Teks & foto : Ifan F. Harijanto
Jakarta – Galeri Nasional Jakarta saat ini sedang melangsungkan pameran “Karya Sang Juara”, sebuah pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia. Pameran ini diikuti oleh seniman yang karyanya terpilih sebagai ‘sang juara’ dalam kompetisi seni rupa yang juga diadakan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia. Sampai tanggal 27 Juli 2012, karya-karya ‘pemenang’ (juara) 53 seniman akan ditampilkan, antara lain: Soenaryo, Tisna Sanjaya, Nasirun, I Wayan Sujana Suklu, dan masih banyak lagi karya seniman lainnya yang karyanya kebanyakan sudah menjadi koleksi pribadi dari beberapa kolektor.

Memasuki ruang pameran di Gedung A, para pengunjung akan disambut oleh karya seni rupa Astari berjudul “Armors for Soul“ (2011), yang berupa patung-patung wanita yang mengenakan gaun warna perak dan berbagai macam bunga di dadanya seakan menyambut para pengunjung sebagai ucapan selamat datang.
Berjalan ke arah bagian dalam mengikuti petunjuk arah yang sudah disiapkan, pengunjung akan disuguhkan karya-karya sang juara yang memang sangat memukau untuk dilihat dan dinikmati. Keanekaragaman karya yang ditampilkan membuat para pengunjung betah untuk mengamati setiap karya yang tertempel di dinding ruang pamer.

Salah satu yang menarik adalah di ruang tengah yang salah satu dindingnya terpampang lukisan Pak Harto (The Smiling General) yang dibuat oleh Soenaryo. Di atas kanvasnya terdapat penambahan tipografi sebuah pesan jawa yang sangat terkenal, ditulis oleh Sosrokartono. Lukisan yang kini menjadi koleksi pribadi keluarga Cendana serta dimiliki oleh Mbak Titiek ini hanya dipamerkan dan tidak dijual. Sementara itu ada beberapa lukisan lain yang memang dijual dengan kisaran harga terendah 10 juta rupiah dan tertinggi 500 juta rupiah.
Memasuki ruangan yang lebih dalam lagi, pengunjung bisa berfoto bareng dengan patung Gus Dur karya seniman Wilmar Syahnur yang berjudul “Duduk Bersama Gus Dur” (2012). Patung Presiden RI ke-4 ini dibuat dari acrylic on resin dengan skala 1:1, dan membuat siapa pun yang duduk berfoto di kursi yang sama dengan patung Gus Dur ini seperti nyata berfoto dengan Gus Dur yang asli.

Perpaduan berbagai macam karya di pameran “Karya Sang Juara”, menjadikan pameran ini bukan hanya melihat hasil akhir dari sebuah pembuatan karya seni rupa, namun lebih kepada mencari dampak yang dapat ditimbulkan dari sebuah karya. Sehingga pesan yang dimaksud seorang seniman dalam pembuatan karyanya bukan sekedar dinikmati oleh mata, namun bisa sampai ke hati sanubarinya.
Dalam sambutan tertulisnya, Rizki A. Zaelani dari Yayasan Seni Rupa Indonesia menyebutkan baginya, karya-karya yang dipamerkan ini bisa menyegarkan lagi ingatan pada semacam “trend” perkembangan seni rupa pada masa tertentu, sekaligus menegaskan catatan penting berkaitan dengan konteks persoalan sosial budaya yang dikandung oleh sebuah karya seni. Karya-karya baru yang dipamerkan seniman itu kini menunjukkan perkembangan atau pendalaman sikap kepedulian dan pandangan masing-masing seniman terhadap perubahan persoalan-persoalan kehidupan masa kini. Dengan cara mereka masing-masing, para seniman menyingkap tabir pengalaman hidup dalam simbol dan tanda artistik yang mengandung makna-makna. Tema persoalan yang dinyatakan karya-karya ini menunjukkan kaitan persoalan yang bersifat personal sekaligus juga sosial, merefleksikan secara subtil berbagai perubahan yang berlangsung dalam masyarakat dan kebudayaan kita dewasa kini.

Karya seni apapun ketika bisa menyampaikan pesan dan makna yang terkandung di dalamnya dianggap sebagai “juara”. Para seniman yang mencoba menyampaikan pesan melalui simbol-simbol yang terkandung di dalam karyanya merupakan sebuah olah pikir dan rasa yang tidak bisa digambarkan secara harfiah ketika karya tersebut sedang dibuat, namun akan menjadi bermakna ketika karya tersebut mendapat tempat dan direspon serta diapresiasi oleh masyarakat umum. (*)












