Teks & foto: Tonggo Simangunsong
Sebuah catatan tentang perhelatan musik Medan Jazz Nation, 22-23 Juni 2012
Nita Aartsen tak dapat menyembunyikan ekspresi wajahnya begitu memasuki Tavern. “Oh my God…” ujarnya kepada dua orang yang berdiri di sampingnya. Beberapa detik setelah menyempatkan diri untuk mengamati situasi di dalam pub berkapasitas maksimal 200 orang itu, salah satu musisi (pianis jazz) yang didapuk sebagai bintang utama perhelatan musik jazz Medan Jazz Nation 2012, itu pun pergi beranjak meninggalkan lokasi.
Dari balik keramaian penonton yang terus memadati Tavern, tampak Bengbeng dkk, sedang sibuk memasang alat musik dan menyambungkannya ke sound system yang minim dan hanya mampu untuk menghidupkan suasana musik di dalam ruangan. Bengbeng adalah vokalis/gitaris Sunset Bluesbite, band blues lokal yang tahun ini ikut di deretan liners-up Medan Jazz Nation di hari kedua. Bersama kedua personil lainnya di band blues Medan itu: Roy (bass) dan Mahesa Kumbara (drums), mereka akan tampil sesuai dengan rundown festival jazz yang sudah memasuki tahun kedua itu.
Hari itu, Sabtu malam 23 Juni 2012, waktu perlahan namun pasti mengarah ke angka 9, namun peralatan musik dan setting sound system belum juga terpasang dengan baik agar konser bisa dilanjutkan kembali. “Musibah kecil” yang terjadi beberapa menit sebelumnya memang tak bisa diatasi lagi. Konser hari kedua di parkiran Hotel Danau Toba International (HDTI) yang sudah mulai sejak sore itu awalnya berlangsung dengan aman dan terkendali. Namun, naas baru tiba begitu matahari tenggelam. Angin bertiup kencang disusul kemudian hujan deras. Perangkat sound system di sisi panggung ambruk. Konser pun terhenti.
Setelah koordinasi dengan pihak HDTI, konser akhirnya disepakati untuk dilanjutkan di The Tavern and Pub yang kondisinya tidak layak untuk dijadikan venue Medan Jazz Nation, yang konon merupakan rangkaian musik berskala nasional, seperti yang didengungkan di reklame oleh pihak panitia. Suasana panggung yang minim lighting dan tegangan sound system dengan watt rendah membuat kelas perhelatan musik yang disponsori Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Medan itu jauh dari yang diharapkan penonton.
“Benar, Tavern memang dalam tahap renovasi saat ini makanya kondisinya masih seperti ini. Rencananya, September ini akan kita re-launching dengan konsep baru,” ujar Wempi Jovanka, Entertainment Manager HDTI kepada saya beberapa menit menjelang konser usai.
Tak ada memang yang sanggup meramalkan cuaca dengan pasti. Selama sepekan terakhir hujan absen mengguyur Medan. Hari pertama konser pun berjalan dengan baik, dibuka dengan penampilan band etnik lokal De’ Tradisi yang tampil dengan lagu-lagu tribute kepada komposer musik legenda dari Karo, Djaga Depari. Tak ada hujan yang menghalangi jalannya konser hari itu hingga penampilan Gugun Blues Shelter pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB.
Kejadiaan naas yang tak diinginkan oleh semua pebisnis showbiz di mana pun itu patut disayangkan mengapa bisa terjadi. Sempat ada pertanyaan mengapa pihak penyelenggara tidak menggunakan pawang hujan untuk event sekelas Medan Jazz Nation. Sikap percaya diri pihak penyelenggara rupanya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Ketua panitia Medan Jazz Nation 2012, Dedy F. Moningka juga tak kuasa menyembunyikan aura “stress” dari wajahnya. Susah menemukan senyum dari raut wajahnya malam itu. Tak banyak komentar darinya ketika disinggung mengapa kejadian naas itu terjadi.
Beberapa menit menjelang berakhirnya konser yang ditutup oleh penampilan Nita Aartsen (pianis), Yeppy Romero (latin guitar), Harry Toledo (bass), Jeanne Phialsa (drums), Inang Noorsaid (drums), Eugen Bounty (saxophone) dan Tompi (vocals) dengan lagu lawas “Spain”, saya bertemu sosok pria yang akrab disapa Bang Dedy itu. Dia duduk di sendirian tak jauh dari pintu keluar. Tak ada basa-basi dilontarkannya ketika saya menghampirinya.
Saya katakan kepadanya mengenai suasana venue sangat tidak representatif untuk event musik sekelas Medan Jazz Nation. Tanpa ingin menyinggung perasaannya, saya mencoba mengarahkan pembicaraan mengapa tidak ada “plan B” untuk mengatasi hal yang tidak diinginkan saat konser berlangsung. “Hujannya bukan hanya di sini, tapi seluruh kota Medan memang hujan, gimana mau pakai pawang hujan?” ujarnya.
Yah, memang mau gimana lagi? Tak seorang pun yang bisa melawan kehendak alam. Tak ada pula yang mampu menghentikan animo penonton untuk menikmati musik dari musisi-musisi yang bakal tampil malam itu. Mereka berdesakan di antara kursi dan meja yang tersusun rapat-rapat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Medan, Busral Manan, duduk di deretan kursi paling depan, sehingga ia dapat dengan leluasa ke panggung yang sempit. Sesekali ia bertopang dagu dan melemparkan senyum—mengisyaratkan bahwa ia menikmati jalannya konser malam itu meskipun sesak dengan asap rokok dan penonton yang saling berhimpitan.
Malam itu, Medan Jazz Nation telah mencatatkan dirinya sebagai salah satu pertunjukan musik dengan bintang papan atas dengan persiapan yang seadanya. Jazz sudah “digeber”, sayang, malam itu alam enggan bersahabat. Sebuah pertunjukan yang sangat disayangkan. Yeppy Romero sempat melontarkan kekecewaanya kepada saya melalui jejaring sosial Facebook. “Sudah saya bilang tapi tak didengar. Maklum, Medan pakcek,” ujarnya.
Website resmi: www.medanjazznation.com











