Perkembangan teknologi informasi, khususnya internet, telah membentuk ulang gaya hidup masyarakat modern saat ini. Efek dari kehadiran internet yang seolah-olah mereduksi hambatan ruang dan waktu, dalam beberapa hal, mampu memberikan akses bagi masyarakat yang telah terkoneksi dengan internet untuk lebih mengembangkan kreativitasnya.
Terkait dengan kelebihan dalam hal akses untuk berkreativitas dalam internet ini mungkin kita dapat berkaca pada perjalanan karir sebuah band elektronik dari Bandung bernama Bottlesmoker. Perjalanan karir band yang digawangi oleh Ryan Adzani (Nobie) dan Anggung Suherman (Angkuy) semenjak tahun 2005 ini tidak lepas dari pengaruh serta penggunaan internet sebagai salah satu sarana mereka mengembangkan kreativitasnya, mulai dari merilis album, hingga melebarkan sayap dengan tur di beberapa negara di Asia Tenggara, dan daratan Cina.
Ditemui Indonesia Kreatif di sebuah ruang berkesenian di Kota Bandung bernama Common Room, Kamis (16/11), Duo yang juga sudah bersahabat semenjak di bangku kuliah ini bercerita mengenai berbagai hal mengenai perjalanan karirnya, terutama penggunaan wadah seperti internet yang telah mempengaruhi perkembangan Bottlesmoker hingga menjadi seperti sekarang ini.
“Jadi, bisa dibilang, dalam berkarya, Bottlesmoker itu memang benar-benar memanfaatkan perkembangan teknologi informasi seperti internet,” ujar Nobie saat menceritakan mengenai proses berkarya Bottlesmoker.
Kompatriot Nobie, Angkuy, yang saat itu duduk di sebelahnya, menuturkan, penggunaan internet dalam sejarah Bottlesmoker merupakan respon atas apresiasi khalayak yang tidak positif. Di masa-masa awal kehadiran Bottlesmoker, menurut Angkuy, khalayak tidaklah begitu apresiatif terhadap musik elektronik yang Bottlesmoker usung. Selama masa-masa awal Bottlesmoker melemparkan karya mereka pada khalayak, tidak sedikit cibiran yang mereka terima.
“Bahkan teman sendiri aja waktu itu ngomong: ieu naon sih?! (ini apa sih?!),” kenang Angkuy.
Nobie juga lantas bercerita dengan mengenang pengalamannya saat lagu mereka diminta oleh seorang kawan untuk diputar di suatu stasiun radio.
“Dulu ada yang minta lagu. Dikirain lagunya emang mau diputar (di radio) secara penuh, eh, gak taunya hanya dijadikan backsound,” katanya dengan diiringi tawa.
Tidak hanya teman dan stasiun radio yang tidak merespon, begitupun dengan label rekaman. Menurut Angkuy, di masa-masa awal Bottlesmoker, tidak ada label rekaman yang merespon karya mereka untuk dirilis. Dia juga menuturkan, saat itu Bottlesmoker telah sering mengirim demo ke berbagai label rekaman, namun tidak ada balasan yang mereka dapatkan.















[...] http://indonesiakreatif.net/article/success-story/bottlesmoker/#BxH3mfV81YIloK7K.99 [...]