“Menari memberi kita kebebasan. Kebebasan untuk mengekspresikan perasaan, kreativitas, dan keindahan” – Gianti Giadi
Tidak sulit untuk mengagumi perempuan mungil satu ini. Gaya yang fashionable, pembawaan yang luwes, dan senyum yang selalu mengembang menjadi pesona tersendiri. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, Gianti Giadi telah menorehkan banyak prestasi dalam bidang seni tari, baik di negeri sendiri maupun dunia internasional. Misinya adalah memasyarakatkan tari di Indonesia dan memperkenalkan tarian tradisional Indonesia di mata dunia.
Menari memang sudah tidak dapat dipisahkan dari keseharian Gigi, demikian ia biasa disapa. Tujuh hari waktunya dalam seminggu, ia habiskan untuk menari di dua negara. Ya, dua negara; Indonesia dan Singapura. Senin sampai Rabu Gigi berada di Singapura untuk mengajar dan menjadi koreografer lepas, Rabu siang sampai Minggu ia berada di Indonesia, bersama murid-muridnya di Gigi Art Of Dance yang ia dirikan sejak tiga tahun lalu di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan.
Menari Sejak Balita
Gigi mulai mengenal dunia tari sejak usia empat tahun. Sang Ibu, Reita Giadi-lah yang memperkenalkannya ke dunia tari. Reita yang berprofesi sebagai penari tradisional dan penata rias pengantin, mengajarkan Gigi berbagai macam tarian tradisional, seperti Tari Petik Teh dan Tari Kumbang. Menginjak sekolah dasar, saat tari modern mulai digemari, Gigi juga tidak mau ketinggalan. “Dulu suka nari sama teman-teman komplek di acara Agustusan, di situlah panggung pertama saya,” ujarnya.
Hobi menari Gigi terus berlanjut, tanpa pernah mengenyam pendidikan formal dalam bidang seni tari. Sang Ibu dan orang-orang sekitarlah yang terus memperkaya pengetahuan dan kemampuan menarinya. Menginjak SMA Gigi baru menjajal pendidikan formal tari dengan bergabung di Sekolah Ballet Namarina. Meski hanya enam bulan belajar di kelas jazz dance Namarina, prestasinya cukup menonjol. Tahun 2003, Gigi berhasil meraih predikat Best Dancer dalam “Dance and Beyond”, sebuah program pelatihan tari intensif yang diadakan setiap dua tahun sekali oleh Sekolah Ballet Namarina.

Sejak SMA pula Gigi sudah mampu menghasilkan uang sendiri dari hobinya menari. Di sela kesibukannya bersekolah, Gigi mengisi kegiatan dengan mengajar tari untuk teman-teman di sekitar tempat tinggalnya. Dari kegiatan tersebut Gigi memperoleh tambahan uang jajan. “Lumayan, untuk jajan-jajan kecil ga perlu minta orangtua, jadi bisa meringankan,” ujarnya.
Selain mengajar, bersama beberapa teman ia membentuk kelompok tari bernama SHAKADELIC, yang cukup banyak mendapat tawaran tampil di panggung dan membuat koreografi. Merasa sudah mampu menghasilkan uang jajan sendiri dengan menari, Gigi memantapkan diri untuk menjadikan tari sebagai profesi. “Intinya, yang namanya profesi kan harus bisa menghidupi. Saya sudah bisa menghidupi diri dari menari, jadi saat itu saya menyadari bisa menjadikan tari sebagai profesi,” tegasnya.
Dari seorang teman sang Ibu, Gigi mendapat informasi tentang beasiswa yang ditawarkan oleh La Salle College of The Arts Singapura. Iapun segera bertolak ke Negeri Singa untuk menghadiri open house yang diadakan kampus tersebut. “Akhirnya datang ke sana liat open house-nya trus kirim video. Ternyata lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa. Akhirnya diambil deh,” kisahnya.
Dimulailah petualangan Gigi di kancah internasional. Selama empat tahun belajar di La Salle College of the Arts, Gigi juga mengisi waktu dengan bekerja sambilan sebagai penari dan koreografer. Selepas lulus S1, ia kemudian diminta untuk menciptakan koreografi yang akan ditampilkan dalam acara kelulusan siswa La Salle College tahun 2010. Karyanya yang menggabungkan tari kontemporer dan tradisional Indonesia berhasil memukau para penonton, terutama dosen di almamaternya tersebut. Ia lalu didapuk untuk menjadi pengajar dance across-culture, Asian dance, serta contemporary dance.
Memiliki karier yang cukup menjanjikan di Singapura, tidak menjadikan Gigi lupa untuk pulang ke kampung halaman. Didorong oleh keluarga yang memintanya berkumpul kembali di tanah air, serta mimpinya untuk mengajak Indonesia menari, Gigi akhirnya membuka sebuah sekolah tari di Jakarta.

Gigi mengaku iri dengan sistem pendidikan di SIngapura. “Di sana, tari sudah diajarkan secara akademik sejak sekolah dasar. Mereka sudah kenal sejarah tari dan menggunakan tari sebagai media untuk belajar. Sedangkan di Indonesia seni tari biasanya hanya menjadi kegiatan ekstra kurikuler, itu pun kebanyakan hanya tari modern, bukan tari yang lebih spesifik seperti ballet, tari kontemporer, atau creative movements. Saya juga ingin bawa itu ke sini, menjadikan seni tari sebagai media anak-anak Indonesia untuk belajar,” tandasnya.
Selepas mendirikan sekolah tari di Jakarta, Gigi tidak lantas meninggalkan kariernya di SIngapura. Ia memilih untuk menjalani keduanya. Waktu satu minggu ia jalani tiga hari di SIngapura dan empat hari di Indonesia. Selain mengajar di La Salle College of The Arts, di Singapura, Gigi juga menjadi associate artist di Maya Dance Theatre dan koreografer untuk acara NUANSA dari National University of Singapore, ditunjuk oleh National Arts Council untuk membuat tarian yang akan ditampilkan di Sprouts All Star 2012, dan kolaborasi dengan Gloria Tan untuk Bali Arts Festival Juni 2012
Bangun pagi di negeri seberang, malamnya sudah meliuk-liuk lagi bersama murid-muridnya di Jakarta. Bagaimana cara Gigi menjaga staminanya? “Capek pasti,tapi karena saya menjalani dengan fun semua gak terasa. Kegiatan saya di Indonesia dan Singapura cukup padat, tapi waktu di perjalanan bisa saya gunakan untuk tidur dan istirahat, jadi ke mana-mana gak lupa bawa bantal,” candanya.












