Luthier “Reso” Indonesia
Anda boleh saja tidak langsung percaya bila saja gitar-gitar buatan Ivan Mulia dihadapkan di depan Anda tanpa menyebut siapa pembuatnya terlebih dahulu. Namun, yang jelas, kalau Anda penggemar rock n’ roll atau blues, maka yang pertama Anda lakukan kemungkinan besar ialah menyentuh bodinya, mengelusnya, menentengnya, mengamati ukiran-ukiran yang digunakan sebagai ornamen estetika dalam beberapa menit lalu tergoda untuk memainkannya jika tersedia sound yang terhubung dengan gitar itu. Dan kembali bertanya, “Benarkah ini buatan anak Indonesia?”

Gitar yang dimaksud, misalnya, ialah gitar resonator (reso) yang diberi merk iVee seri Telecans oleh pembuatnya. Modelnya mirip Fender Telecaster seperti yang kerap digunakan gitaris Rolling Stone, Keith Richards maupun Eross Shela On Seven, yang suatu kali dipajang dalam sebuah konfrensi pers di ajang mahakarya seni kreatif anak Indonesia yang digelar sebuah produsen rokok belum lama ini. Pertanyaan skeptis seperti tadi turut sempat melayang di kepala saya. Maklum, sudah sekian lama di kepala ini tertanam ‘idiom’ kalau produk yang bagus itu selalu buatan luar negeri.
Konfrensi pers bagi gitar tersebut bisa jadi adalah sebuah seremoni glamour biasa. Orang sejenak melupakan bahwa sebelumnya adalah sebuah kerja keras yang penuh ide-ide kreatifitas sang pembuatnya, atau lazimnya disebut luthier—pekerjaan kreatif yang mungkin masih tergolong sedikit di Indonesia, apalagi untuk mengangkat nama Indonesia di industri instrumen musik.
Sang luthier itu, Ivan Mulia, tak hadir dalam konfrensi pers yang digelar saat itu di Medan. Namun, gitar buatannya itu telah berbicara banyak dan sedikit banyak mengundang skeptis. Pertanyaannya—sekali lagi—ialah: “Apa benar ini buatan tangan anak Indonesia?”. Jawabnya, benar. Gitar itu buatan anak Indonesia, yang mencintai musik lebih dari sekadar penikmat namun telah bermetamorfosa menjadi sebuah kreativitas. Ia ingin meyakinkan bahwa produk anak negeri tak pantas selalu dipandang sebelah mata.
Dengan gitar buatannya itu, luthier asal Cimahi, Bandung ini kemudian disejajarkan dengan sejumlah anak-anak muda Indonesia kreatif lainnya, seperti Kristupa Saragih (fotografi), Viki Sianipar, Gilang Ramadhan (musik), Leny Agustin (fashion) dan Haryo Pramoe (kuliner).

“Saya cukup kaget ketika dihubungi pihak Dji Sam Soe dan diajak untuk menjadi salah satu anak Indonesia kreatif untuk ajang Mahakarya Indonesia. Karena yang kerjakan saya pikir hanya hobi,” ujar Ivan Mulia melalui email yang saya layangkan beberapa hari setelah konfrensi pers yang digelar di salah satu hotel berkelas internasional di Medan, pertengahan April 2011 itu.
Oleh panitia Dji Sam Soe Mahakarya Indonesia sendiri, karya Ivan dinilai telah ikut mengangkat nama Indonesia melalui motif ukiran dari nusantara di gitar buatan tangannya. “Ternyata ada pembuat gitar asal Indonesia yang mengangkat warisan budaya Indonesia. Karya-karyanya ini bahkan sudah dikenal hingga luar negeri,” ujar Adri Febrianto, Brand Manager Dji Sam Soe, saat konfrensi pers yang dihadiri sejumlah jurnalis Medan itu.
Ivan mulia dan gitar-gitar buatan tangannya adalah sebuah karya kreatif yang telah melalui kerja keras yang tak singkat. Menurut Ivan, ide pembuatan gitar ini sebenarnya sudah lama tercetus di benaknya. Namun, idenya itu itu sempat terkendala pengerjaannya karena sempat terbentur dengan persoalan skill dan peralatan. Setelah bertahun-tahun menggeluti pengecoran logam, dan bertahap mulai memiliki alat-alat produksi dan setelah bengkel mulai stabil dan memiliki sedikit waktu untuk hobi, barulah ide itu ia wujudkan.












