Ketika orang-orang tengah sibuk dengan pemilihan gubernur Sumatra Utara (Pilgubsu) 7 Maret 2013, sastrawan Saut Poltak Tambunan datang ke Medan, Rabu, 6 Maret di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara (USU), untuk membacakan sejumlah puisi dan cerpennya. Ia pun ikut serta berkampanye. Tapi, pesan kampanyenya bukan untuk dukungan kepada calon gubernur atau calon wakil gubernur. Tidak. Ia berkampanye tentang kecintaan dan upaya pelestarian bahasa ibu. Tak hanya membaca cerpen dan puisi, Saut juga menggunakan monolog untuk mengampanyekan bahasa ibunya, yaitu bahasa Batak.
Masih rendahnya apresiasi terhadap bahasa ibu menjadi pusat perhatian Saut dalam event “Membaca Sastra Bersama Saut Poltak Tambunan” yang digagas Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya USU itu; acara yang turut melibatkan sejumlah penggiat sastra Idris Pasaribu, Juhendri Chaniago, penggiat film H Amsyal, peneliti budaya dan sastra Batak dari Universtitas HKBP Nommensen Manguji Nababan, seniman musik/etnomusikolog Irwansyah Harahap, dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Dr. Syahron Lubis, MA.
Sastrawan yang sudah berkiprah selama 40 tahun dengan hampir 50 novel serta puluhan cerpen dan puisi itu, mengatakan, ketika tahun 2011 lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa saat ini masih ada 746 bahasa daerah di Indonesia. Seperti dituliskannya dalam sebuah esai di harian Kompas, 21 Februari 2013, diperkirakan pada akhir abad ke-21 ini hanya akan tersisa 10%, atau hanya sekitar 75 bahasa daerah. Yang menjadi pertanyaan, di manakah nanti posisi bahasa Batak?
Jika melihat kondisi kebudayaan Batak pada saat ini, pertanyaan itu memang sulit dijawab. Ironisnya, saat ini masih ada stereotip kepada bahasa daerah ini. Sebab, bahasa ini kerap diindentikkan dengan bahasa orang-orang di terminal bus. Sehingga ada kesan bahwa bahasa Batak memiliki level rendah. Persoalan lain ialah banyaknya perantau Batak yang sudah melupakan bahasa ibunya setelah merantau. Perkawinan antar etnis yang dilakukan para perantau Batak, juga tidak bisa dipungkiri, telah menjadi salah satu kendala yang sulit dibendung.
Menurut Saut, yang pada tahun 2012 dipercaya sebagai kurator senior di ajang Ubud Writer Festival, sejauh ini lembaga pemerintah kurang peduli dengan keselamatan bahasa ibu itu. Ini bisa dilihat dari masih minimnya karya-karya sastra berbau lokal yang dipelajari di lingkungan pendidikan sejak dini. Beruntung, masih ada lembaga adat dan masih kuatnya adat istiadat yang pada akhirnya membuat bahasa itu tetap digunakan, meskipun kesannya menjadi eksklusif karena hanya dilakukan kebanyakan kalangan orangtua.
“Bandingkan dengan daerah lain, di Pulau Jawa misalnya, ketika pemerintah daerah melalui aturan daerah mewajibkan instansi pemerintah menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi lisan di lingkungan kantor,” kata Saut.
Sastra sebagai Penyelamat
Menurut Saut, salah satu cara menyelamatkan bahasa ibu ialah dengan mengaplikasikannya ke dalam karya sastra. Upaya penyelamatan ini sekaligus akan menguatkan identitas para sastrawan dengan entitas budayanya. Saut mengaku, sejak terjun menjadi penulis sastra, tahun 1973, ia sudah menelurkan puluhan cerpen, puisi, dan novel berbahasa Indonesia. Bahkan, ada beberapa karyanya diterjemahkan ke bahasa asing, seperti Prancis dan Polandia.
“Sebelum nanti saya ditanya mana karya saya yang berbahasa Batak (bahasa ibu), sebagai penulis berbahasa ibu Batak, maka saya merasa bertanggungjawab untuk menulis karya berbahasa Batak,” terang Saut.
Tahun 2012, Saut pun menerbitkan buku sastra berbahasa Batak berupa kumpulan cerpen berjudul “Mangongkal Holi” dan novel bilingual “Mandera na Metmet”. Ia juga menulis puisi dan monolog dalam bahasa Batak.
“Apresiasi terhadap buku ini mengharukan. Ternyata masyarakat Batak masih mencintai dan sangat merindukan bacaan dalam bahasa ibu (mother tounge). Tidak berlebihan jika Prof Dr Hotman M Siahaan (Sosiolog dari Universita Airlangga Surabaya) memberi komentar bahwa buku ‘Mangongkal Holi’ itu ibarat ‘homban’ (dalam bahasa Batak berarti mata air di padang kering),” jelas Saut.
Meski begitu, harus diakui pula bahwa kehadiran buku tersebut masih dinilai masih sulit “dicerna” lantaran penggunaan bahasanya. Menurut Saut, bahasa Batak digunakan dalam buku itu sebenarnya masih dalam kategori bahasa Batak “standar”, bukan bahasa Batak halus seperti yang lazin dipakai oleh masyarakat adat maupun dalam gereja Batak. “Ternyata banyak yang mengaku masih merasa kusulitan membaca buku itu,” ujarnya.
Upaya penyelamatan bahasa ibu, jelas Saut, juga terkait dengan banyaknya kearifan lokal dan nilai luhur tradisional yang tepat bila ditransformasikan lewat bahasa ibu. Jika bahasa ibu pudar, maka dikhawatirkan kearifian lokal itu juga akan ikut punah.
“Modernisasi memang melukai tradisi. Kita tidak perlu menuding siapa-siapa. Hanya kita, penganut tradisi itu yang harus melestarikannya. Akankah kita biarkan bahasa Batak punah karena ditinggalkan oleh etnis penuturnya?” tanya Saut. Di saat yang sama dua cerpen Saut dibacakan masing-masing oleh Juhendri Chaniago berjudul “Lali Panggora”dan oleh Amsyal Tanjung berjudul “Omak”.
—
Foto: Tonggo Simangunsong | Editor: Intan Larasati














