Teks dan foto: Tonggo Simangunsong
Stand Up Comedy (SUC) menjadi sebuah tren hiburan yang merasuki kalangan anak muda di Indonesia belakangan ini. Tak hanya di Jakarta, di kota Medan, hiburan berkonsep lawakan solo ini kian ramai mengundang simpatik. Penggemar hiburan gelak tawa ini bergerak naik drastis. Sejumlah comic pun terlahir berkat sejumlah event berupa Open Mic dan Stand Up Comedy Night digelar secara rutin. Kini, perlahan-lahan ia bergerak menjadi sebuah industri yang mampu menghidupi kreatifitas kotanya.

SUC menjadi hangat karena rutin ditayangkan media televisi; bermula dari ajang audisi SUC di Kompas TV, kemudian berlanjut ke program Open Mic dan SUC Show di Metro TV—dua kali dalam sepekan.
SUC semakin populer karena terbilang segar dan baru, meskipun di luar negeri sebenarnya terbilang jenis konsep “lawakan tua”. Kehadirannya ibarat angin segar di tengah popularitas tayangan komedi konvensional yang mengandalkan dialog, monolog maupun adegan konyol, “bullying” (merendahkan martabat manusia) hingga yang vulgar.
Perlahan namun pasti, SUC telah berhasil membangun penggemar yang begitu masif bahkan setia. Tak hanya sekadar penggemar, belakangan mulai bermunculan penggemar fanatik yang selalu hadir di setiap event comic; baik Open Mic maupun Stand Up Night.

“Setelah SUC Show dan Open Mic mulai diputar di televisi atas gagasan Ernest Prakasa dkk., ada keinginan untuk membuat yang sama di Medan,” ujar Zulfahmi Purba—bersama Fatahillah Ginting— pencetus ide lahirnya ajang Open Mic dan SUC Night Medan.
Menurut anak muda yang akrab disapa Fahmi itu, keinginan untuk menggagas lahirnya event SUC di Medan muncul ketika konsep hiburan baru ini belum “ngehip” di Medan. Namun, ia yakin bahwa suatu saat di Medan gaungnya akan didengar bahkan hidup.
Bermodal keyakinan itu, Fahmi dan Fatahillah mulai merancang konsep, mencari tempat pertunjukan, mencari comic dan membangun komunikasi komunitas via jejaring sosial Twitter, yakni @mateinfo yang dibuat tepat 1 September 2011.
Tak mudah untuk meyakinkan beberapa pihak untuk mewujudkan rencana itu. Rencana awal yang bakalan pertama kali diwujudkan waktu itu ialah menggelar “Open Mic”, event yang membuka kesempatan bagi siapa saja untuk tampil solo di hadapan penonton dengan cerita-cerita lucunya.

Selain mencari tempat yang representatif, mencari comic yang mampu mengundang gelak tawa penonton, bukan pula hal gampang. Agar banyak yang ikut serta, sedikit akal kemudian dilancarkan.
“Caranya dengan ‘menjebak’ teman-teman yang sudah kenal dekat untuk mau tampil di show pertama,” papar Fahmi. Mereka tidak tahu kalau mereka akan tampil di acara yang nantinya bakalan tren disebut SUC.
Fatahillah masih ingat kapan pertama kali “Open Mic” itu digelar, tepatnya 13 September 2011, digelar “Open Mic” dadakan dengan menghadirkan beberapa teman yang berlatar belakang berbeda.
“Macam-macamlah. Ada penyiar radio, mahasiswa, dosen dan orang kantoran,” jelas Fahmi. Melihat respon yang lumayan tinggi, kemudian dipikirkan konsep yang lebih matang dan “menjual”.

Tak lama kemudian, tepat 20 Oktober 2011, digelar Open Mic pertama dengan konsep yang lebih serius di 061 Bistro di Jalan Ahmad Yani (Kesawan). Responnya di luar dugaan—061 Bistro sesak dengan penonton. Banyak yang berdiri karena tak kehabisan tempat duduk, tak sedikit yang rela duduk lesehan. Yang lebih mengejutkan ialah, responnya bukan hanya berasal dari kalangan anak muda Medan saja. “Waktu itu hadir juga Mosidik, comic asal Bandung yang pertama kali mengetahui adanya SUC Medan melalui Twitter,” sambung Fahmi.
“Kami tidak menyangka penontonnya akan membludak sebanyak itu,” kata Fatahillah yang akrab disapa Fatah. Menurut Fahmi dan Fatah, ramainya penonton saat itu kemungkinan besar dikarenakan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai SUC yang sebelumnya hanya bisa mereka saksikan di televisi.
Peran jejaring sosial Twitter, diakui Fahmi dan Fatah, sangat membantu gaung SUC di Medan. Akun Twitter @MateInfo, yang mereka buat bersamaan dengan dicetusnya ide untuk menggelar SUC Medan menjadi ramai setelah munculnya hastag “StandUpIndo_Medan”. Belakangan, akun Twitter @StandUpIndo_MDN dibuat berdiri sendiri. Bila @MateInfo ‘berkicau’ tentang info agenda event di Medan, @StandUpIndo_MDN hanya untuk aktivitas SUC Medan.

