Sekembalinya dari Amerika, 2001 lalu, pria yang dikenal dengan nama Danny Oei Wirianto (36) memang sudah digariskan untuk berjaya di dunia branding and marketing communication. Lihat saja penghargaan yang sudah diraihnya, salah satunya adalah The CMO Asia Award (2010) dari CMO Association.
Tiga perusahaan yang dipimpinnya pun tidak luput dari penghargaan-penghargaan, diantaranya SemutApi Colony as “Agency of The Year” for the Rising Star Category (2010) dari MIX Marketing Communication, Kaskus as “The Best Innovation in Marketing” (2009) dari Marketing Magazine, dan masih banyak lagi.
Saat ditemui di kantornya, di bilangan Slipi, Danny Oei banyak menceritakan tentang perjalanan hidupnya.
“Aku sadar kalau aku stay disini terus aku enggak bisa maju”

Danny kecil hidup dalam keluarga yang bisa dibilang kurang mampu. Saat itu ayahnya sedang merintis karir, itu membuat ia dan adik-adiknya harus merasakan hidup susah.
“Pernah waktu kecil itu naek vespa berlima, waktu SMP SMA naik metromini, ngerasain panasnya, kejedot-kejedotnya, ngiler-ngiler, diilerin orang, dipalakin,” kenangnya.
“Uang jajan juga limited banget. Waktu itu masih inget banget gopek sehari untuk ongkos masih gocap. Aku ngumpulin gopek itu seminggu untuk makan ayamnya Kolonel Sanders.” tambahnya.
Masa sekolahnya pun berantakan. Ia merasa tidak cocok bersekolah di SMA Tarakanita, sampai dua kali tidak naik kelas. Namun apa daya keinginan sang Ayah menyekolahkannya disana.
Ia pun berniat, jika nanti punya anak, ia tidak mau anaknya merasakan apa yang ia rasakan dulu. Itulah salah satu motivasi dirinya untuk bisa lebih baik. “You know what, mungkin banyak yang bilang nasib itu di tangan Tuhan, padahal enggak. Nasib itu di tangan kita sendiri, takdir di tangan Tuhan,” tegas Ayah dari Keyla (4) ini.
Sampai suatu hari setelah lulus SMA, ia meminta kepada orang tuanya untuk kuliah di luar negeri. Kedua orangtuanya tidak mengabulkan permintaannya, dan alhasil lulus SMA ia pun menganggur.
“Aku ngerasa nih kalau aku stay disini terus, enggak bisa maju, enggak bakal bisa berkembang karena environment-nya sangat jelek. Jadi aku bilang sama keluarga tolong dong sekolahin saya di luar,” katanya sambil mengenang masa lalunya.
Setahun ia menganggur dan masih memaksa untuk kuliah di luar negeri. Akhirnya, kedua orang tuanya mengirimnya untuk berkuliah ke Michigan, Amerika. “Akhirnya dikasih juga karena enggak mau apply ke Untar atau Trisakti. Karena aku ngerasa kalau aku stay disini pasti balik lagi ke lingkaran buruk,” ungkapnya pria yang lahir di Jakarta 1 November 1974.
Disaat ekonomi keluarganya sedang pas-pasan, ia pun mendapat beasiswa untuk mengambil ilustrasi di Michigan, Amerika. Di Michigan juga, ia pertama kali merasakan bekerja sebagai office boy (OB), “Sambil ambil kelas, belajarlah gimana lakuin itu susahnya setengah mati, jual painting, ngangkat-ngangkat barang, itu bener-bener parah,” ungkapnya.












