bersenar empat ini.
Sejak itu, Barry mulai coba main band bersama teman-temannya. Dari main punk di SMP dan mencicipi britpop di SMA, namun darah jazz yang mengalir dalam tubuhnya tidak bisa hilang. Bahkan pada saat ia membawakan musik Sex Pistols bersama band-nya, Barry membawakannya dengan gaya nge-jazz. “Soalnya temen-temen jaman dulu enggak ada yang suka main jazz. Daripada enggak nge-band, ya udah gue ngikut aja,” komentarnya mengenai bandnya sewaktu sekolah.
Untungnya pada saat kuliah, Barry dan teman-temannya mulai kenal band-band acid jazz seperti Incognito, Jamiroquai, dan mulai memainkan musik yang lebih nyambung dengan musik jazz. “Karena sudah terbiasa banget dengan kehidupan musisi, gue anggap ini bukan lagi kerjaan, tapi sesuatu yang gue sukai. Main musik itu menarik banget, dan pada dasarnya dari kecil gue suka jalan-jalan. Suka naik pesawat, suka nginep di hotel. Ikut ayah keliling Indonesia kerasa enak aja, dan saya memutuskan ingin terus seperti ini. Kalau bisa sampe keliling dunia malah. Sudah dibayar, keliling dunia, dan pulang-pulang dapet duit. Bukannya keluar duit!” ucap Best Bassist Asian Beat Festival Jakarta 2003.

Jazz otodidak? Kenapa tidak?
Barry percaya jazz bisa dipelajari secara otodidak. Ayahnya, Benny Likumahua adalah musisi jazz legendaris yang juga belajar otodidak sejak masih di Ambon. Begitupun Benny, ia awalnya belajar jazz hanya dengan imajinasi, karena di Ambon tidak ada sekolah musik jazz. Tapi apakah benar, jazz yang dikenal masyarakat awam sebagai musik yang “sulit” itu bisa dipelajari di mana saja?
“Ayah saya sampai di Jakarta baru bisa beli buku musik dan belajar. Saya merasa beruntung karena mendapat kemudahan dari ayah yang juga seorang musisi. Tapi semua harusnya bisa dipelajari di jalanan. Kalau tahu-tahu masuk sekolah musik tanpa dasar apa-apa, kita tidak bisa berkarya yang imajinatif. Hal itu tidak membangun rasa ingin tahu. Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, tapi saya juga enggak setuju pada beberapa stereotype seperti misalnya kalau mau belajar musik, harus dari musik klasik dulu. Belajar musik enggak harus pakai urutan. Jangan samakan dengan di luar (negeri). Kalau di Indonesia, semua dibuat aturan yang kadang enggak perlu. Musik itu pararel, bukan vertikal,” jelasnya.
“Bahkan yang katanya start bermusik harus dari piano, tapi saya juga enggak mulai dari situ. Saya setelah pegang bass, baru gitar, dan akhirnya belajar piano. Semua dipelajari sendiri. Tapi sebagai pengetahuan, ya memang harus tahu. Kalau sudah mentok, waktunya buka buku, waktunya bertanya, waktunya punya mentor. Artinya, memang ada sesuatu yang harus dipecahkan,” lanjut pengguna gitar bass G&L Tribute series ini.
Ia mengungkapkan hal tersebut atas pengalamannya sendiri. Ketika ia merasa stuck dimana ada ada nada-nada tertentu yang tidak bisa dipecahkan, akhirnya ia sadar sudah waktunya untuk belajar. Akhirnya ia pun belajar kepada Sang Ayah. Lega? Ternyata tidak. Kedekatan ayah dan anak itu tidak berhasil dalam jazz. Mereka malah sering bertengkar dan adu argumen. Alhasil, Barry memutuskan untuk kursus di Farabi Music Course.
Mengepopkan Jazz
Sejak tahun 2000, Barry sering diajak ayahnya tampil di TVRI memegang posisi bass. Sementara ada perasaan minder tampil bersama ayahnya, pencabik bass yang cocok dengan senar DRstrings ini pun mulai mencari jam terbang dengan rutin tampil di café-café. Pada tahun 2003, bakatnya yang menonjol akhirnya dilirik oleh Glenn Fredly saat ia tampil di kawasan Cilandak. Selama 4 tahun mengiringi Glenn, pergaulan musik Barry semakin luas, sampai pada tahun 2006 sebuah tawaran tidak dapat ditolaknya.
Di tahun ini, festival musik jazz Internasional yang dulu rutin diadakan di Indonesia bernama Jak Jazz (1988-1997) akan diadakan kembali. Ia ditawari panitia untuk membuat penampilan yang mewakili generasi jazz anak muda Indonesia. Maka dikumpulkanlah orang-orang yang dirasa cocok saat itu. Barry Likumahua Project (BLP) melakukan debutnya pada ajang bergengsi tersebut dan ternyata mendapat sambutan sangat baik dari penontonnya.
Di tahun 2007 Barry sempat juga mengiringi Agnes Monica dan Dewi Sandra. Tapi keseluruhan pengalamannya itu tidak menutup hasratnya untuk menyalurkan musiknya sendiri. Alasan lainnya adalah bahwa setiap mau main di sebuah event, pasti terlempar pertanyaan “Sudah punya album belum?”, atau “Kami ingin dengar dulu musik kalian seperti apa?” ia pun memutuskan untuk membuat karya dulu, dengan strategi musik mereka yang akan dilepas ke market yang sesuai target.
Tahun 2008, bersama personil BLP yang beberapa kali bongkar pasang personel hingga akhirnya mendapat komposisi yang pas, memutuskan untuk mendirikan sebuah band. BLP bukan lagi sebuah proyek solo dari seorang Barry Likumahua. Namun, karena sudah lama bernaung dibawah nama Barry Likumahua Project, mereka merasa tidak perlu merubah bendera, “Paling tidak kita singkat menjadi BLP agar lebih mirip nama band,” jelas penyandang D1 desain grafis ini.














