Teks: M. Ashari | Foto: Dokumentasi
Mengembangkan inovasi dan kreativitas melalui media digital menjadi kunci dari festival yang diadakan oleh Prasetiya Mulya Business School (PMBS), Selasa (26/6) kemarin. Dalam festival yang dijuluki “Creatifest” dan mengusung tema “Digital Lifestyle” itu, para mahasiswa PMBS diajak untuk mampu melihat masalah, mencari ide solusi kreatif, mematangkan ide, mewujudkannya, serta mempresentasikannya ke publik.
Penanggungjawab Creatifest 2012, Eko Suhartanto, mengatakan, sebanyak 36 produk hasil kreasi mahasiswa semester dua yang berbasis digital itu dipamerkan dan dinilai oleh dewan juri yang berasal dari akademisi, praktisi, media massa, mahasiswa yang berprestasi, dan alumni. “Karena metode pembelajaran disini berbasis pengalaman, maka kami ingin mahasiswa mendapatkan pengalaman dan masukan dari pihak luar, dari situlah mereka akan dapat nilai kuliah yang sesungguhnya,” ujarnya.
Dia menambahkan, produk berbasis digital yang berpotensi bisnis harus memenuhi beberapa persyaratan. Beberapa persyaratan itu, yakni produk harus mampu memberikan manfaat bagi stakeholder, serta bisa memicu penciptaan baru. “Selanjutnya, produk harus memiliki potensi bisnis yang dilihat dari ketertarikan user untuk menggunakan produk yang ditawarkan. Unsur-unsur itulah yang menjadi pegangan bagi juri,” kata Eko.
Pagelaran Creatifest 2012 tersebut dibagi ke dalam tiga kategori, yakni Creative Mobile Apps For Digital Lifestyle, Creative Appliance For Digital Lifestyle, dan Creative Accessories For Digital Lifestyle.
Untuk kategori Creative Mobile Apps, terdapat sejumlah produk yang berguna bagi masyarakat. Ada alat Smart Security System yang dapat mengamankan aset dan menghemat energi. Busway Locator, misalnya. Aplikasi tersebut tergolong unik. Busway Locator merupakan suatu software untuk smartphone, di mana pengguna dapat melihat lokasi armada Trans Jakarta melalui peta jalur Trans Jakarta dengan tampilan sebenarnya.
Selain itu, pengguna juga dapat mengetahui kondisi di dalam bus yang akan dinaiki, apakah penuh, sedang atau kosong, dengan adanya tampilan warna bus yang berbeda pada peta yang dilihat. Dengan kondisi tersebut, software ini dapat membantu pengguna untuk lebih cepat memutuskan apakah akan tetap naik bus Trans Jakarta ataukah kendaraan umum lain saat terburu-buru.
Lalu, Fund It, yakni sebuah sistem untuk menggalang investor retail yang akan membiayai bisnis atau proyek yang inovatif. Ada pula Ava Concept yang menjawab masalah kesalahan ukuran pakaian dalam berbelanja online.
AVA concept merupakan online shop dengan sistem pengukuran menggunakan avatar yang dapat diubah sesuai dengan ukuran badan pengguna. Pengguna dapat menyesuaikan ukuran bahu, pinggang, panjang badan, tangan, dll melalui pembuatan avatar semirip mungkin dengan badannya. Kemudian pengguna dapat memilih baju dan mencobanya pada avatar sehingga ukuran baju (S, M, L, XL) dapat terlihat kekecilan, pas, atau kebesaran, sehingga pengguna tidak perlu lagi mengalami kesalahan ukuran saat berbelanja online.
Begitupun pada produk kategori Creative Appliance. ParKING menawarkan sistem parkir yang mampu memudahkan penempatan lokasi parkir dan melacaknya. Kemudian e-Finger, atau sebuah aplikasi yang memanfaatkan teknologi finger print untuk menggantikan kartu ATM.
Pada kategori Accessories, ada Pupa, casing iPad berbentuk boneka yang bisa menjadi tas yang tahan banting. Rapidus juga menawarkan tas iPad unik yang bisa dilipat-lipat. Sticky Pad menghadirkan stand iPad yang dapat membuat gadget tersebut sangat nyaman untuk bermain musik, membaca teks di depan panggung, maupun menonton film.
Eko mengharapkan keunikan produk yang dipamerkan dalam Creatifest 2012 tersebut dapat menerima apresiasi dan masukan dari masyarakat banyak. “Semoga ide-ide kreatif dari setiap penyelenggaraan Creatifest yang memasuki tahun ke tujuh ini bisa juga terpakai sebagai teknologi yang berguna nantinya bagi masyarakat,” ujarnya. (*)










