Acara bedah novel berjudul ‘Pincalang’ karya sastrawan Medan Idris Pasaribu yang digelar di Ruang Pameran Taman Budaya Sumatra Utara (TBSU), Sabtu 2 Maret lalu, menarik untuk disimak. Sebab, bedah novel yang mengangkat salah satu tema lokal Sumut itu menghadirkan dua kritikus sastra dengan dua sudut pandang analisis yang berbeda. Semakin menarik karena di dalamnya juga terdapat sedikit polemik wacana; bukan hanya mengenai novel itu sendiri, tapi juga menyangkut metode mengkritisi karya sastra itu sendiri.
Kedua kritikus itu ialah Mihar Harahap dan Yulhasni. Mihar Harahap mengkritisi karya Idris, wartawan pengasuh halaman budaya di harian Analisa Medan, melalui pendekatan yang ia adopsi dari beberapa metode penelitian. Dari hasil adopsi itu, ia mengusulkan metode penelitian berdasarkan tema dan bentuk. Tema kemudian dia kategorikan lagi dalam dua kategori yakni kuat dan lemah. Metode itu kemudian ia sebut metode Tebekule: metode yang mengkaji karya sastra dengan pendekatan tema, bentuk kuat dan lemah (Tebekule).
Menurut Mihar, tema sentral novel ‘Pincalang’ ialah mengenai perlawanan nelayan di Pantai Barat Sibolga, guna menentang adanya satu Keppres yang mengatur kapal-kapal mesin beroperasi menggantikan kapal-kapal kayu yang disebut Pincalang.
“Kapal Keppres” yang disebut dalam novel ini sebagai kapal yang mengancam kelangsungan “orang-orang Pincalang” menjadi persoalan utama, di samping isu lain yakni lingkungan: kelestarian hutan bakau dan ancaman akan adanya pukat trawl (pukat harimau) yang mengabisi ikan di laut Sibolga.
Kaum nelayan itu, karena menggunakan kapal Pincalang, juga dikenal dengan “orang-orang Pincalang”. Mereka hidup di laut, tidak punya daratan dan diasingkan oleh orang-orang daratan. Namun, dalam novel ini, Mihar mencurigai apakah “orang-orang Pincalang” dalam novel ini ada kaitannya dengan orang-orang Bajo atau Same di Sulawesi yang nomaden hingga sampai ke Sibolga dan membentuk habitat masyarakat baru.
Menurut Mihar, suku ini telah ada sejak ratusan lalu meski tak jelas silsilah turunannya. Ada yang mengatakan dari Kerajaan Sriwijaya, Johor Malaysia, Filipina, Vietnam, atau dari Laut Cina Selatan. Dari segi bahasa, mirip bahasa di daerah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Pesisir Papua.
“Bagaimana dengan manusia perahu di Sibolga? Apakah disebut juga Bajo karena hidupnya nomaden hingga sampai ke Sibolga? Apakah ada hubungan antara orang Bajo di Sulawesi dengan manusia perahu di Sibolga? Lalu, bagaimana dengan budaya, agama, tradisi, dan kehidupan sosialnya? Memang penovel melukiskan bahasa, agama, tradisi mirip orang Sibolga. Namun, apakah sebenarnya seperti itu dan bukan karena pengaruh orang Bajo di Sulawesi? Atau siapa yang mempengaruhi siapa, termasuk orang Sibolga yang terjadi sejak dahulu kala?” begitu Mihar memaparkan penelitiannya terhadap novel yang menurut novelisnya merupakan novel fiksi berdasarkan penelitian budaya selama empat tahun.
Dalam kritiknya yang berjudul “Ada Apa di Balik ‘Pincalang’ Idris Pasaribu”, kritikus sastra yang juga merupakan Dekan FKIP Universitas Islam Sumatra Utara itu juga memaparkan beberapa temuan yang pantas dipertanyakan.
Mihar mempertanyakan kurang detailnya novel mengisahkan hubungan signifikan budaya suku perahu di laut dan budaya masyarakat Sibolga di darat. Dalam hal ini, misalnya mengenai bahasa Sibolga, jenis kesenian (tari Sikambang dan tari Randai Minangkabau), serta agama Islam.
