Departemen Perdagangan RI telah membuat 15 kategori untuk kegiatan ekonomi kreatif. Sektor bisnis kreatif yang terakhir masuk dalam kategori tsb adalah kuliner. Bisnis kuliner tidak lagi sekadar sajian menu standar untuk memenuhi kebutuhan jasmani atau 4 sehat 5 sempurna. Dalam perkembangannya, faktor selera dan tampilan produk-produk kuliner semakin bervariasi dan sengaja diciptakan oleh para pelakunya untuk menarik perhatian konsumen. Hal ini bisa dibuktikan dari tayangan berita TV yang menyelipkan sebagian kecil atau bahkan didominasi oleh beragam berita tentang wisata serta keunikan cita rasa kuliner.
Kabupaten Kebumen adalah salah satu daerah di pesisir Selatan Jawa Tengah yang memiliki banyak potensi sumber daya manusia dan alam cukup banyak ragam serta kualitasnya. Tetapi kurang berkembang mengikuti dinamika perkembangan masyarakat di sekitarnya. Kekayaan alam di sisi Utara yang berbukit-bukit sepanjang Pegunungan Seribu dan diapit dua waduk besar, Sempor dan Wadaslintang serta satu satu situs geogologi yang sangat unik di Karangsambung nampaknya belum dapat dioptimalkan sebagai tujuan wisata andalan. Potensi besar ekonomi kreatif lain yang sementara ini masih ada di dalam bayang-bayang Tasikmalaya dan Yogyakarta adalah industri rumah tangga anyaman pandan.
Sementara itu, di sisi Selatan didominasi oleh dataran rendah, pantai yang terbentang sepanjang 78 km dan situs kars unik di sekitar Kecamatan Ayah belum dikembangkan sebagai potensi ekonomi kreatif yang luar biasa manfaatnya bagi masyarakat, pemerintah maupun lingkungan alam di sekitarnya. Hampir semua pantai memang telah diupayakan oleh warga masyarakat setempat dan Pemerintah Kabupaten Kebumen sebagai obyek wisata yang menarik. Demikian juga dengan situs kars yang berupa gua seperti Gua Petruk dan Jatijajar serta beberapa obyek lain telah banyak dikenal oleh masyarakat umum secara nasional maupun internasional.
Ekonomi kreatif pada dasarnya berbasis ide sebagai potensi terbesar dari sumber daya manusia. Masyarakat di Kabupaten Kebumen mungkin kurang mengenal sosok dua orang perempuan kreatif, Irma Suryani dan Ngatini. Hasil kreatifitas keduanya telah mendunia. Irma Suryani, perempuan kreatif dari Buayan yang menggeluti industri pengolahan kain sisa bahan kaos menjadi beragam produk kesed dan kerajinan perca lainnya. Ia pernah tampil sebagai sosok yang mengemuka di program TV Tupperware She Can sebagai pencerah, pendidik dan pemberdaya bagi kaum cacat seperti dirinya. Sementara itu, Ngatini yang belum sesohor Irma, adalah sosok perempuan tangguh di industri anyaman pandan. Keduanya adalah segelintir potensi sumber daya manusia kreatif di antara ratusan atau ribuan “orang kreatif Kebumen”.
Hanito Kreasindo menggagas Festival Luk Ulo karena termotivasi oleh kedua perempuan hebat itu. Festival Luk Ulo adalah sebuah ide orang yang hidup di pinggir Kali Luk Ulo untuk mengembangkan kegiatan Lomba Mancing Luk Ulo yang diselenggarakan oleh Paskopem (Pasarpari Kompleks Pemuda) dan telah berlangsung selama 4 kali sejak 2008. Pada pelaksanaan terakhir (ke 4) tanggal 2 Oktober 2011, atas dorongan mitra kerja yang begerak dalam usaha dealer sepeda motor yang bersedia memberi hadiah sebuah sepeda motor untuk pemenang pertama lomba mancing yang sama di tahun 2012, muncul gagasan mengembangkan kegiatan itu menjadi sebuah Festival Luk Ulo.
Festival adalah kegiatan yang menampilkan kemeriahan, dapat diisi dengan beragam jenis, skala dan sifat kegiatan saling berkait. Festival Kali Luk Ulo 2012 adalah perpaduan antara kegiatan olahraga, hiburan, wisata, pendidikan lingkungan dan kewirausahaan.












