Teks dan Foto : Jaya Limas
Yogyakarta - Malam di Jari Kita (The Wax on Our Fingers) adalah proyek kolaborasi Samantha Tio (Mintio) dan Budi Agung Kuswara (Kabul) bersama para pembatik perempuan di desa Kebon, Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

Mintio adalah seorang fotografer yang berasal dari Singapura, dan semenjak awal tahun 2011 sudah berada di Yogyakarta dalam rangka program residensi seni MES56. Kabul adalah seniman lukis lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, dan telah aktif berpameran semenjak 2003. Mintio bekerja sama dengan Kabul mengolah teknik cetak cyanotype, memadukannya dengan batik.
Kedua seniman ini ingin tahu sejauh mana karya yang mereka buat dapat menjangkau publik di luar galeri seni, karenanya mereka berusaha mencari komunitas pembuat batik yang bisa diajak bekerja sama dalam mengeksplorasi perpaduan teknik cyanotype dan teknik batik.
Pencarian mereka berakhir di Desa Kebon di Bayat, Klaten. Kedatangan mereka disambut hangat oleh para pembatik di desa tersebut. Jabat tangan yang erat dengan sisa-sisa lilin-lebah (malam) bahan batik pada jemari para pembatik itu memberikan kesan yang mendalam pada Mintio dan Kabul. Karenanya, mereka sepakat untuk menamai proyek seni mereka “Malam di Jari Kita”.
Cyanotype adalah teknik cetak pada kain dengan cara mengoleskan lapisan zat kimia, campuran Ferric ammonium citrate & Potassium ferricyanide, pada permukaan kain. Setelah lapisan tersebut diangin-anginkan hingga kering dalam ruangan yang gelap, kemudian sebuah plat cetakan gambar yang diinginkan ditempelkan pada kain tersebut, lalu dipajan di bawah sinar Ultra Violet selama beberapa menit. Kain yang sudah dicetak gambar itu kemudian dibilas air bersih sehingga bahan kimia yang sebelumnya dioleskan menjadi luntur dan gambar yang dicetak di atas permukaan kain pun menjadi terlihat sangat jelas.
 Malam di Jari Kita (2).jpg)
Teknik cyanotype ini sangat bergantung pada intensitas pemajanan terhadap sinar UV secara konstan dalam batas waktu tertentu. Karena proses pemajanan sinar Ultra Violet dilakukan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari, resiko timbul jika pada saat penjemuran tiba-tiba langit menjadi mendung atau sebaliknya dari keadaan agak mendung menjadi terang benderang. Mintio harus melakukan aneka macam percobaan dengan berbagai kombinasi jenis kain dan tingkat ketebalan warna pada plat cetakan gambar untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.
Desa Kebon di Bayat, Klaten terletak wilayah di Jawa Tengah yang dikenal sebagai penghasil batik. Para pembatik dari Bayat sejak lama menjadi tenaga kerja industri batik kota Solo. Setelah bencana gempa bumi tahun 2006, Desa Kebon sempat menjadi salah satu desa penerima bantuan dari Java Reconstruction Fund melalui Organisasi Internasional untuk Migrasi. Bantuan yang diberikan berupa infrastruktur industri batik, juga fasilitasi penciptaan dan perluasan pasar bagi produk batik dari Desa Kebon.
 Malam di Jari Kita (3).jpg)
Saat ini terdapat 169 orang pembatik dari Desa Kebon dari 1.598 jumlah penduduknya. Kebanyakan para pembatik tersebut adalah perempuan. Saat mengobrol dalam beberapa kali kunjungan mereka ke Desa Kebon, Kabul dan Mintio mendengar berbagai kisah suka duka industri batik dan para pekerjanya. Batik, yang kini telah resmi diakui sebagai warisan budaya yang patut dijaga oleh UNESCO, memiliki berbagai aspek di dalamnya yang hampir tidak pernah dibahas dan diketahui oleh banyak orang. Misalnya mengenai krisis generasi para pembatik, sedikit sekali generasi muda yang berminat menjadi pembatik karena proses pengerjaan batik yang rumit dan membutuhkan waktu lama. Masing-masing kain batik membutuhkan waktu hingga dua bulan mulai dari persiapan kain, menggambar motif (membatik) dengan lilin malam, proses pencelupan menggunakan pewarna alam dapat dilakukan hingga 20-30 kali agar warna yang didapatkan maksimal, kemudian kain direbus untuk menghilangkan lilin malam. Walau kini, dengan kecanggihan teknologi, proses pengerjaan batik dapat dipersingkat dengan adanya teknik cetak stempel dan pewarna sintetis, namun profesi membatik tetap tidak terlalu populer di kalangan muda karena rendahnya upah para pembatik tersebut.
Permasalahan lainnya adalah rantai distribusi yang panjang dari produsen batik hingga ke konsumen. Rantai distribusi tersebut menyebabkan hubungan yang timpang antara para pembatik, para juragan pemilik rumah produksi batik, agen atau distributor dan toko-toko penjual batik di kota-kota besar. Belum lagi para pembatik juga harus menghadapi perilaku manipulatif para distributor yang berpusat di kota besar seperti Yogyakarta, Solo dan Jakarta yang menjual batik dengan sistem konsinyasi. Permasalahan marginalisasi posisi para pembatik dan produsen batik yang mayoritas tinggal di pedesaan ini hampir tidak pernah dibahas atau diketahui banyak orang. Selama ini jika membahas mengenai batik maka yang dibahas hanya aspek seni dan aspek ekonomi batik, jarang menyinggung mengenai aspek manusa yaitu para pembatik itu sendiri.
Dalam proyek kolaborasi ini, Kabul dan Mintio memutuskan untuk meletakkan gambar para pembatik tersebut di atas kain, menjadikannya pusat perhatian dari kain batik tersebut, sedangkan motif lainnya hanya menjadi latar. Di mana biasanya motif itu sendiri yang menjadi pusat perhatian dari sehelai kain batik.
 Malam di Jari Kita (4).jpg)
Kabul dan Mintio memotret para pembatik tersebut, lalu mencetak gambar para pembatik pada kain yang sudah dibatik terlebih dahulu. Menurut Mintio, proyek ini memberikan kebebasan berekspresi pada para pembatik tersebut dalam merepresentasikan diri mereka. Amalinda Savirani, seorang peneliti yang turut menulis dalam katalog pameran, menjelaskan bahwa pemberian ruang untuk eksistensi bagi para pembatik tersebut untuk hadir dalam karya mereka sendiri adalah sesuatu yang belum pernah terjadi selama 200 tahun sejarah batik.
Selain berkolaborasi dengan para pembatik Desa Kebon, semenjak pertengahan tahun 2011 hingga Maret 2012 selama pelaksanaan proyek Malam di Jari Kita, Kabul dan Mintio membuka studio mereka dan memberikan lokakarya sederhana tentang proses cetak cyanotype ini kepada siapapun yang tertarik untuk datang dan mencoba sendiri mencetak cyanotype di atas kain.
Hasil karya kolaborasi Mintio dan Kabul dengan para pembatik Desa Kebon dipamerkan di iCAN (Indonesian Contemporary Art Network), Jalan Suryodiningratan 39, Yogyakarta semenjak 7 April hingga 7 Mei 2012 lalu. Informasi lebih lanjut mengenai proyek ini dapat diakses di www.malamdijarikita.com












