Teks & foto: Tonggo Simangunsong
Medan – Membicarakan warisan budaya dan kesenian tradisional Batak menjadi menarik belakangan ini dikarenakan adanya isu klaim negara tetangga Malaysia atas Tortor dan Gordang Sambilan—keduanya merupakan warisan budaya Batak di Sumatra Utara. Akhir pekan kemarin di Medan, wacana mengenai salah satu warisan budaya yang tak bisa dilepaskan dari Batak, yakni Ulos, kembali mengemuka dalam sebuah rangkaian acara yang diberi tajuk “Simfoni Bagi Sang Raja” di Santika Dyandra MICC, Jumat 22 Juni 2012. Rangkaian acara ini digelar untuk mengenang 105 tahun wafatnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII.
Berbagai kegiatan dirangkai dalam event yang digagas bersama Forum Sisingamangaraja XII bersama Santika Dyandra dan perancang kain ulos, Torang Sitorus. Di antaranya, Talkshow Ulos & Budaya Batak, Pameran Budaya Batak, Gondang Batak Toba beserta tarian Batak, peragaan busana, pameran foto bertema Batak oleh Jhonny Siahaan dan drama musikal berjudul “Sisingamangaraja Sian Bakkara” dan lelang ulos.
Salah satu dari rangkaian acara yang menarik untuk diikuti ialah pada saat digelarnya talkshow yang membahas keberadaan ulos pada masa kini. Hadir sebagai narasumber Torang Sitorus juga cicit terakhir Sisingamangaraja XII, yaitu Raja Tonggo Tua Sinambela. Tak lupa, Torang sengaja mengundang seorang wanita dari kalangan sosialita Medan, Evvie Bobbie, yang berbicara ulos dari sudut pandang ulos dan ekonomi kreatif.
Ada beberapa poin menarik yang bisa disimpulkan pada talkshow yang mengundang sejumlah media itu. Yang pertama ialah bahwa esensi ulos sebagai warisan budaya, yakni ulos sebagai bagian dari ritual adat istiadat dan sebagai fashion. Torang Sitorus memiliki pandangan yang berbeda dengan Raja Tonggo Sinambela mengenai esensi ulos.
Ulos sebagai Ritual Adat
Menurut Tonggo Tua, sejak ratusan tahun silam masyarakat Batak menjadikan ulos bukan hanya sebagai pakaian sehari-hari saja. Namun, juga sebagai penanda identitas. “Ulos adalah identitas, di antaranya sebagai tanda penghormatan kepada Raja Hula-hula (besan), Raja Dongan Tubu (saudara semarga), Raja Dongan Sabutuha (saudara sedarah),” jelasnya.
Selain sebagai simbol identitas dan penghormatan, ulos juga memiliki banyak makna. Seperti yang dituangkan seorang peneliti asal Belanda, Sandra Niessen, yang telah meneliti ulos selama 30 tahun dan ia catatkan dalam sebuah buku berjudul “Batak Textile”. Raja Tonggo berpegang pada filosofi Batak, bahwa sejak lahir ulos telah melekat dalam diri Batak. Sejak lahir, misalnya, seorang Batak diberi ulos paroppa (ulos untuk menggendong), yang di dalamnya terdapat doa dan harapan agar kiranya si anak hidup sehat dan diberkati.
Masih banyak lagi jenis ulos yang apabila dimaknai satu persatu, akan memberikan makna satu-persatu pula. Ini dapat digambarkan ketika dipertunjukkannya sebuah prosesi pembuatan ulos lewat gerak tari (koreografi) dan alunan musik Batak menggunakan alat musik tiup sarune dan tolatoit oleh Hardoni Sitohang.
Hardoni Sitohang memperdengarkan musik yang mengalun dengan nuansa kesedihan. Ini tidak lepas dari maknanya. Hardoni mengisahkan sebuah jaman di mana Batak pada saat itu masih menganggap kegiatan bertenun sebagai bagian dari prosesi rohaniah.
