“Kalau merasa tidak tahu apa yang ingin dilakukan dalam hidup, lihat kembali pada waktu kita masih anak-anak, dimana hidup masih penuh dengan kemungkinan dan cita-cita masih digantungkan setinggi langit” -Deddy Corbuzier

Apakah Anda ingat karya apa saja yang sudah diciptakan Deddy Corbuzier? Sejak memperkenalkan dirinya di layar kaca dengan potongan rambut unik dan wajah yang “mengesalkan”, Deddy sudah melakukan serentetan variasi yang tidak pernah dilakukan seniman manapun di Indonesia. Deddy secara rutin melakukan publicity stunt yang selalu mengundang pembicaraan, baik pro maupun kontra. Mulai dari menebak headline harian Kompas, berjalan vertikal di dinding, mengemudikan mobil dengan mata tertutup keliling Jakarta, dan yang terakhir adalah prediksinya akan hasil piala dunia 2010 kemarin. Belum lagi dia memprakarsai beberapa magician untuk tampil di TV seperti Demian, Romy Rafael dalam Memang Sulap Memang Sihir. Sempat membuat acara untuk keluarga dan berakting bersama anak-anak bertajuk After School, ia juga menggebrak dengan menciptakan ajang pencarian bakat The Master. Dunia akting ikut diranahinya lewat sinetron dan kini ia pun sedang memproduksi film layar lebar. Tetapi semuanya itu tentu saja memiliki benang merah, yaitu magic.
The Magic is Born
Kisah dimulai pada saat Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo berusia 8 tahun. Ia meihat pesulap Mark Wilson yang tampil di TV beraksi menyambungkan kembali tali yang putus. Hal tersebut membuat ia merasa akan sangat keren jika bisa melakukan hal yang sama. Malam harinya, ibunya menampilkan trik yang sama di depan matanya, “Kalau nyokap gue bisa melakukan itu, gue juga pasti bisa,” tandasnya yang menandai tekad awalnya belajar sulap.
Deddy pun berburu semua buku sulap yang ia temui. Pada saat itu banyak buku sulap karya Marjun M.F dari CV Maju Jaya. “Sulap Burung Putih, Sulap Saputangan, Sulap Suara Perut,” ujar Deddy mengenang buku-buku pertamanya. Deddy juga mulai kreatif dengan membuat alat sulapnya sendiri, termasuk membolongi bola pingpong dan menjahit beberapa saputangan jadi satu.
Merasa mulai memiliki modal untuk tampil, Deddy mulai mempertunjukan kebolehannya pada orang tua dan teman-temannya. “Karena usia saya masih kecil, dan penontonnya adalah orang tua dan anak-anak, tidak ada yang mengatakan bahwa apa yang saya lakukan adalah hal yang bodoh,” ujarnya menjelaskan kenapa ia semakin yakin akan pilihan hobinya ini.
Magic is not Popular
Ketika Deddy semakin ketagihan belajar sulap, ibunya memiliki keinginan lain bagi anaknya. Karena beliau adalah seorang guru vokal, dia ingin anaknya menjadi musisi. Deddy sedari kecil pun diajari berbagai alat musik dan olah vokal. Jadi jangan heran pria yang sekarang menggunduli seluruh rambutnya ini cukup fasih bermain alat musik. Tapi Deddy tetap dengan tekadnya menjadi seorang pesulap. Sang ayah selalu siap mendukung cita-cita Deddy dengan mendukung apapun kebutuhan anaknya ini. Akhirnya sang ibu menyerah dan membiarkan Deddy mengejar cita-citanya menjadi pesulap. Dasar olah vokal dan kemampuan bermusik ini tanpa disadarinya menjadi kemampuan pendukung dalam bermain sulap kelak. Tapi bayangkan jika Deddy Corbuzier yang kita kenal sekarang ini adalah anak band!

Deddy mulai tampil di acara-acara sekolahan karena guru-gurunya selalu minta ia untuk tampil. “Sangat memalukan, karena pada umumnya anak-anak SMP pada saat itu main band, dan gue enggak populer karena main sulap. Gue enggak punya pacar. Tapi itu masalahnya. Popularity is stereotype. Populer itu melakukan hal-hal yang bisa diterima orang banyak. Dan melakukan sulap bukan salah satunya,” kenangnya. Kesukaannya melawan stereotype juga sempat ditunjukannya dengan membagikan uang hasil show-nya berkali kali ke anak jalanan di sekitar rumahnya tanpa alasan!
My Name is Corbuzier, Deddy Corbuzier
Deddy pun mulai dikenal diluar lingkungan sekolahnya, dan kelas 3 SMP dia sudah tampil di DUFAN. Pada saat itu dia dibayar 50 ribu, dengan menenteng tas dan perlengkapannya sendiri. Di umur 15, Deddy Corbuzier ikut mendirikan International Brotherhood of Magican cabang Indonesia bersama beberapa pesulap senior nasional lainnya.
Menginjak bangku SMA, Deddy mengkolaborasikan penampilannya bersama kakak kelasnya, seorang dancer. Tampil duo ini terinspirasi oleh Jack and Linda, pesulap senior Indonesia yang dikenalnya. Dari Cathy, seorang dancer yang sempat dipacarinya ini, Deddy belajar bagaimana untuk bergerak gerik diatas panggung. “Berapa ratus kali kaki dia keinjek sama gue,” kenangnya. Cathy juga menginspirasi Deddy untuk mengganti nama Deddy Cahyadi menjadi sesuatu yang lebih “panggung”. Pada saat Cathy kuliah dan belajar arsitektur, dia dan Deddy menemukan nama le’corbusier, arsitek gereja Notterdamme. Deddy kemudian merombaknya dengan mengganti huruf S menjadi Z. maka lahirlah nama Deddy Corbuzier (dibaca De-dy-co’-bu-z(i)e’). “Tapi semua orang terlanjur panggil gue Cor-bu-zier, yah sudahlah,” katanya pasrah.
