Baca, Baca, Baca..

Salman Aristo dari sejak kecil sudah gemar menulis. Dia menulis dari puisi hingga cerpen. Kenapa menulis? Menurut pria yang akrab dipanggil Aris ini, kegiatannya menulis berawal dari hobi membaca. Yang menarik, Aris mengakui bahwa di keluarganya tidak ada yang memiliki bakat di dunia kreatif. Keluarga Aris adalah keluarga guru. mulai dari kakek, tante, ibu, semua berprofesi sebagai guru. “Bokap gue kuat di eksak, dan kakak gue juga begitu. Jadi rasanya nggak ada yang nurunin deh”. Lantas, bagaimana Aris bisa menjadi penulis? “Datangnya pasti dari membaca. Karena bokap gue agen koran. Jadi gue adalah anak pertama yang selalu mendapat edisi pertama Bobo, Hai, dan majalah-majalah lain sebelum dibaca sama anak lain. Dan itu berpola, “Hai” tiap Selasa, “Mimin” tiap Rabu, dan rutinitas itu menjadi kebiasaan. Kebetulan juga karena keluarganya adalah keluarga guru, jadi membaca juga bukan sesuatu yang aneh.” kenangnya.
Awalnya, pada pertengahan 1980, Aris rajin membaca buku-buku yang populer pada masa itu, salah satu favoritnya adalah Lima Sekawan (Famous Five). Kemudian pada saat dia SMP, seperti remaja pada umumnya saat itu, Aris mulai membaca majalah “Hai” dan penulis-penulis remaja lainnya, dan akhirnya Aris mulai akrab dengan toko buku. Gramedia Matraman yang tidak jauh dari sekolahnya di Manggarai menjadi salah satu tempat tujuannya sepulang sekolah. Dari kebiasaan membaca tersebut, lama-lama kebiasaannya tersebut berkembang menjadi hobi tulis-menulis. Budidarma (sastrawan-red) pernah berkata, “Pembaca yang baik adalah pembaca yang juga menulis.”
“One thing lead to another” , “Gue baca buku ini, ada yang bilang inspirasinya dari literatur ini, dan kemudian berkembang dan berkembang terus.” tukasnya menyimpulkan bahwa kecintaannya terhadap tulisan berawal sejak dini.
Musik, musik, musik
Aris mempunyai hobi membaca, bermusik dan menonton film. Ketiga hobinya ini dijalani secara bersamaan. Kadang dia sampai kehabisan uang untuk menjalani ketiga hobinya ini.
“Duit gue selalu habis sama 3 hal itu. Beli kaset, nonton film sama beli buku. Beli buku masih bisa minta. Kalau nonton sama beli kaset akhirnya pake duit jajan. Duit gue selalu habis untuk itu. Balik sekolah gue nggak kemana-mana, cuma pergi ke toko buku, toko kaset, sama bioskop. Sampe bolos kalau ada film bagus” kenangnya menjelaskan 3 hal yang sangat disukainya itu.
Menginjak SMA, Aris mencoba mengirim tulisan-tulisannya ke majalah tapi tidak pernah dimuat, hingga bentuk hobi yang paling gampang untuk dijalani untuknya adalah bermusik.
“Karena pada saat gue sekolah, angkatan gue sama sekali tidak akrab dengan yang namanya film making. Buat film adalah sesuatu yang luar biasa jauh dari kepala gue. Gak ada kosakatanya, gak ada referensi bahwa film itu bisa dibikin sama gue. Padahal IKJ gak jauh dari rumah gue. Tapi gak nyampe ide-nya bahwa gue bisa belajar bikin film kesana”. sementara tulisannya tidak ada yang ter-publish, maka Aris memutuskan untuk bermusik. Kedatangannya ke kota Bandung untuk menuntut ilmu di Fakultas Komunikasi UNPAD bertepatan dengan gelombang indie movement yang sedang marak saat itu dan ia semakin fokus ke musik.
Kemudian, Aris menemukan “pencerahan” baru. Saat itu pria penggemar sutradara kondang Arifin C Noer, ini mulai sering nongkrong di Gelanggang Seni Teater dan Film di kampusnya, dan terjadi dialog singkat ini ; “Mau kemana euy?” tanya Aris. “Mau bikin film pendek” jawab temannya. Seperti mendapat “pencerahan” Aris mulai mengarahkan hidupnya ke dunia screenwriting.
Tulis, Tulis, Tulis
“Oh ternyata bisa ya, bikin film!” dan buat seorang yang hobi nonton dan menulis, tidak ada yang lebih cocok dan lebih pas selain menjadi penulis skenario, pikirnya. Dan mulailah beralih dari cerpen dan puisi menjadi penulis sinopsis dan skenario. Aris tidak pernah memikirkan naskah-naskah yang ditulisnya itu akan menjadi film atau tidak. Dia hanya menyimpan semua berkasnya dengan rapih di komputernya hingga sekarang. Dengan mulai berkembangnya internet, semakin memudahkan Aris untuk mencari literatur tentang cara membuat naskah film.
Tapi, saat itu mimpi Salman Arsito masih di dunia musik. Dia masih terus bongkar pasang personel dan tetap melakukan rekaman. Hingga pada suatu waktu dia bertemu Deddy Raksawardhana yang baru saja kembali dari Amerika. Di Amerika Mas Deddy – begitu Aris menyapanya, pernah menjadi manajer di sebuah theatre chain.
Aris yang sering bolak-balik bikin demo disana akhirnya berkenalan dan ditawari untuk rekaman. “Gue sempet rekaman sampai 11 lagu, dan selama proses rekaman, gue baru tau dia juga ternyata adaah seorang film geeks.”

Akhirnya mereka berdua lebih sering ngobrol soal film ketimbang lagu. Menyewa laser disc untuk nonton bareng dan membahasnya, sampai akhirnya tercetus ide bikin film. Dan dengan koleksi ceritanya yang sudah lumayan banyak, Aris akhirnya dipercaya untuk bikin skripnya.
“Tiga hari lagi kita ke Jakarta. Skripnya harus sudah ada ya” kata Deddy lagi. Aris langsung banting tulang selama 3 hari mengerjakan skrip yang diminta. “Nggak kebayang waktu itu padahal cukup bikin sinopsis aja” kenangnya sambil tertawa.
Pihak Jakarta ternyata suka dengan ide film ini dan Aris-pun mulai mencari-cari orang film yang dikenalnya untuk diminta bantuan. Pilihan pun jatuh pada Rudi Sudjarwo, yang pada saat itu baru memproduksi Bintang Jatuh, yang juga diakui Aris sebagai film yang menginspirasinya untuk membuat film. Aris dan Deddy pun bertemu dengan Rudi yang pada saat itu baru beres syuting Ada Apa Dengan Cinta (AADC). “Mas Rudi suka! ‘this is my kind of movie!’ katanya”. Tapi kemudian Rudi Sudjarwo mundur dari proyek ini. Tapi Rudi berpesan untuk memberikan proyek ini pada sutradara yang tepat.