“Ini adalah satu cerita yang mengangkat kisah seorang ibu yang bertenun. Dalam Batak, ibulah yang biasanya bertenun, sementara suami mencari bahan warna ulos (terbuat dari tumbuh-tumbuhan dan akar pohon – Pen) ke hutan. Proses pencarian ini disebut ‘harabu’. Suatu ketika, saat pencarian sang suami meninggal dan tidak ada lagi yang ‘marharabu’. Akhirnya, sang ibu yang pergi ke hutan dan ia juga yang bertenun,” jelas Hardoni, musisi etnik Batak yang juga dosen musik di Fakultas Seni Universitas Negeri Medan (Unimed).
Hardoni menerangkan, karena proses bertenun adalah sebuah prosesi rohaniah, maka tiap ulos memiliki makna filosofi yang dalam—tergantung bagaimana sang penenun menjiwai prosesi itu. Bisa dibayangkan hasil tenun yang ditenun dengan kesedihan, maka ulos itu akan memiliki arti yang sangat dalam bagi penenunnya. Begitu jugalah hakikatnya tiap ulos, ia memiliki makna yang apabila ditelisik ke akar pembuatannya, maka akan ditemukan filosofi yang beragam dan kaya makna.
Ulos sebagai Fashion
Meski dipertanyakan apakah mendesain ulos ke motif kontemporer untuk keperluan fashion akan mengaburkan makna filosofinya, Torang berkeyakinan apa yang ia lakukan adalah sebuah upaya pelestarian akan sebuah warisan budaya Batak yang begitu kaya nilainya.
Ia juga menguatkan argumentasinya dari sudut pandang ekonomi kreatif. Menurutnya, dengan membuat modifikasi ulos sebanyak-banyaknya ke dalam fashion, berarti telah turut membantu kehidupan perekonomian ribuan penenun di Sumut.
“Saya begitu bangga karena desain ulos saya terpilih sebagai nominasi dalam Unesco Award tahun ini. Ini merupakan apresiasi kepada warisan budaya Batak,” ujar Torang. Pada kesempatan itu ia memperkenalkan kain ulos dari lima puak Batak yang ada di Sumut, yakni Toba, Simalungun, Mandailing (Tapanuli Selatan), Phakpak Barat, dan Karo. Semuanya memiliki keunikan masing-masing meski di sisi lain memiliki kesamaan motif kain tenunan, yakni ulos.
Namun, sempat pula disinggung bahwa upaya Torang sebenarnya bukanlah hal baru, jika berbicara mengenai upaya promosi. Karena ulos sebenarnya bukanlah warisan yang wajib dipromosikan hingga seluruh dunia agar ia menjadi eksis. Sebaliknya, ulos telah eksis sejak ratusan tahun dan telah menjadikan dirinya unik dengan kekayaan maknanya sendiri. Ia juga telah menguatkan entitas Batak yang kuat. Tak heran pula bila Sandra Niessen begitu tertarik meneliti ulos hingga ke akarnya.
Yang ingin ditekankan Torang sebenarnya ialah bahwa untuk menjadi bagian dari fashion, ulos harus serta merta pula menjadi industri kreatif, di mana ia harus masuk ke ruang-ruang pesta yang mungkin glamour. Sebagai fashion, ia menginginkan agar ulos tak hanya dipakai oleh Batak dan tidak pula hanya untuk adat. “Biarlah para penatua adat yang bicara jika bicara ulos sebagai adat,” katanya.
Malam itu, ulos memang sedang diupayakan agar ia masuk ke kalangan sosialita dan kalangan berduit. Sejumlah tokoh Sumut, termasuk Ketua Dekranas Sumut Fatima Habibi Syamsul Arifin, mantan Sekdaprovsu RE Nainggolan dan sejumlah kalangan pengusaha turut menghadiri lelang ulos yang digelar pada malamnya.
Harga ulos yang tadinya diharga di pasar tradisional dimulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu, pada lelang itu, kain-kain ulos Torang dihargai dengan harga jutaan rupiah. Mengenang “Sang Raja”, malam itu, pun menjadi glamour. Dan, yang pasti, ulos-ulos itu dipersembahkan untuk mengenang wafatnya “Sang Raja”. (*)