Mentalism is My Choice
Pada saat kuliah, TV sering menampilkan pertunjukan David Copperfield, dan Deddy bercita-cita memiliki show seperti itu. “Kalau gue punya uang 10 juta, yang pada saat itu gede banget ya nilainya, gue bisa beli alat ilusi seharga 2 juta 4 biji, terus nyewa gedung 2 juta,” khayalnya. Dan pada saat itu, ia menyaksikan David Copperfield mengundang seorang pesulap tamu bernama James Stewart, “Dia memiliki sebuah amplop didalam sebuah balok es. Lalu James meminta penonton memilih satu nama dari beberapa buku yang ada sampai terpilih 1 kata. Dan kata yang dipilih ternyata sama dengan kata yang berada didalam amplop di dalam balok es! Lalu gue berpikir gimana bisa? Dan efeknya hanya seharga jauh lebih murah dari ilusi-ilusi besar itu!” kenangnya. Ia pun lalu berkenalan dengan aliran sulap yang dimainkan James Stewart bernama mentalism, dan jatuh cinta karena menurutnya mentalism baginya adalah seni sulap yang paling dapat dipercaya.
Pencariannya akan ilmu mentalism mengenalkannya pada tiga sosok mentalist yang menjadi inspirasinya, Max Maven, Uri Geller dan Eugene Burger. Deddy kemudian mengkombinasikan ketiganya; tampilan ala Maven, permainan Geller dan presentasinya Burger. “Makanya gue heran kenapa banyak pesulap ribut gue niru Max Maven. Kalau yang ditiru 1 orang, itu namanya memang niru. Tapi kalau mengkombinasikan beberapa orang, itu namanya inspired!” ujarnya kesal.
Making Industry of his own
Ketika mulai kuliah, Ayahnya meminta Deddy keluar rumah dan mencari kerja. Ia pun bertemu PR Hotel Indonesia saat itu, Henny Puspitasari (sekarang PR Director untuk MetroTV). “Anda punya hotel yang bagus, Anda punya restoran yang bagus, dan musik yang bagus. Tapi musik tidak menumbuhkan rasa ingin balik lagi. Berbeda jika tempatnya adalah café atau club. Dan sulap bisa melakukan hal ini,” tandasnya. Beberapa saat kemudian, neon sign tertulis Deddy Corbuzier terpampang di depan hotel Indonesia. Sejak saat itu, Deddy tampil di banyak hotel berbintang di Jakarta.
Seiring dengan kepopulerannya, Deddy mulai berpikir, kenapa di Indonesia, sulap tidak bisa jadi industri sementara musik bisa. Padahal di Las Vegas, musik itu adalah hiburan no.2, no.1 adalah sulap. “Pada saat itu, show Sigfreud and Roy atau Copperfield itu bisa lebih sukses daripada konsernya Celine Dion,” ujarnya heran.
Deddy kemudian menyadari perbedaannya. Baginya, sulap adalah envy art, sementara musik adalah seni yang memihak. “Maksudnya begini, selama lagunya bagus, eenggak peduli penyanyinya kacau, bangsat atau bajingan, tapi lagunya tetap disukai. Si penyanyi bisa berakting patah hati pada saat menyanyikan lagu patah hati, dan meski penonton tahu itu palsu, tapi lagunya tetap bisa diterima. Tapi sulap adalah masalah ‘i can, u cant’. Ketika orang tahu bahwa semuanya palsu, it’s over. Jadi gue belajar dari industri musik apa yang bisa dilakukan untuk industri sulap,” jelasnya.
Lalu apa yang harus dilakukan? Deddy kemudian menemukan formulanya. Ketika musik bisa memberi makna pada lagunya, sulap tidak. Deddy pun mulai membuat makna bagi penampilannya. “Gue ciptakan presentasi. Sentuhan pribadi. Gue kasih arti. Kenapa anak-anak band bisa tampil keren sementara magician tidak? Kenapa juga pesulap harus selalu memakai tuxedo pinguin? Banyak magician yang hanya konsen ke mainan. Jadi gue rubah. Gue rancang pakaian yang lebih trend. Gue buat presentasi dengan cerita dan mentalism sangat bisa menyesuaikan dengan semua itu, ” jelasnya.
Sepak terjangnya di TV pun dimulai dengan bermain spoon bending (membengkokkan sendok). Ini merupakan pembuktiannya bahwa mentalism yang dipilihnya adalah aliran sulap yang paling bisa dipercaya. “Bukan masalah triknya. Bukan masalah ‘lihat ya, lurus kan? Sekarang lihat, bengkok kan?’, tapi bagaimana menyampaikan makna dibalik itu. Gue bilang sama penonton ‘akan sangat menarik bukan, jika pikiran manusia bisa mengontrol logam?” jelasnya. Deddy mencoba menanamkan pertanyaan di benak penontonnya dan membuatnya bimbang akan pikirannya sendiri. “Itu yang pemain band tidak bisa lakukan. Gue bisa memanipulasi pendengaran, pengelihatan, dan rasa. Coba penyanyi tidak dikenal bertanya pada elo ‘apakah Anda mau mendengar saya bernyanyi?’ dan bandingin sama kalau ada seseorang yang datang menghampiri elo dan bertanya ‘do you believe in mind reading?” lanjutnya.













