Teks & Foto : Ifan F. Harijanto
Jakarta – Sebanyak 300 gitaris berpakaian jas hitam-hitam memenuhi Ballroom Wisma 76 lantai 26 di Jl. Letjen S. Parman Kav. 76, Sabtu (21/7). Para gitaris tersebut berasal dari berbagai kalangan, mulai dari yang hanya hobi, tergabung dengan sekolah musik, sampai para profesional.


Penyelenggaraan Gitar Reuni ini sudah memasuki tahun ke-4, dan memang menjadi sebuah acara rutin tahunan. Acara ini pertama kali digelar pada tahun 2009 atas prakarsa Rene Nessa Sahir yang juga sebagai ketua penyelenggara Gitar Reuni. Pada tahun pertamanya, Gitar Reuni hanya diikuti oleh 17 gitaris, kemudian pada tahun ke-2 bertambah menjadi 200 gitaris. Di tahun ke-3 penyelenggaraannya, Gitar Reuni diikuti oleh lebih dari 300 gitaris, dan di tahun 2012 ini sebagai tahun penyelenggaraan ke-4 yang direncanakan akan dihadiri oleh 500 gitaris ternyata hanya bisa dihadiri oleh 300 gitaris dari seluruh Indonesia. Namun dengan tidak terpenuhinya target gitaris yang mengikuti Gitar Reuni ini tidak mengurangi kemeriahan acara.
Acara Gitar Reuni ini bertujuan membakar semangat para kaum muda untuk mengembangkan permainan gitar klasik. Dengan moto “Yang muda berkembang, yang tua bertahan”, Gitar Reuni juga mempunyai visi “Terjalinnya keakraban sesama gitaris, saling berbagi, dan memberikan dukungan positif untuk maju bersama”. Sedangkan misinya adalah “Melakukan konser tahunan yang terbuka bagi setiap gitaris klasik, mendorong para remaja untuk terlibat dalam kegiatan musik gitar klasik, dan pentas bersama dalam bentuk ensemble pada bagian awal dan akhir konser”.


Gitar Reuni ini sendiri terselenggara atas dukungan dari para dermawan yang masih peduli terhadap perkembangan musik, khususnya gitar klasik. Selain itu dari penjualan tiket dan merchandise, serta hasil lelang gitar karya Wayan Tuges.
Dalam sambutan tertulisnya, Rene Nessa Sahir yang kini berdomisili di Amerika Serikat, merasakan kerinduannya yang dalam akan tanah air. Di benaknya, terbesit pula kenangan masa lalu saat jaman keemasan musik gitar klasik di Indonesia, tepatnya pada akhir tahun 70-an sampai dengan pertengahan tahun 80-an. Saat itu siswa SMP dan SMA diwajibkan mengambil ekstra kurikuler musik di sekolah musik, di rumah bersama guru musik privat, bahkan di gelanggang remaja, yayasan musik, Pusat Pengembangan Kesenian Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, dan banyak lagi tempat lainnya. Semua ini membuat perkembangan musik gitar klasik menjadi begitu pesat dan semarak. Inilah tujuan utama diadakannya Gitar Reuni, yaitu membakar semangat bergitar klasik.


Dampak positifnya adalah anak-anak dan remaja disibukkan dengan kegiatan yang terarah, tampilnya pemusik berbakat, peningkatan mutu permainan gitar di Tanah Air, serta apresiasi terhadap musik gitar klasik. Selain itu, terciptanya lapangan kerja untuk para profesional dan pengajar gitar klasik di sekolah-sekolah musik, yang tentunya akan memberikan nilai tambah dan minat terhadap gitar klasik.
Dimulai pukul 19.30 WIB dengan penampilan pertama dari gitaris Lyona Grace yang membawakan Villa Lobos Prelude No. 1 karya Villa Lobos, Gitar Reuni kemudian disusul dengan penampilan solo oleh gitaris Ignatius Bramantino yang membawakan Elogio de la Danza karya Leo Browuer. Tidak ketinggalan juga lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki yang telah diaransemen ulang oleh Jubing dan dibawakan oleh Yosua Gian. Disusul oleh penampilan Stephanus Sixtus Budi dengan membawakan karyanya sendiri yang diberi judul Untitled No. 37. Kemudian berturut-turut tampil Francisco Arief, Phoa Tjun Jit, serta Rene Nessa Sahir.


Selain penampilan solo, Gitar Reuni juga menampilkan duo, trio dan ensemble. Jeli Duo dan Duet Gimez membawakan dengan apik Claudine karya Tonci Huljic dan Circus Music karya Domeniconi. Sementara itu, ensemble yang ikut memeriahkan Gitar Reuni di antaranya adalah Group Sekolah Menengah Musik Perguruan Cikini, Ensemble Jakarta Enam Senar dari UNJ, Opus 78 pimpinan Ronny Irianto, Ensemble Sekolah Musik Purwa Caraka, dan Yogyakarta Guitar Ensemble yang menutup penampilan dengan membawakan aransemen Warkop DKI yang melegenda. Di akhir acara seluruh gitaris membawakan beberapa lagu yang dipimpin langsung oleh Rene Nessa Sahir.
Perkembangan gitar klasik di Indonesia hanya sebatas komunitas dan basic dari pengajaran di sekolah-sekolah musik. Untuk menjangkau lebih luas dan lebih banyak lagi yang bisa menikmatinya, gitar klasik perlu mendapatkan akselerasi untuk tampil di acara-acara yang banyak dihadiri masyarakat umum. Kenikmatan dan kekaguman permainan gitar klasik bisa menggiring pendengarnya pada suasana yang berbeda, sehingga setiap pemain dan pendengar gitar klasik seakan diajak untuk menjadi satu jiwa dalam aransemen yang dibawakannya untuk bisa memahami dan mendalami musiknya. Sepertinya sudah layak bagi Gitar Reuni untuk membuat sebuah album yang bisa dijadikan kenang-kenangan sehingga musiknya bisa dinikmati oleh orang lain yang tidak bisa hadir saat gelarannya. (*)
Berita Terkait












