Teks: Hani Rosidaini | Editor: Intan Larasati | Foto: Willam Nasution

Sudah tidak bisa disangkal lagi, Indonesia sebagai salah satu bagian dari komunitas global telah memasuki era perdagangan bebas. Adanya berbagai kebijakan baru menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap laju perkembangan perdagangan menjadi lebih luas dan fleksibel. Menjual barang ke luar negeri di zaman sekarang ini bukan hal yang terlalu njelimet dan terbatas seperti dulu. Arena persaingan pun akhirnya kini terbuka bagi siapapun yang memang berani berkompetisi, berinovasi, dan memiliki karakter.
Ngadu Ide (Ngobrol Asik Dunia Usaha dan Ide), sebagai salah satu wadah para entrepreneur dan calon entrepreneur, berusaha mengkomunikasikan gagasan tersebut pada acara bulanannya yang ke-12, tanggal 7 September 2012, di Simpul Space 2, Bandung. Dengan mengundang dua pembicara yang memiliki lanskap bisnis global, Ilham Nirwan dari Marapulai Clothing, Jerman (www.marapulai.de), dan Björn Weßmann dari Global Management Unpad, pihaknya ingin menggerakkan potensi-potensi lokal ke tingkat yang lebih tinggi.

Ilham yang baru menetap di Jerman selama 8 tahun, memaparkan proses dari alasan awal keberangkatan, hingga berani mendirikan usaha dengan benderanya sendiri. Didorong oleh kenyataan bahwa bidang desain lebih diperhitungkan di Eropa, pria yang memang berlatar belakang Desain Produk ITB inipun hijrah dan mencari peluang untuk dikembangkan di sana. Prosesnya tentu tidak mudah begitu saja. Kultur dan selera yang berbeda menjadi hal wajib yang harus dipelajari, selain pengetahuan tentang proses birokrasi dan pengurusan administrasi. Pasalnya, salah satu tantangan berbisnis di Jerman adalah pajaknya yang berlapis, yang jika diakumulasikan bisa mencapai 40-45%, sedangkan pendaftaran merk-nya (tepatnya di Munchen), nominalnya tidak terlalu jauh berbeda dengan Indonesia, berkisar antara 200-1500 Euro. Selain itu, secara umum di Eropa, jika segala produksi dikerjakan di sana, biayanya tentu akan sangat mahal (mesin, pekerja,dll). Maka dari itu, banyak perusahaan terkenal dunia yang mengerjakannya di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan isu bahwa Eropa sedang slowing down? Dari sisi Björn sebagai warga asli Jerman, pandangannya terhadap hal ini cukup optimis. Walaupun memang ada negara-negara seperti Yunani, Portugis, dan lainnya yang tidak memiliki berbagai industri kuat seperti Jerman, namun ketentuan yang menyatakan negara-negara kuat di Eropa harus membantu, membuatnya yakin tiga sampai empat tahun lagi iklim ekonomi di benua tersebut akan bangkit.
Maka kini masalahnya ada pada produk yang harus berdaya saing. Kedua narasumber sepakat bahwa kuncinya adalah menciptakan sesuatu yang memiliki kualitas premium, namun unik sehingga memiliki diferensiasi. MARAPULAI sendiri adalah merk usaha yang berfokus pada pembuatan sepatu handmade dengan desain eksklusif bergaya kasual yang terbuat dari bahan kulit asli. Namanya diambil dari kosakata bahasa Minang, daerah asal Ilham, dan maju dengan label Made in Indonesia. Menurutnya, kita tidak perlu ragu untuk membawa citra negara, karena local value jika diolah dengan baik, justru bisa menjadi nilai lebih, dan akhirnya konsumen akan menilai juga dari kualitas. “Merk SUMATRA aja yang punya orang sana loh. Tapi untuk antisipasi produk-produk Cina dan Bangladesh atau India, bagusnya memang kita target ke kelas atas,” tambahnya.

Jika ingin mengamini tujuan tersebut, maka rencana bisnis pun harus dibuat holistik, melingkupi pula strategi pemasarannya. Dibandingkan dengan Indonesia, maka jurus-jurus marketing di Jerman akan sangat berbeda. Dengan masyarakatnya yang masih berbudaya baca koran setiap pagi, tidak menggilai social media network, proses branding melalui pemasangan iklan dirasa masih jauh lebih efektif, apalagi jika dibantu dengan mengikuti pameran-pameran yang diadakan. Namun jika memang ingin branding di Indonesia juga, tentu penyebaran informasi melalui Facebook dan Twitter akan mendatangkan impact yang jauh lebih tinggi. Hasilnya, walaupun belum lama berdiri, salah satu tipe sepatu Marapulai berhasil masuk ke dalam kategori 140 sepatu terbaik pada suatu ajang seleksi di Jerman.
Di sela-sela talkshow, seperti biasanya rangkaian Ngadu Ide, tak ketinggalan pula sesi Teras Ide dan Unjuk Ide. Pada kesempatan kali itu, diramaikan oleh berbagai brand, seperti dompet kulit AGNIA, Augonchi keychain, keripik Buronan Mitoha, Popula pop-up card, DC Project gifts (@castellanatalia), Aqiqahqu, Zodiac Resto, Candi CCTV, dan yang spesial, yaitu petunjukan musik dari seorang penyanyi muda pendatang baru, Dheandra Adelina, dengan single-nya yang berjudul “Please Berhenti”.

Di akhir pertemuan, kedua narasumber menyampaikan bahwa, jika memang serius ingin bisnis di Eropa, yang penting cari ide unik. Idealnya memang punya koneksi lebih dulu, tapi yang jelas, walaupun keras, tapi kesempatan itu pasti ada.
Sampai jumpa di Ngadu Ide edisi ulang tahun!












