Teks dan foto: Lalu Abdul Fatah
Surabaya – Spotlight menyorot seorang pria bertinggi sekitar 167 cm yang sedang berdiri di panggung outdoor Loop Graha Famili pada Minggu malam, 3 Juni 2012. Mengenakan jaket hitam yang dibiarkan terbuka, ia pun mulai presentasi. Deretan slide dengan logo Wonderful Indonesia dan Indonesia Kreatif tertayang di layar yang membentang di belakangnya.
Ia adalah Agung Pascasuseno, perwakilan dari Indonesia Kreatif. Ia bergabung dengan Tim Berbagi Ide Segar (www.berbagiidesegar.com) yang sedang roadshow 40 kota se-Jawa Bali dalam 40 hari. Surabaya adalah kota ke-15 yang disambangi setelah Sleman, Solo, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Kediri, Malang, Jember, Tabanan, Denpasar, Banyuwangi, Probolinggo, Bangkalan, dan Sidoarjo.
Malam itu, di hadapan audiens yang duduk santai di bangku kayu, Agung memperkenalkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tak dielakkan lagi kalau masyarakat belum begitu mengenal kementerian yang dipimpin oleh Marie Elka Pangestu ini. Apalagi adanya tambahan “Ekonomi Kreatif”, istilah yang belum begitu populer.
Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. “Oleh sebab itu, ekonomi kreatif dekat dengan masyarakat,” simpul Agung.
Ia juga menyampaikan makna-makna filosofi di balik kata ‘kreatif’ dan ‘kreativitas’. Bahwa, kreatif itu mencintai; kreatif itu berbagi; kreatif itu menghargai perbedaan; kreatif itu integritas; kreatif itu berinovasi; kreatif itu memberi makna bagi kehidupan; kreativitas merupakan tradisi yang hidup; kreativitas mengangkat citra bangsa di mata dunia; kreativitas itu memahami jati diri; dan kreativitas itu penyambung hidup.
Kreativitas lahir dari rasa cinta akan sesuatu. Ia bisa pula hadir dari ragam persoalan yang dihadapi manusia. Oleh karena itu, sosok kreatif biasanya seorang yang terbuka akan perbedaan. Ia akan mencoba menjembatani perbedaan melalui solusi-solusi kreatif yang ia tawarkan. Solusi itu berupa inovasi yang tidak individualis alias layak dibagi pada sesama.
Poin-poin bernas yang disampaikan Agung bergayung sambut dengan pemaparan M. Arief Budiman, founder dan CEO Petakumpet, pada sesi berikutnya. Pria berkaus hitam, celana kain hitam, dan sepatu kets putih itulah pencetus Berbagi Ide Segar. Dengan tagline “40 hari 40 kota 40 keajaiban”, ia dan tim menjalankan program yang bertujuan untuk memancing tumbuh suburnya pola pikir yang berlandaskan kreativitas.
Dengan santai, ia memancing minat audiens untuk bermain-main sekaligus dibayar mahal. Bagaimana bisa? Kreativitas, kuncinya.
Ia mengenalkan istilah “happynomic” yang berarti mengerjakan sesuatu yang paling dicintai sehingga orang tersebut tidak merasakan kalau ia bekerja. Semacam pola pikir yang dibangun agar orang ‘bekerja’ berdasarkan hobi. Kala orang beranggapan, hobi itu idealisme yang jika dibisniskan (dikomersilkan) akan kehilangan idealismenya, Arief justru mengetengahkan satu formula, “Mulailah berpikir DAN, bukan ATAU.” Maksudnya, idealisme dan bisnis bukanlah dua pilihan yang berada di dua titik berseberangan. Malahan, keduanya bisa dikawinkan dan disinergikan hingga berbuah kesuksesan.
Pandangan khalayak selama ini pada hobi yang dianggap main belaka, buang waktu dan energi, coba diluruskan oleh Arief. “Main dan main-main itu beda!” tegasnya. Ia mencontohkan Komunitas Petakumpet yang ia dirikan. Arief bilang, Petakumpet adalah komunitas main-main. Di markas Petakumpet, rekan-rekannya amat suka bermain Tamiya tiap hari. Namun, Arief membiarkannya. “Asalkan, pekerjaan mereka diselesaikan dengan tanggung jawab dan maksimal.” Ini sebagai cara untuk tetap menghidupkan jiwa kanak-kanak dalam dirinya dan rekan-rekannya. Karena kanak-kanak selalu berani mencoba, melakukan apapun dengan riang gembira, dan tak pernah melihat masalah sebagai hambatan.
Hasilnya pun tak main-main. Miliaran rupiah berhasil mereka dulang melalui ide kreatif. Sejak 2003 hingga 2011, tak kurang dari 105 penghargaan kreatif nasional bisa mereka sabet untuk karya-karya iklan dan desain grafis. Bahkan, untuk lebih membumi, ide-ide kreatif Arief Budiman juga dibukukan lewat buku best seller ‘Jualan Ide Segar’, ‘Tuhan Sang Penggoda’, dan yang terbit pada Mei 2012 ‘Spiritual Creativepreneur’.
Bagaimana semua prestasi itu bisa mereka gapai? Salah satu kuncinya, “Carilah masalah!” kata Arief. Ilustrasi dalam slide presentasinya menguatkan kesan itu. Yakni, seorang manusia jagoan bermodal trisula yang sedang menghadapi dua monster besar yang amat mengerikan. Kata Arief, “Anggap masalah sebagai peluang. Bermainlah dengannya. Semakin besar masalah, semakin besar peluangnya. Begitu pula kreativitas untuk bermain dengannya, pun semakin besar.”
Mengapa perlu kreativitas? Menurut Arief, “Saat dunia berada dalam kekurangan maupun kelimpahan, jumlah rezeki yang beredar tetap sama, hanya berpindah tempatnya. Dengan kreativitas, kita tahu peluang ada di mana.” Namun, yang lebih penting dari itu, ia menyarankan agar seseorang tidak sekadar menciptakan (don’t just create), tapi harus menjualnya (sell it!).
Ia pun melemparkan sebuah jargon “Jangan bermain untuk mengejar uang, bermainlah agar dikejar uang.” Lantas, ia memutar video Moymoy Palaboy, dua kakak beradik dari Filipina, yang membawakan lipsync lagu Volare. Video kocak yang direkam dengan kamera laptop yang kemudian diunggah di Youtube itu telah ditonton lebih dari 5 juta kali. Ketenaran mereka berbuah hasil. Mereka dikontrak sebagai bintang video iklan “Coca Cola Brrr”. Selain popularitas kian merangkak, apalagi yang mereka dapat kalau bukan uang.
Ketika ditarik ke level perusahaan, ia menekankan bahwa membangun perusahaan bukan untuk mendapatkan uang, tapi untuk membangun orang-orang di dalamnya. Kala perusahaan sudah tidak sehat atau orang-orangnya tidak lagi nyaman, ia sarankan, “Follow your passion, success will follow you.“
Sebagai pamungkas, Arief Budiman menyelipkan pesan bagi audiens, “Jangan sekadar main-main, tapi mulai proyeksikan itu sebagai penebar manfaat.”










