…Ketika Tamu Datang ke Pesta tanpa Berbaju Rapi
Sebuah gerbang janur kuning dipasang di sisi kiri gedung Taman Budaya Yogyakarta. Di ujungnya telah menunggu sebuah meja yang dijaga oleh beberapa perempuan berpakaian kebaya rapi warna cerah. Sesudah mengisi buku tamu dan menyerahkan sejumlah uang untuk pengganti selembar kertas tanda bukti, tetamu dipersilahkan menuju ke arah pintu Timur Concert Hall TBY. Di depan pintu, lagi-lagi tetamu disambut sepasang perempuan berkebaya cerah di balik sebuah meja yang diisi oleh sepasang kotak yang mirip dengan kotak amplop uang hadiah di pesta-pesta pernikahan.
Hari itu, Jumat 11 Maret 2011, adalah hari kedua perhelatan yang diselenggarakan oleh Teater Garasi dalam mempertunjukkan “Tubuh Ketiga” di Yogyakarta setelah pada Oktober 2010 sukses menggelar pertunjukan yang sama di Jakarta. Penonton yang baru datang untuk menonton hari itu nampak sedikit canggung karena disambut layaknya datang ke pesta pernikahan, sementara baju yang dikenakan seperti kurang layak untuk acara pesta.
Nuansa pesta pernikahan masih berlanjut setelah pintu dibuka. Penonton disambut among tamu lelaki dan perempuan berkebaya dan berbaju batik resmi yang berbaris di sisi kiri dan kanan, menyapa setiap penonton dengan ramah sambil berjabat tangan, persis seperti ketika kita menghadiri pesta kawinan kerabat di kampung. Sekeliling ruangan ditutupi kain hitam dengan sebuah kursi dan pelaminan yang langsung terlihat begitu penonton memasuki ruangan. Di sisi kanan terdapat pemain organ tunggal yang dengan segera memainkan musik disko dangdut ketika penonton mulai mengalir ke sisi kiri ruangan, di mana telah tersedia aneka makanan kecil dan minuman ringan.
Di tengah ruangan terdapat sebuah platform hitam sederhana yang digunakan untuk duduk. Kemudian muncul juga MC yang menyambut kedatangan para tamu penonton, mempersilahkan untuk menikmati hidangan dan duduk karena sebagian penonton nampak agak canggung dan bingung. Musik disko dangdut dan sambutan MC mengisi waktu hingga semua penonton memasuki ruangan. Sesudahnya pintu ditutup, penonton dipersilahkan mengambil tempat duduk, dan sekonyong-konyong lampu diredupkan. Ketika lampu menyala kembali tak lama kemudian, nuansa pesta pernikahan sederhana tersebut telah berganti menjadi pemandangan tepi sawah Indramayu, Pantura, di musim panen.
Sebelum mementaskan Tubuh Ketiga, karya berjudul “Je.j.a.l.a.n.” (2008 – 2010) disorot sedemikian luasnya oleh media massa di tingkat Nasional dan ditampilkan di Jepang. Je.j.a.l.a.n. dapat dikatakan sebagai percobaan pertama Garasi dalam menggunakan metode Promenade Theatre, di mana biasanya terdapat sedikit sekali atau malah tidak tersedia tempat duduk bagi penonton, yang baik secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam jalannya lakon dan mungkin harus ikut bergerak mengikuti perpindahan lakon dari satu titik ke titik lainnya di tempat pertunjukan.
Selama satu jam lebih pertunjukan “Tubuh Ketiga”, penonton dibawa masuk ke dalam realitas wilayah Antara ini, ikut terlibat dan menjelajah dalam perubahan yang terjadi pada Indramayu sebagai setting lakon, dan ikut menyaksikan perkembangan tiap tokoh yang ditampilkan dalam lakon ini. Berbagai unsur visual dan suara, termasuk musik dangdut tarling dan keterlibatan kelompok barongsai dalam pertunjukan ini begitu memukau sehingga waktu berlalu tak terasa. Ketika pertunjukan ditutup dengan tepuk tangan, penonton pun dilepas dari Concert Hall sama hangatnya seperti ketika disambut kedatangannya. Among tamu berbaju formal rapi berjajar di sepanjang jalan menuju pintu keluar. Kali ini penonton yang dengan antusias menjabat tangan para among tamu ini, mengucapkan terimakasih dan selamat dengan wajah berbinar karena pengalaman menonton istimewa yang














