Cinta memang suatu nilai yang memiliki kekayaan universal. Teater Taraksa berupaya memperlihatkan suatu perjuangan untuk mendapatkan cinta melalui suatu pertunjukan yang minim dialog dan justru banyak dipenuhi adegan-adegan musikal. Itulah cerita yang ditampilkan dari Pergelaran kelima Teater Epik yang banyak menampilkan para mahasiswa ini.
Teater Taraksa yang ditampilkan di Gedung Dago Tea House pada Rabu (27/2) lalu mampu menyedot perhatian penonton sehingga tiket yang dijual pun sold out. Pergelaran dimulai pukul tujuh malam dan dimulai narasi yang menjadi bangunan cerita Taraksa. Pertunjukan Taraksa hadir dalam kesunyian dialog dan penuturan cerita melalui gerak tubuh, suara musik, dan juga gerak artistik. Dalam keterangan pers, Teater Taraksa ingin mendobrak pertunjukan teater yang lebih berani dan responsif. Lewat pertunjukan yang minim dialog, misalnya. Penonton pun dijejali berbagai kemungkinan tafsir dari gerak tubuh seperti rasa senang, rasa sedih, atau pun aksi pertarungan. Tafsir-tafsir gerak tubuh itu lah yang memperkuat kekayaan cerita Taraksa bahwa pesan bisa hadir dari segala medium – termasuk tubuh.
Kemudian medium panggung pun coba diperluas tidak hanya terbatas pada aturan porsenioum, posisi duduk penonton ditata sedemikian rupa sehingga memberikan ceruk lebih bagi keseluruhan komposisi artistik yang bertujuan demi membangun wahana bagi para penonton untuk turut ikut menjadi bagian dari aksi pertunjukan. Seperti ketika adegan pertaruangan dimana para aktor berlari-lari memutar tempat duduk penonton.
Diceritakan bahwa Taraksa adalah sebuah legenda yang terlupa. Kisah tentang pemuda yang pergi menentang langit untuk menjemput kembali wanita yang dicintainya, Chiandra yang telah pergi ke ujung langit. Yang tersisa hanyalah penyesalan dalam diri Taraksa. Penyesalan untuk tidak menyambut ajakan tarian dari sang pujaan. Penyesalan untuk tidak memperjuangkan perempuan pujaannya sebelum kini semua telah pergi dan tiada. Penyesalan itu yang kemudian menjadi energi Taraksa bahwa semuanya belum usai. Atas petunjuk Kepala Desa, Tarpa Ti, Taraksa pun berupaya melakukan perjalanan jauh menuju ujung langit untuk menjemput kembali Chiandra. Lapis demi lapis langit menjadi awal petualangan itu dimulai.
Lapisan langit pertama, Lembah Gelap Gulita adalah sebuah gua gelap. Taraksa pun mendapatkan suatu nasihat bermakna oleh Sang Khadoyta untuk tidak terlena pada cahaya karena melihat tak selalu berarti tahu. Lapisan langit kedua, hanya terdapat Taraksa dan Sang Purna, seekor kupu-kupu dengan jelmaan Cermin Aurora. Penonton disuguhi video kupu-kupu di atap gedung dengan beragam warna-warnanya yang “memabukkan”.
Pada lapisan langit berikutnya, langit ketiga inilah Taraksa bertemu dengan Sang Drumdaara dan bercerita soal kebijaksanaan dunia dan hati yang percaya. Setelah berbekal indera langit, pengetahuan, dan kebijaksanaan, lapisan langit selanjutnya yang menanti Taraksa adalah sebuah perang yang terus berkelanjutan. Sebuah pertempuran untuk mati dan hidup sekali lagi untuk berjuang esok hari. Tapi kali ini lain, bersama Taraksa mereka akan mati tanpa perlu bangkit kembali.
Pada lapisan langit kelima, Taraksa bertemu dua kembar yang tak pernah menatap satu sama lain di sebuah kota yang terbakar. Terpisahkan pagar besi yang menjulang, Taraksa memanjat lalu menurunkan Sang Pagar, dan mempertemukan sang kembar dan membiarkan kedua kota berhenti membara.
Akhirnya, Taraksa berhasil mencapai kaki langit terakhir. Tak ada suatu “konflik” yang memanas. Taraksa hanya berbicara, bercerita, dan bermain kata-kata. Meski begitu setiap kata atau jawaban terlontar dapat sekejap meruntuhkan langit dan hempaskan segala usaha Taraksa menuju kesia-siaan. Inilah langit terakhir yang paling mencekam. Taraksa yang geram yang menyadari bahwa marabahaya sedang bersembunyi dibalik lidahnya sendiri.
Segala perjuangan Taraksa tak berujung manis. Chiandra pun tak ujung kembali dan hanya Taraksa yang menyesali diri. Seperti pada adegan terakhir, di mana Taraksa yang berimajinasi jika saja ia menyambut ajakan sang pujaan hati untuk menari maka tak akan ada penyesalan dalam diri.
Pertunjukan selama hampir dua jam itu memberikan sedikit hiburan yang menarik dari beragam olah tubuh dan aksi musik yang begitu banyak mendominasi. Meski kisah cinta tak selalu berujung manis, kemasan Teater Taraksa mampu memperlihatkan kerisauan dan kekusutan cinta yang mampu disampaikan tanpa kata-kata, karena sepanjang pertunjukan pun saya tak begitu terlalu mendengar kata “Cinta” diucapkan.
—
Foto: Dok. Tim Taraksa | Editor: Intan Larasati


















