Teks: Yogi RY | Foto: Rudi Waisnawa
Pemahat Kayu Mati Menjadi Karya Berharga
Tak tamat sekolah dasar tak menghambatnya buntu menjalani hidup. Dengan ketekunan dan daya ciptanya, malah kini dia menjadi salah satu seniman pahat kayu kebanggaan Bali. Karya-karyanya bertebaran di mancanegara. Dialah I Wayan Mudana, pemahat kayu, yang dikenal juga sebagai mentor seniman-seniman muda di Desa Mas, Ubud, Bali.
Di sebuah rumah yang lebih menyerupai bengkel seni, I Wayan Mudana mengamati bongkahan kayu mati, tergolek di beberapa sudut. Dia seperti ingin memberi “ruh” pada kayu-kayu bermacam ukuran itu. Alat-alat pahat sudah tersedia. Mudana memilih satu per satu, mana yang paling cocok untuk mengukirkan imajinasi rupa dalam pikirannya pada sebilah kayu di hadapannya.
Mungkin bagi kebanyakan orang, kayu-kayu dari pohon mati seperti tidak harganya. Bagai sampah. Teronggok begitu saja. Tapi Mudana berpikiran lain. Dengan keliaran imajinasinya, Mudana bisa mengubah kayu mati menjadi “hidup” berupa karya seni rupa fantastis. Mudana berhasil mengolah kayu-kayu mati jadi seni pahat kayu artistik, menebar pesona para pencinta seni dunia.
“Saya terbiasa mengukir kayu tanpa panduan gambar atau miniatur. Saya sudah tahu bakal apa jadi apa kayu ini nantinya. Semuanya sudah ada ada dalam pikiran saya,” kata lelaki asal Banjar Batanancak, Desa Mas, Ubud.













