Pameran Natamorta yang diselenggarakan di Gedung PGN, Jalan Braga No 40 Bandung, pada Kamis, 21 Februari, hingga Sabtu, 23 Februari 2013, menyajikan sejumlah karya dari mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB. Karya-karya tersebut hadir dengan beragam rupa mulai dari ilustrasi, lukisan, instalasi, hingga video art. Natamorta merupakan sebuah kata yang dibentuk dari kata ’natal’ yang berarti berkaitan dengan kelahiran, mulainya proses kehidupan, dan ‘mortal’ dengan berakhirnya proses kehidupan. Natamorta memamerkan lebih dari 100 karya mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITB yang berupa karya instalasi, grafis, branding, advertising, interaktif, dan multimedia. Juga menghadirkan pameran karya delegasi dari Alumni DKV ITB, karya dari universitas lain, dan karya kolaborasi mahasiswa DKV dengan non-DKV.
Paling menarik di lantai dua, yang menjadi karya-karya mahasiswa DKV ITB. Karya-karya yang terpapar dalam beberapa ruangan tersebut, seolah membentuk siklus kehidupan mulai dari lahir (awal) hingga mati (akhir). Karya-karya dari masing-masing fase kehidupan itu merepresentasikan bagaimana si seniman menafsir salah satu fase kehidupan tersebut. Pengunjung pun dipersilakan masuk, dibebaskan apakah memilih masuk dari ruang lahir (awal) yang berjalan maju atau masuk dari ruang mati (akhir) yang berjalan mundur.
Ada beberapa fase kehidupan dalam ruang pamernya yaitu Birth, Juvenille, Transition, Mature, Experienced, dan End. Begitu masuk ruang Birth, kita dihadapkan pada sesuatu yang merepresentasikan tentang ‘awal’ atau ‘lahir’ seperti instalasi yang terbuat dari telur yang berjajar membentuk kata ‘Alive’ dengan sosok seekor ayam. Sedangkan pada ruang berikutnya, yaitu ruang Juvenille, memamerkan beragam memori tentang masa kecil dan kanak-kanak terlihat mendominasi. Pada ruang ini pun lebih banyak karya yang lebih berwarna dan bernuansa ceria seperti masa kanak-kanak yang senang berimajinasi dan bermain. Pada ruang ini ditampilkan memori-memori masa kecil, seperti karya yang menampilkan tokoh-tokoh kartun yang memang biasa menemani masa kecil setiap Minggu pagi.
Pada ruang Transition, terlihat pada fase remaja yang penuh pergolakan identitas dan pencarian jati diri. Karya-karya ini ingin merepresentasikan keresahan khas remaja seperti itu. Beragam nilai-nilai pemberontakan coba diperlihatkan sebagai suatu karya tersendiri. Seperti kata ‘Transition’ sendiri, karya-karya ini ingin merepresentasi suatu perubahan nilai, dari kanak-kanak menjadi remaja. Salah satunya ada pada karya yang menampilkan ilustrasi gaya rambut, fashion punk, dan graffiti. Ketiga karya itu terasa paling menonjol karena tak hanya membicarakan soal “fase”, tapi memperlihatkan kewajaran pada ‘Transition’ yang selalu terjadi pada manusia ketika menginjak remaja. Dan nilai pemberontakan selalu menjadi sesuatu yang khas ditemui.
Pada fase berikutnya, ruang Mature juga memperlihatkan “perubahan” dari remaja menuju fase dewasa yang sudah seharusnya dipenuhi nilai kematangan dan tanggung jawab. Seperti pada satu karya foto yang menampilkan keelokan seorang perempuan dewasa secara fisik, ilustrasi kartun perubahan sosok manusia yang ditampilkan secara kronologis dari tahun ke tahun, hingga suatu karya instalasi yang terdiri dari ratusan bahkan ribuan kertas post-it yang membentuk emoticon “smiley” dan bertuliskan “I’m Busy Reaching My Dreams”. Karena pada fase seperti inilah seorang manusia sudah membentuk jati diri hidupnya dan menetapkan tujuan hidupnya. Setidaknya itulah yang saya rasakan begitu melihat karya instalasi yang banyak bertuliskan curhat yang tertempel di ribuan kertas post-it tersebut.
Paling menarik juga karya ilustrasi yang menampilkan Kala, yang bercerita tentang proses pendewasaan manusia yang terbagi ke dalam empat tipografi huruf yaitu “Pagan”, “Umbra”, “Pilgrim”, dan “Hanabi” secara berurutan yang ditempel dalam sebuah cermin. Di tengah kata-kata tersebut ada sosok “Mono” yang menampilkan hubungan seorang individu dengan Tuhan. Pada fase inilah hubungan pendewasaan secara spiritualitas.
Masuk ke ruang berikutnya, fase inilah ketika manusia sudah menemukan jalan hidup dengan segala pengalaman yang telah diraihnya. Karya video art animasi cukup menarik memperlihatkan kerisauan eksistensial manusia yang tengah berada pada fase ini. Beberapa karya ilustrasi dan lukisan yang lebih banyak memperlihatkan justru kegelisahan dan kerisauan, dengan banyaknya ilustrasi dan lukisan yang imajinatif dan abstrak seperti pada karya lukisan tiga perempuan sambil membentuk tulisan “Ahimsa”. Juga ada karya topeng-topeng local yang ingin memperlihatkan jati diri berjudul “Whisper of the Masks”.
Pada ruang terakhir yaitu ruang “End”, di sinilah beberapa seniman menafsirkan persoalan “kematian” atau “akhir dari segalanya”. Menarik sekali karya-karya di ruang ini karena variasi karyanya mulai dari instalasi, patung, hingga ilustrasi. Seperti patung kuntilanak yang berdiri di jendela seolah dapat mengagetkan orang-orang yang melihat dari luar gedung. Juga ada ilustrasi tengkorak yang memang banyak dianggap sebagai ikon kematian. Kemudian ada instalasi ranting tanpa daun yang menggambarkan kehampaan dari ketiadaan. Ada juga karya ilustrasi yang menampilkan suatu proses reinkarnasi. Berbagai tafsir soal “Akhir” pun sangat menarik dicermati. Akhir dari siklus kehidupan pun berakhir di ruang ini.
Meski pada beberapa karya kurang kuat secara konsep, namun karya-karya mahasiswa ini adalah sebuah proses berkarya yang boleh jadi merupakan refleksi atau cerminan dari fase-fase kehidupan menurut persepsi mereka sendiri secara kreatif.
—
Foto: Idhar Resmadi | Editor: Intan Larasati















