Teks dan foto: Sharifa Ainie
Jakarta- Banyak ahli mengatakan, bahwa di masa depan Asia akan menjadi kekuatan besar di dunia yang dapat menaklukan dominasi negara barat. Seiring perkembangannya, berbagai aspek kekuatan tersebut seolah tidak terbendung, entah itu ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain. Sebenarnya, seperti apakah kultur genius negara-negara Asia, dan apakah yang membuat Asia begitu kuat? Lalu bagaimana dengan Indonesia sebagai salah satu negara di Asia? Apa yang bisa disumbangkan Indonesia untuk kemajuan Asia tersebut? Untuk itu, Anies Baswedan, Irvan A. Noe’man, dan Rusli Eddy, membahasnya dalam konvensi ketiga Indonesia Contemporary Art and Design (ICAD) 2012 dengan tema “ASIA: World Genius Culture”, di Grandkemang Hotel, Jakarta, Jumat (1/6) lalu.
“Kalau saya mendengar kata kebangkitan Asia, saya rasa harus ditambah menjadi kebangkitan kembali Asia,” ucap Anies Baswedan.
Menurutnya, selama lebih dari 1600 tahun, lebih dari 60 persen perekonomian dunia, kegiatan pemikiran dunia ada di Asia. “Jadi Anda ambil data dari tahun 1 Masehi sampai dengan tahun 1600 Masehi, maka lebih dari 60 persen kegiatan perekonomian, kegiatan perdagangan, kegiatan pemikiran, filosofi, semuanya bergeraknya di Asia,” tuturnya.
Sempat turun karena pergerakan negara Eropa dan lain sebagainya, kemudian di tahun 2000-an Asia kembali naik dan kemudian dianggap oleh dunia sebagai kebangkitan Asia yang mempunyai kekuatan yang besar sekali. Dunia pun melihat bahwa Asia adalah dunia masa depan.
“Kebangkitan Asia adalah penurunan Amerika, Eropa, saya rasa tidak. Amerika masih berperan, Eropa masih berperan, dan Asia akan muncul menjadi sebuah kekuatan baru yang sangat diperhitungkan,” kata pendiri Indonesia Mengajar ini.
Melihat potensi Asia yang akan sejajar dengan negara Barat, Indonesia sebagai salah satu negara di Asia harus memiliki kompetensi yang kuat dengan cara mengubah mindset. “Republik ini kaya raya bukan karena tambang, bukan minyak, bukan hutan, bukan laut, not all of that. Our biggest asset is the people of Indonesia. Begitu kita ubah bahwa aset kita adalah manusia Indonesia, maka kita berpikir bagaimana mengubah our biggest asset ini menjadi extremely valuable dan itu lewat education,” jelasnya.
“Saksikan semua negara yang dominan super power, lihat pasti konsentrasinya manusianya. Tidak ada negara super power dari minyak, tidak ada negara super power dari tambang, semuanya pada manusianya, dan itu artinya pendidikan menjadi luar biasa penting,” lanjut Rektor Universitas Paramadina ini.
Sementara itu Irvan Noe’man sebagai seorang desainer meyakini juga bahwa Asia akan menjadi yang terdepan, khususnya Indonesia. Ia mengatakan bahwa sebenarnya keragaman etnik dan budaya ada di Indonesia, itu yang menjadi keunikan Indonesia dengan negara-negara lain.
Tetapi sebenenarnya Indonesia sudah sangat tertinggal untuk menjadi negara industri seperti Eropa, sebab eksperimen ataupun belajar menjadi negara industri dalam 30 tahun yang lalu tidak dilakukan sama sekali, karena kita hanya menjadi negara yang assembling, tidak menjadi negara yang berbasis inovasi dan kreativitas, tidak menjadi negara yang berbasis research.
“Itu yang menggelisahkan di Indonesia, Namun, peluangnya adalah peluang yang bersifat kreatif. Bagaimana kita mengolah inspirasi-inspirasi itu menjadi produk-produk yang kekinian yang bisa bermanfaat bagi kita semua,” ujar Irvan.
Di sisi lain, Rusli Eddy sebagai insan perfilman menjelaskan seperti apa budaya spesifik dari tiap negara yang bisa dijual di tingkat dunia. Menurutnya, media yang paling efektif untuk invasi budaya adalah lewat medium entertainment, film, musik, segala sesuatu yang sifatnya pop.
Namun, ada satu permasalahan bagi indistri perfilman di Indonesia yaitu tidak mempunyai pattern atau wawasan yang jelas untuk pelaku industri bagaimana agar bisa maju terus, tidak maju mundur akibat dari budaya latah. “Apa yang sukses, dieksploitasi sebanyak mungkin, sampai orang akhirnya bosan, dan pada akhirnya drop lagi,” ucap Rusli.
“Pada akhirnya, ada generasi-generasi baru yang berjalan sendiri-sendiri untuk memperkenalkan filmnya di dunia internasional, seperti The Raid, film-filmnya Joko Anwar, atau film Sang Penari yang diputar di luar negeri,” lanjut Festival Director INAFFF ini.
Rusli juga menambahkan bahwa sebenarnya budaya Indonesia itu menarik, banyak sekali yang bisa diekspos. “Masa film-film Thailand atau China bisa terkenal dengan martial art-nya, tapi Indonesia tidak. Pada akhirnya The Raid yang awalnya cuma dibikin dengan pasar Indonesia, dan dicoba di luar ternyata sambutannya baik, dan impact-nya dibeli rights-nya oleh Amerika untuk dibikin versi Amerikanya. Impact-nya juga, aktor-aktor bule akhirnya pada belajar silat. Itu salah satu yang tidak terbayangkan dan sangat menarik,” tutur Rusli.
Di akhir acara, para pembicara masing-masing memberikan masukannya untuk masa depan Asia, khususnya Indonesia.
“Harus berani original kalau mau jenius dan bisa membawa budaya Indonesia lewat medium film dan tetap setiap kepada roots-nya Indonesia,” ucap Rusli Eddy.
“Banyak inspirasi di negeri kita, tidak perlu terlalu jauh. Kembalikan proses ke dalam kelas,” kata Irvan A. Noe’man.
“Kalau kita peduli masa depan, maka kita harus peduli pendidikan. Karena pendidikanlah yang menjadi tempat mempersiapkan masa depan. Let’s focus on the problem, mari kita turun tangan di wilayahnya masing-masing dan sesuai kompetensinya masing-masing. Kalau kita sudah melakukan sesuatu, Insya Allah efeknya akan besar. Sudah saatnya let’s do it ourself,” tutur Anies Baswedan.













