“Mentalism in one of the specific Art of Magic which is more known as the “Mental Magic”. In this part of magic, there is no magician, however we call the entertainer as a mentalist. Like no other type of magic, mentalism deal with minds! In this area we perform a psychological game instead of a trick. Which mean that inside of the show itself, you will see a full hour of pure entertainment about the reality of the Mind Power…”
Kalimat pembuka yang menampilkan panggung kosong dan sebuah top light ala adegan awal Mr. Bean ini membuka The Mentalist, show tunggal seorang Deddy Corbuzier. Sebuah pertunjukan yang bisa dibilang eksklusif untuk kategori sulap di Indonesia, di mana mulai dari pemilihan tempat, perlakuan terhadap penonton hingga sistem pertunjukannya mengadopsi sistem teater. Sesuai waktu yang dijanjikan, gong pertunjukan dimulai dibunyikan tepat pukul dua siang (Sabtu, 5/1) dan 11 pagi (Minggu, 6/11) untuk lalu ditutup 10 menit kemudian. Beberapa penonton yang terlambat tidak diijinkan masuk oleh panitia hingga waktu rehat. Di dalam gedung, berulang-ulang diumumkan untuk tidak mengoperasikan alat elektronik dalam bentuk apapun, serta tidak boleh berbicara sepanjang show. Sebuah kerja keras dari panitia untuk menegakkan hal ini, mengingat tabiat penonton Indonesia yang tidak terbiasa mengapresiasi pertunjukan macam ini.
Pertunjukan selama tiga jam pun dimulai. Mulai dari permainan melempar pisau, menebak pikiran dengan mata tertutup, dan sekitar 8 permainan pikiran lain khas Deddy Corbuzier mewarnai Gedung Kesenian Jakarta. Deddy Corbuzier benar-benar paham bagaimana caranya membuat orang tersentuh, dengan menceritakan terlebih dahulu kisah almarhum bapaknya sebelum dia bermain dengan menebak nama kerabat seorang penonton yang sudah meninggal. Tidak hanya itu, perut penonton dikocok dengan aksi stand up comedy selama 10 menit tentang uniknya mahluk yang bernama wanita. Sebuah showmanship yang ternyata berhasil disajikan secara premium, tidak seperti derajat yang diterima selama ini sebagai sub-acara, atau bahkan sajian pengiring makan sebuah resepsi.
Ketua panitia, Halim Sugiarto menjelaskan hal tersebut, “Yang kami ingin adalah pertunjukan berkelas dengan apresiasi sebesar-besarnya dari penonton. Kami telah menyiapkan gedung pertunjukan terbaik, persiapan yang matang, dan dirancang sebaik mungkin. Kita tidak ingin kenikmatan penonton yang datang tepat waktu terganggu oleh kedatangan penonton yang terlambat. Di dalam juga kami tidak memperbolehkan foto dengan flash, makan, ataupun minum. Kami ingin ini menjadi santapan bagi pikiran dan hiburan intelek, dan bukannya seperti pagelaran sulap di mall yang bisa dilewati begitu saja”. Seperti apa sajian istimewa yang dimaksud?
Yang pertama adalah lokasi. Pilihan jatuh pada Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) karena selain mendapat rekomendasi dari beberapa orang, Deddy punya ikatan khusus dengan bangunan ini.
“Waktu kecil saya lihat show sulap di TV, dan saya sangat ingin memiliki pertunjukan seperti itu. Sejak SMA saya bahkan sempat menabung untuk menyewa GKJ dan membuat show saya sendiri. Tapi tentu saja cita-cita itu tidak pernah tercapai dan sempat terlupakan. Sekarang, pada saat saya sempat menarik nafas di tengah kesibukan saya, saya merasa ini adalah saatnya.”
Sementara, di sektor penjualan tiket, pihak panitia punya beberapa jalur untuk mendistribusikannya. Harga tiket yang tidak murah (300 ribu hingga satu juta rupiah) di-share ke beberapa tiket box, seperti www.rajakarcis.com, kafe Melly’s Garden, dan Dailycious, hingga pemesanan langsung lewat kontak yang dipromosikan di website dan jejaring sosial. Seperti halnya dengan konser-konser penyanyi, tanda terima ditukar dengan tiket H-2 untuk mencegah pemalsuan dan ditribusi tempat duduk yang efektif. Sesampainya di lokasi, ada meja registrasi untuk setiap kelas penonton, mulai dari VVIP, VIP, festival, dan balkon. Ada juga meja khusus yang menangani pers, pemenang kuis, dan undangan. Setelah tiket mereka dicek, usher akan mengantar langsung ke kursi yang dimaksud. Selain dari pihak panitia, pihak GKJ juga menyiapkan sejumlah tenaga yang sangat cekatan membantu proses penerimaan tamu.
Rehat setelah 15 menit juga dipikirkan dengan seksama. Ruang tunggu VVIP yang dibedakan dengan penonton lainnya, serta petunjuk waktu rehat dari voice over dan para usher membuat sekitar 400 penonton di tiap pertunjukan berlaku tertib dan memanfaatkan 20 menit ini untuk menyegarkan diri atau melemaskan otot. Dan sama seperti awal acara, gong paruh kedua dibunyikan.
“Ini bukan bioskop di mana orang bisa keluar masuk seenaknya, tidak ada yang menegur jika selama pertunjukan penontonnya memainkan telepon selular, atau memakai sandal dan kaos oblong. Anda mungkin membayar untuk tiketnya, tapi kami mau Anda juga menghargai sesama audiens, menghargai aturan demi tercapainya apresiasi maksimum, dan tentu menghormati performernya,” jelas Halim.
Press conference diadakan setelah show hari terakhir, di mana sebelumnya Deddy keluar dari ruang tunggu untuk menyapa para penonton. Hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh pria berkepala plontos ini. Terlihat dia sangat lega dan puas akan pertunjukan yang dilakukannya sehingga dengan ceria dia berbaur dengan para penonton di depan gedung pertunjukan.
Delapan ratus penonton selama dua kali show rasanya tidak seberapa untuk seorang celebrity magician yang biasa tampil di depan ribuan orang dan ditonton jutaan pemirsa di TV. Tapi ada kebanggaan tersendiri bagi Deddy, seperti yang disampaikannya pada pers di akhir acara.
“Project ini bukan untuk mencari uang. Bahkan jika pengunjungnya cuma dua orang pun saya tetap siap tampil di atas panggung. Tapi buktinya apresiasi masyarakat sangat baik. Dan ini yang pertama kalinya seorang pesulap punya show tunggal macam ini di Indonesia. Selain industri musik, comedian, dan entertainment lain, selama 15 tahun, saya cuma mau ngebuktiin, I can stand among the giants!”
—–
Foto: Adrian Martinus | Editor: Intan Larasati
















