Teks & foto: Adrian Martinus
Salah satu perhelatan sulap terbesar di Asia kembali digelar untuk keenam kalinya. International Magic Extravaganza Malaysia diselenggarakan selama tiga hari (8-10 Juni 2012) di kota Subang, sekitar 30 km dari Kuala Lumpur. Para pesulap dari seantero Asia, termasuk Korea, Taiwan, Jepang, dan Indonesia pun memenuhi Mall Parade, tempat ajang ini dilangsungkan.
Venue-nya sendiri seperti atrium mal pada umumnya, namun dengan setting panggung yang dibangun khusus untuk sulap. Tertutup dari samping dan atas, dan dinding serba hitam dengan kedalaman sekitar 4 meter. Tidak dibiarkan gelap, tata cahaya dari dalam dan depan pun mewarnai isi panggung dengan sempurna. Disediakan berbagai kebutuhan lighting, termasuk monotone dan flash untuk kebutuhan efek sulap yang akan ditampilkan. Tiap performer main di atas karpet yang bisa segera ditarik keluar panggung, karena sulap yang dipertandingkan banyak menggunakan confetti, ratusan lembar kartu, dan properti kecil lainnya. Kursi-kursi plastik digelar di depan panggung, dengan karpet di bagian tengah untuk anak-anak duduk. Setting yang cukup bersahabat untuk event gratis bagi publik seperti ini.
Empat puluh satu kontestan, termasuk 17 kontestan kategori junior, tampil selama tiga hari event ini berlangsung. Wakil-wakil dari China, Korea, Jepang, Malaysia, Taiwan, Singapura, dan Thailand unjuk gigi di depan dewan juri yang diketuai Leow Fee Loong dari Malaysia. Indonesia sendiri diwakili oleh Maxi (Jakarta), Steve Marchello (Bandung), dan kolaborasi Denny Darko (Bandung) dengan Lion Belmont (Bali). Di lini junior, Rama Belmont dan Ihsan Ramadhani ikut ambil bagian. Acara semakin meriah dengan munculnya banyak pesulap dengan prestasi internasional seperti Shawn Farquhar sang Grand Prix World Champion, Do Ki Moon dari Korea, duo komedi Caramel Machine dari Jepang, dan sebagai pertunjukan pamungkas, Mikael Szanyiel dari Perancis dengan rutin konduktornya yang sangat luar biasa hebat!
Juri-juri tamunya sendiri tidak kalah heboh dengan deretan bintang tamunya. Eric Eswin, Presiden Federation Internationale des Societes MAgiques (FISM), yang merupakan olimpiade sulap paling prestisius di dunia, hadir selama tiga hari itu. Yang unik, pada kata sambutannya pria asal Belanda itu berkata, “Saya hanya bisa sedikit bahasa Indonesia, karena saya lahir di Jakarta. Jadi untuk seterusnya saya akan bicara bahasa Inggris”. Meskipun dia berada di Malaysia, tapi dia berbahasa Indonesia. Legenda sulap China, Dai Wuqi, dan legenda sulap Jepang, Fukai, juga duduk di bangku kehormatan sebagai juri tamu.
Seperti pertandingan seni pertunjukan lainnya, yang dinilai di sini selain kategori standar showmanship, kostum dan kerapihan, ada juga yang spesifik berkaitan dengan sulap. Efek magic, skill, koreografi, dan originalitas juga menjadi poin penting yang dinilai para juri. Poin-poin yang disebut terakhir mungkin adalah yang menjadi hambatan akan kiprah pesulap Indonesia di ajang dunia. Setelah bincang-bincang dengan para pemenang dan bintang tamu, rata-rata memainkan satu permainan orisinal saja selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang seumur hidup mereka hanya memainkan permainan yang sama! Bayangkan dedikasi dan kerja keras, serta kesempurnaan yang diraih. Sementara di Indonesia, magician masih haus untuk memainkan sesuatu yang baru terus-menerus, tanpa adanya pendalaman dan pemahaman terhadap sebuah permainan. Apalagi bicara soal originalitas, masih banyak yang hanya meniru rutin-rutin pesulap luar yang sudah jadi. Salut buat Steve Marchello dan Maxi yang konsisten berfokus pada sebuah rutin panggung dengan totalitas yang tidak main-main.
Acara berlangsung dengan meriah, terutama di hari terakhir, di mana para bintang tamu utama juga naik panggung dan memukau nyaris seribu orang yang berdesakan dan tidak beranjak dari tempat duduk mereka dari pukul 11 siang hingga lima sore. Wakil Indonesia, Maxi, Steve, Darko, dan Belmont sayangnya tidak mampu menembus babak final. Tapi pada saat pengumuman pemenang, ada sebuah kejutan yang menggembirakan. Kolaborasi Denny Darko dan Lion Blemont mendapat penghargaan Outstanding Award, bersanding dengan Special Awards Audience Favourite dan dua penghargaan khusus lainnya. Sulap yang ditampilkan memang kental dengan budaya Bali dan Jawa, disajikan dengan gaya teater dan audio mixing yang baik membuat juri-juri jatuh cinta pada penampilan yang sangat beda ini.
Selain pertandingan dan special show oleh bintang tamu, digelar juga magic lecture dan magic bazaar. Para distributor alat sulap menggelar barang dagangannya. Dari India, Malaysia, Jepang, Thailand dan Indonesia ramai menjajakan alat sulap kepada pengunjung mall dan magician yang memang datang dari manca negara untuk menyaksikan acara ini. Distributor alat sulap online terbesar di Indonesia, Raja Sulap, dan ayah dari Rizuki, Mr. Handi, juga ikut menggelar barang dagangannya di sana. Sebuah event “tempelan” yang pas dengan tema acaranya.
Rasa kagum dan miris menghadiri event yang bisa dibilang merupakan event sulap terbesar di Asia ini bercampur-aduk. Pertama, mal tempat acara ini diadakan tidaklah lebih besar, bagus dan ramai dibandingkan dengan mal-mal yang ada di Jakarta. Kedua, Malaysia bisa membuat ajang sulap menjadi event yang menarik wisatawan manca negara hingga jauh-jauh datang ke Malaysia, sebagai daya tarik wisata yang bahkan tidak melibatkan tema budaya atau landmark bersejarah. Dan yang terakhir, sebagai tuan rumah, magician Malaysia ternyata tidak lebih hebat dibandingkan dengan pesulap Indonesia, tapi kiprah mereka bisa menerjang dunia internasional. Mudah-mudahan, para pesulap kita, yang sebenarnya termasuk magician dengan bayaran termahal di dunia, bisa segera menemukan tantangan yang terbaik untuk mengharuman nama bangsa di kancah internasional. Selamat buat Denny Darko dan Lion Belmont! (*)











