Teks dan foto: Sharifa Ainie
Jakarta- Beruntung rasanya para peserta konvensi Indonesia Contemporary Art and Design (ICAD) 2012 kali ini bisa mendengarkan sharing dari salah satu jenius Indonesia. Ya, Dahlan Iskan hadir sebagai pembicara dalam konvensi keempat ICAD 2012 dengan tema ‘The Genius’. Dalam kesempatan ini, acara yang berlangsung di grandkemang Hotel, Jakarta, pada Selasa (5/6) lalu, dimoderatori oleh sosok yang sudah tidak asing lagi di dunia pertelevisian Indonesia yaitu Andy F. Noya.
Tampaknya para peserta tidak ingin meninggalkan tempat berlangsungnya acara, walaupun Dahlan Iskan datang terlambat. Karena acara yang sangat menginspirasi ini dikemas dengan sangat santai. Tidak ada batas antara pembicara dan peserta. Hal ini terlihat ketika Dahlan Iskan yang datang terlambat langsung meminta maaf pada para peserta yang sudah menunggunya lama, kemudian ia langsung duduk di bawah panggung dan disambut oleh Andy F. Noya dengan candaannya yang khas.
Seperti sudah banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, Dahlan Iskan yang banyak melakukan aksi-aksi kontroversi yang tidak dilakukan pejabat negara lainnya, dinilai merupakan sosok yang tetap untuk memberikan inspirasinya kepada para insan kreatif. Hal ini juga menyangkut dengan jabatannya sebagai Menteri BUMN Republik Indonesia. Para insan kreatif merasa bahwa siapa yang mempunyai uang pelicin lebih besar, itu yang mendapatkan mitra dengan pemerintah. Ditambah lagi dengan pernyataanya bahwa 70% BUMN itu korup. Bagaimana kekhawatiran ini bisa dilewati oleh para insan atau industri kreatif?
Ia menjelaskan bahwa semua ini bermula dari pembunuhan terhadap akal sehat secara besar-besaran. Banyak sekali akal sehat yang tidak berjalan. Kemudian orang toleran terhadap pembunuhan itu, lama-lama dia menjadi bagian dari itu, dan lama-lama orang yang menggunakan akal sehat dianggap aneh.
“Semua orang menggunakan jalan tol itu biar cepat, tapi di pintunya saja sudah lambat. Itu kan pembunuhan akal sehat yang pertama. Akal sehat yang kedua, orang dapat uang kan senang, ini mau dapat uang mau bayar kok dilambat-lambatin. Akal sehat ketiga, sejak jaman tol itu ada, bahwa setiap jam enam sampai jam sembilan pagi itu adalah jam tersibuk, mobil terbanyak, kenapa justru pada jam segitu loketnya tidak dibuka semua. Jadi pada peristiwa itu saja, minimal ada tiga pembunuhan akal sehat, dan yang seperti itu di masyarakat kita, di pemerintahan, di mana-mana itu luar biasa tidak dilaksanakan, tidak ditegakkan, dan bahkan tidak ada yang gelisah ketika akal sehat itu tidak ditegakkan,” ujarnya menceritakan aksi membuka pintu tol Semanggi- Slipi beberapa waktu lalu.
Soal seberapa jauh industri kreatif bisa masuk ke dalam ranah BUMN yang juga ditanyakan oleh salah satu peserta konvensi, Dahlan Iskan menjawab dengan pesimis bahwa ia tidak percaya jika industri kreatif bisa tumbuh di BUMN.
“Karena di BUMN ini kungkungan terlalu banyak, sedangkan kreatif itu kan harus ada environment, harus ada kemerdekaan, harus ada independensi. Orang tidak independen, tidak bisa merdeka, lingkungannya terkekang, mana bisa kreatif. Menurut saya tidak cocok. Sudahlah, BUMN itu kasih saja pekerjaan yang kayak mesin-mesin, misalnya perbankan, disiplin, kemudian infrastruktur itu cocok, bangun jalan tol. Tapi kalau industri kreatif, saya sudah merenungkan tidak sebaiknya BUMN masuk sana. Industri kreatif harus betul-betul environment kreatif harus ada di situ. Bagaimana bisa kreatif kalau peraturannya begitu banyak, undang-undang menyangkut BUMN begitu banyak, yang mempersoalkan begitu banyak. Biarlah sektor kreatif ditangani oleh teman-teman yang merdeka, yang independen, yang mempunyai iklim untuk kreatif,” jelasnya.
Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana kalau industri kreatif dijadikan partner dengan BUMN, dan lagi-lagi ia tidak menyetujuinya.
“Jadi joint venture dengan BUMN, menyakitkan. Anda nanti terlalu banyak terlibat dengan urusan-urusan birokrasi, urusan-urusan hukum, urusan-urusan yang disebut kekayaan negara, urusan-urusan dengan korupsi. Sudah lebih baik usaha sendiri, bebas dari segala birokrasi seperti itu,” ungkap mantan Dirut PLN yang pernah menjalani operasi cangkok hati di China pada 2007 silam.
Walaupun dalam konvensi ini tidak banyak membahas tentang industri kreatif, namun banyak inspirasi yang bisa diambil dari tiap penjelasan yang disampaikan Dahlan Iskan. Menutup konvensi tersebut, Dahlan Iskan diminta oleh Andy Noya untuk memberikan tips kepada para peserta konvensi, bagaimana agar tetap bisa menjaga kreatifitas ditengah birokrasi, peraturan, dan perundang-undangan yang ruwet, seperti yang masyarakat lihat pada dirinya.
Namun, bukan Dahlan Iskan namanya kalau pernyataannya tidak menuai kontroversi. Ia berkata kalau orang kreatif tidak memerlukan nasihat, petuah, doktrin, sehingga ia pun tidak akan menasehati.
“Karena itu kan bagian ketidakbebasan. Ya sudahlah pokoknya berpikir saja, bekerja saja, berbuat saja, apa yang menurut Anda baik, lakukan, menurut akal sehat juga dilakukan,” ungkapnya menutup konvensi hari itu.













