Teks& foto: Willam Nasution
Bandung- Untuk penyelenggaraannya kali ini NGADU IDE (Ngobrol Asyik Dunia Usaha & Ide) menggandeng dua komunitas lain. Mereka adalah Sindikat Kuliner dan Keuken. Kolaborasi itu tercipta karena tema yang diangkat dalam NGADU IDE ke-9 kali ini adalah mengenai bisnis kuliner.
Bukan hanya kolaborasi antar komunitas saja yang baru terjadi pada NGADU IDE kali ini, tapi juga tempat dan waktunya. Yang biasanya digelar di Boemi Nini (BCCF Simpul Space #2) pada malam setiap Jumat pertama di awal bulan, spesial untuk NGADU IDE #9 ini diadakan pada hari Sabtu, 9 Juni 2012, di Bober Tropicana di bilangan Jalan Sumatra. Dan waktunya pun dimulai dari jam 10.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Waktu yang panjang itu diisi dengan berbagai sharing discussion dan juga demo masak. Diskusi yang dipandu oleh Ben Wirawan dari Mahanagari itu di antaranya menghadirkan Aprie dari Reds Dipo, Tito Afrianto dari Mr.Komot Cafe, Ali dari Bebek Garang, dan Jodi Janitra dari Bober Cafe.
Berbagai tips usaha dilontarkan oleh para pembicara tersebut. Di antaranya Aprie dari Reds Dipo memulai usahanya dengan menjadikan teman-teman dan kenalan dekatnya sebagai konsumen awalnya. Selain itu dia juga menyatakan pentingnya agar kita selalu melakukan inovasi rutin dengan menciptakan menu baru ataupun gebrakan lainnya. Juga jangan lupa untuk selalu mendengarkan bagaimana pendapat konsumen.
Sementara itu mengenai masalah lokasi dalam usaha kuliner, Ali dari Bebek Garang berpendapat bahwa baginya lebih baik menyewa tempat yang mahal namun mendapatkan untung, daripada mendapatkan tempat dengan sewa gratis tapi tidak mendapatkan untung.
Sedangkan mengenai persoalan dengan keluhan konsumen, Jodi Janitra dari Bober Cafe mengungkapkan bahwa itu adalah hal yang bagus. Menurutnya kita justru harus senang dengan keluhan yang disampaikan, karena itu berarti ada feedback dari pelanggan kita agar bisnis kita menjadi semakin baik.
Pada satu sesi diadakan juga demo masak yang dilakukan oleh Chef dari RMLegoh dan Little White Cafe, yaitu Om Leon dan Kang Ramdhan. Sehingga para pengunjung bisa juga ikut mencicipi hasil masakan mereka. Bukan hanya itu, di dalam Bober Tropicana juga banyak pengusaha kuliner yang memberikan tester gratis bagi para pengunjung.
Sindikat Kuliner sendiri komunitas yang terdiri dari para pelaku bisnis kuliner makanan ringan, makanan berat, dan minuman non-franchise. Sindikat Kuliner memiliki visi untuk menduniakan kuliner kreatif yang ada di Bandung. Ada 35 lebih nama usaha kuliner yang terdapat dalam Sindikat Kuliner dan komunitas itu dijadikan sebagai wadah untuk bertukar informasi. Bahkan mereka saling membantu pada saat pelaku bisnis kuliner lainnya yang mengalami kesulitan. Siapapun bisa bertanya mengenai kuliner di Bandung pada akun Twitter mereka @SindikatKuliner.
Lain lagi dengan Keuken, meski masih bergerak dalam bidang kuliner tapi Keuken membawa misi untuk mengklaim ruang publik. Dengan cara memasak dan makan, dua kali sudah mereka menyelenggarakan festival makanan di kawasan perkotaan Bandung. Untuk festival itu mereka bahkan sampai menutup jalan. Yang pertama diadakan di Jalan Asia Afrika Timur sementara yang kedua di Jalan Saparua. Cek saja keseruan aktivitas mereka di keukenbdg.com.
Bandung memang gudangnya bisnis kuliner, berbagai inovasi kuliner tidak pernah surut diciptakan silih berganti. Sebuah semangat yang sebaiknya kita jaga agar para pengusaha kuliner dapat terus tumbuh menjadi para pengusaha yang handal. Dan tentunya semua itu dilakukan dengan cara yang menyenangkan: makan!