“Apakah karena pengaruh letak geografis daerah Barus sebagai pemula masuknya agama Islam di Sumatra? Selain itu, saya kira biasa-biasa saja (tradisi nelayan berlaku di mana saja) atau tak ada ciri khas pantai Sibolga. Kalau novel ini disebut novel penelitian, maka perlu dilanjutkan ke sejarah budayanya,” jelas Mihar.
Critical Discourse Analysis
Berbeda dengan Mihar yang menggunakan metodenya sendiri (Tebekule), kritikus sastra Yulhasni menerapkan metode penelitian Critical Discourse Analysis (CDA), sebuah metode penelitian sastra dari Barat yang lahir setelah runtuhnya rezim Hitler pada tahun 1960-an dan masa dimulainya pemikiran-pemikiran era Mazhab Frankfurt.
Beberapa pemikir yang muncul saat itu, antara lain Roger Fowler (kosakata: membuat klarifikasi), Robert Hodge (kosakata: membatasi pandangan), Gunther Kress (kosakata: pertarungan wacana), Tony Trew (kosakata: marjinalisasi), Theo van Leuren (exclusion dan inclusion), Sara Milss (feminisme), Teun van Dijk (teks, kognisi sosial, dan analisis sosial) dan Norman Faiclough (teks, intelektualitas, diskursus praktis, dan sosiokultural praktis).
Metode CDA mulai diterapkan di Indonesia pasca runtuhnya Soeharto untuk mengkaji penggunakan teks dan konteks dalam media. “Misalnya, ketika ingin menyebut BBM naik, media di era Soeharto menyebut ‘naik’ dengan kata ‘disesuaikan’,” kata Yulhasni, penggiat sastra dan teater yang pernah menjadi jurnalis selama 10 tahun dan kini sedang beraktivitas sebagai dosen Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia FKIP Universitas Muhammadyah Sumatra Utara.
Namun, mengutip buku karangan peneliti sastra Eriyanto berjudul “Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media” (2011. LKIS: Yogyakarta), meski demikian metode CDA juga dianggap layak untuk menganalis karya sastra melalui pendekatan teks dan konteks, seperti pada pemikiran yang diterapkan Norman Fairclough.
Mencermati jalan cerita novel ‘Pincalang’, jelas Yulhasni, maka akan dapat tergambar situasi di luar teks ketika itu di daerah pesisir Pantai Barat Sumatra, saat kapitalisme menghantam hutan bakau dan biota laut. “Merujuk level pertama pada teks model Fairclough, yakni representasi, ‘Pincalang’ merupakan realitas sosial masyarakat nelayan yang dipindahkan menjadi teks sastra,” katanya.
Meski berbeda pendekatan kritik, namun Mihar dan Yulhasni sama-sama menemukan satu tema yang dianggap mewakili pesan besar novel, yakni “Kapal Keppres”. Yulhasni mengutip satu kalimat dari halaman 185 novel tersebut: “’Pincalangku disambar Keppres, tu’, seorang bertubuh gempal dan pendek menjelaskan beremosi.”
Hubungan konstruksi teks seperti ini, jelas Yulhasni, sebagaimana model yang dibuat Fairclough, cenderung tertutup karena pengarang tidak memperkuatnya dengan kosakata “pukat harimau”. Terlepas dari masih adanya ketertutupan itu, dia menilai ‘Pincalang’ menjadi salah satu karya sastra yang mewakili gambaran keterpurukan rakyat dalam menghadapi kekuasaan.
Dikatakannya, Idris Pasaribu yang berlatar belakang profesi wartawan, mencoba menghindari imajiner-imajiner itu dengan bermain dalam teks-teks wacana “Pincalang”. Namun, “Ketika realitas dipindahkan dalam teks sastra, seharusnya fakta imajiner dapat diminimalisasi dengan cara-cara yang elegan. Kelebihan seorang wartawan jika menulis karya sastra terletak pada fakta-fakta realitas itu sendiri,” katanya.
—
Foto: Tonggo Simangunsong | Editor: Intan Larasati