Tak ingin hilang seketika, pada pekan berikutnya digelar lagi event yang sama di tempat yang sama 061. Melihat tingginya respon penonton akhirnya diputuskan, Open Mic digelar rutin setiap Kamis malam pukul 20.00 WIB di 061 Bistro. “Open Mic dibuat setiap Kamis dan masih terus digelar sampai sekarang,” jelas Fatahillah.
Event yang tidak kalah menarik kunjungan penonton digelar, yakni Stand Up Night. Comic-comic yang tampil di sini adalah mereka yang dianggap ‘lulus’ dari Open Mic. “Dari beberapa event Open Mic, kita terus melakukan evaluasi, siapa comic-comic yang pantas tampil di Stand Up Night. Kalau boleh dibilang, comic yang sudah tampil di Stand Up Night sudah mengarah ke profesional bahkan bisa dibilang sudah profesional. Artinya, mereka dibayar untuk tampil,” ujar Fahmi. Stand Up Night biasanya per bulan—sampai saat ini Fahmi beserta timnya telah menggelar 4 kali event Stand Up Night di tempat yang berbeda.
Industri Kreatif Lokal
Menyadari eksistensi SUC yang terus bertahan hingga kini menjadi indikasi bahwa kreatifitas ini memiliki peluang besar untuk menjadi industri—meski masih harus membutuhkan kerja keras lagi.
“Sebenarnya sudah mengarah ke sana. Hanya saja sejauh ini, yang masih menjadi kendala ialah media yang masih minim untuk lebih mempopulerkan SUC di Medan. Selain di 061 Bistro tiap Kamis, beberapa kali kita juga pernah menggelar event yang sama di kampus; juga bekerjasama dengan radio. Meski demikian, kita tetap optimis sepanjang ada comic yang mau berkreasi, ada tempat yang representatif untuk menikmati dan ada penggemar yang selalu menonton,” jelas Fahmi.

Selain itu, kendala yang kini mulai menghampiri ialah menghindari pengulangan konten cerita pengundang tawa oleh comic yang sama maupun berbeda. Konten, konten dan konten. Tak ada kendala lain yang dapat menghalangi eksistensi SUC selain konten yang “bermutu”—yakni memiliki tingkat kelucuan yang tidak begitu rumit (membumi) namun mampu membuat penonton terpingkal-pingkal, konten lawakan dekat dengan keseharian, tidak rasis, tidak mengandung S.A.R.A dan yang paling penting orisinil alias atau belum pernah didengar sama sekali.
“Saat ini ada beberapa comic andalan kita. Cuma kita juga pinginnya bergantian agar penonton enggak bosan karena comic-nya itu-itu aja. Kita juga ingin kontennya tetap bermutu agar tidak ditinggalkan penonton secara perlahan-lahan,” ujar Fahmi menyebut nama-nama comic Medan yang saat ini sering tampil, di antaranya Gita, Oji, Madi, Babe, MC Awan, Wilson, Ridho dan Furkon.
“Yang utama harus dimiliki agar Stand Up Comedy bisa menjadi industri ialah konten. Saat ini yang menjadi salah satu masalah ialah bagaimana agar comic lebih kreatif untuk menciptakan konten yang sama namun tetap lucu di hadapan penonton,” jelas Fahmi.
Oji, comic Medan yang merupakan kontestan yang pertama kali dieliminasi pada audisi Stand Up Comedy Kompas TV, mengakui dibutuhkan kreatifitas ekstra untuk menciptakan lawakan-lawakan yang dijamin mampu menciptakan gelak tawa.

“Kalau saya biasa ambil inspirasi dari kehidupan sehari-hari saja. Misalnya, saya mengambil dari sisi saya sendiri sebagai orang India. Saya bisa ambil cerita lucu; misalnya, kenapa orang India banyak yang hitam? Asalkan konteksnya masih bisa ditoleransi dan original, saya pikir akan berhasil mengundang kelucuan,” kata Oji.
Segalanya tentang SUC di Medan telah dimulai—yang utama ialah event yang rutin digelar. Tinggal bagaimana agar ia tetap eksis hingga nanti menemukan esensinya sebagai industri kreatif yang bisa disejajarkan dengan industri kreatif yang sudah ada di tengah-tengah anak muda saat ini; seperti film dan musik.
Seperti dijelaskan Fahmi, tak sedikit yang berharap nantinya SUC yang mampu menghidupi orang-orang kreatif di Medan. Ada comic yang profesinya sejajar dengan artis—seperti musisi atau aktor. Cuma mungkin itu belum sekarang. Kita akan lihat nanti. Semuanya tergantung pada kreatifitas orang-orang yang sudah sempat terjun ke dunia ini—agar gelak tawa itu nantinya tidak berhenti di tengah jalan.











